Home / Populer / Belum Punya Kantor, DPP Relawan Jokowi Jual Kaos

Belum Punya Kantor, DPP Relawan Jokowi Jual Kaos

Bagikan Halaman ini

Share Button

2Fitri, Relawan Jokowi dari Pangkalan Bun (Kalteng) menjual kaos di Rakernas PDIP 6-8 September 2013 a Rp 50 ribu untuk dana operasional.
 

moral-politik.com. Dewan Pengurus Pusat (DPP) Barisan Relawan Jokowi Presiden 2014 (Relawan Jokowi atau Bara JP)  belum punya kantor sendiri. Rapat-rapat yang diselenggarakan untuk berbagai aktivitas menumpang di kantor seorang aktivis mahasiswa 1974.

“Ide dasar kami adalah perubahan, jadi tak kenal Jokowi, apalagi partai. Kami hanya nasionalis yang berserakan. Maklum saja kalau belum punya kantor,” ujar Ketua DPP Bara JP, Sabat Mangadu di Jakarta Selasa (10/9/2013).

Bara JP Sumatra Utara (Sumut) di Medan, sudah punya kantor, disumbangkan dokter spesialis mata, Kristo Sinambela, di Jln. Stella 1, Kompleks Kejaksaan, Padangbulan, Medan (rumah dengan luas 600 m2).

Kantor Bara JP Kalimantan Tengah (Kalteng) di Pangkalan Bun, disumbangkan seorang petani setempat, Ferry Alfiand Tjung Phin, Jl Pasir Panjang dengan luas 1.200 m2 (3 lantai), dengan parkir luas hingga puluhan mobil.

Efendy Naibaho, wartawan senior di Medan, juga siap menyumbangkan markas untuk Bara JP di Medan dan di Pangururan (Kabupaten Samosir). Di Jayapura, Indarto Hanaya menyediakan rumah menjadi markas, sama dengan di Kupang, Anton E Haba.

“Kantor-kantor Bara JP di berbagai daerah, kalau bukan di rumah pengurus, di warung kopi. Di Surabaya, komunitas Relawan Jokowi nongkrong di Kampung Ilmu, pusat buku loak,” tambah Ketua DPP Bidang Aksi, Syafti Hidayat.

DPP Bara HP, mencari pinjaman rumah di bilangan Jakarta Timur (Cawang) atau sekitar, supaya dekat dengan akses semua jenis kendaraan.

“Kalau ada yang mau sumbang, hubungi kami di [email protected],” kata Syafti.

Dr Thomas Sunaryo MSi, Relawan Jokowi yang membidangi kajian sosial, berharap kendala kantor jangan membuat Relawan kecil hati.

Baca Juga :  Kontroversi Kantor Bupati TTS

“Gerakan tetaplah sebuah gerakan,” ujar Thomas, pengamat dari FISIP Universitas Indonesia (UI).

Dengan kegiatan rutin menyelenggarakan kursus teknik menulis dan teknik membaca buku secara gratis, Relawan memerlukan ruangan yang bisa menampung 35 orang duduk lesehan.

Di dinding kantor, Syafti mengungkap hayalan kalau sudah punya kantor, akan membuat tulisan banner, semboyan Bara JP: “aku berpikir tentang sebuah gerakan, tapi mana mungkin kalau diam.” (Wiji Thukul)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button