Home / Populer / Benny Memilih Golkar, Jembatan 2017. Mengapa Tidak PDIP Saja?

Benny Memilih Golkar, Jembatan 2017. Mengapa Tidak PDIP Saja?

Bagikan Halaman ini

Share Button

boni 2

 

 

 

moral-politik.com. Jakarta – Untuk menggapai kekuasaan kebanyakan elit Parpol menempuh cara instan dan jalan pintas. Selain itu juga menguatnya sentimen primordial dalam politik, memaksa elit Partai loncat “pagar” ke Partai lain.

Salah satu masalah yang seringkali muncul dalam politik adalah menguatnya sentimen primordial yang lebih terikat pada persamaan etnis, aliran, ikatan darah dan berbagai bentuk sifat kedaerahan lainnya.

Munculnya masalah ini lebih disebabkan karena karakter masyarakat yang ada di daerah juga berbeda-beda, yang ternyata dapat mempengaruhi preferensi (pilihan) politik masyarakat untuk menentukan kepemimpinan daerah.

“Beberapa variabel seperti latar belakang etnis, status sosial ekonomi, dan agama dapat menciptakan suatu polarisasi pilihan politik rakyat menjadi apakah itu sifatnya rasional ataukah emosional,” kata Boni Jebarus kepada moral-politik.com, Selasa petang (24/9/2013) di Jakarta.

Pernyataan ini disampaikan Boni menanggapi pilihan politik Wakil Gubernur NTT  Beny Alexander Litelnoni, yang bergabung dengan Partai Golkar dengan menempati salah satu wakil ketua dewan pembina partai berlabang beringin  itu.

“Hedonisme politik adalah akarnya. Elit Parpol hanya mengambil cara intans dan pintas menggapai kekuasaan. Fenomena loncat pagar elit penguasa juga sudah biasa terjadi di Republik ini, lebih khusus NTT. Orang tidak bangun karir politiknya dari bawah. Elite ambisius dan parpol prakmatis bertemu jadilah barang itu”, tandas tokoh muda asal NTT ini.

Lebih lanjut Boni mengatakan, keputusan Beny Litelnoni bergabung dengan Partai Golkar bisa jadi satu strategi untuk menghadapi Pilkada 2017 mendatang. Menurutnya langkah yang dilakukan Wagub itu tentu sudah melalui pengamatan dan analisi peta politik NTT pada Pilkada 2017.

“Semestinya dia bergabung saja dengan PDIP apalagi menjadi Wagub NTT dicalonkan dari PDIP, tepi kenapa harus ke Partai Golkar? Tentu ada pertimbangan-pertimbangan substansial, mengingat politik di NTT masih kental dengan unsur primordial”, ucap Boni. (MRL)

Baca Juga :  Istana: Maksud Jokowi Yakni Boikot Kebijakan Israel di Palestina, Bukan Boikot Barang

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button