Home / Pena_VJB / Catatan dari Pesta Sail Komodo 2013 (1)

Catatan dari Pesta Sail Komodo 2013 (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

22

penulis: vincentcius jeskial boekan

 

 

 

moral-politik.com. “Tak ada pesta yang tak usai” adalah sebuah kalimat manis yang saya sendiri tak tahu persis siapa pengarangnya; atau mungkin juga saya—tapi—untuk apa diperdebatkan panjang lebar, jika kita sepakat tak ada hal baru di kolong langit ini; semua yang terjadi hanyalah bersifat pengulangan-pengulangan belaka.

Sebelum masuk pada substansi persoalan yang ingin saya urai, saya mau bilang bahwa Kategori Pena VJB di website moral-politik.com ini adalah singkatan dari nama saya: Vincentcius Jeskial Boekan.

Beberapa hal kecil yang perlu diketahui tentang siapakah saya yang sesungguhnya—setidaknya sebagai pertimbangan layak tidak saya menulis, semisal saya adalah penulis novel, roman, cerpen, cerber, puisi, opini. Tiga karya novel saya (Cinta Terakhir, Membadai Pukuafu, dan Loe Betawi Aku Manggarai) telah dibukukan dan dipasarkan oleh Toko Buku Gramedia secara nasional, di samping itu saya pasarkan door to door, serta mengirimnya ke sejumlah negara sesuai order yang masuk karena kebetulan mengetahuinya melalui media sosial.

Boleh saya tambahkan, dua naskah novel telah selesai ditulis sekitar dua tahun lalu, tapi saya belum berkesempatan mencetak dan memasarkannya, yaitu Legenda Sihir Boti (telah diterjemahkan dalam Bahasa Inggris), dan Cadas Kerontang. Dan—selain itu—saya pernah banyak belajar pariwisata, karena pernah berdinas sebagai Kepala Sub Dinas Bina Usaha Jasa dan Sarana Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Seni Budaya NTT selama 6 (enam) tahun lebih.

Baiklah, itu saja sepotong tentang saya, dan kini saya mau masuk pada substansinya.

Indonesia patut berbangga dengan dinobatkannya Komodo sebagai New7Wonders, dibuktikan dengan penyerahan sertifikat oleh Presiden New7Wonders, Bernard Webber kepada Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya.

Baca Juga :  Ketua DPRD Kota Kupang Minta Pemkot Cermati Kartu Jamkesda

Entah bagaimana menurut Anda, tapi bagi saya, dengan penyerahan sertifikat di atas bukanlah akhir dari perjuangan merebut penobatan belaka, tapi awal dari NTT untuk mulai merubah cara pandang bahwa Komodo adalah pemberian Tuhan untuk memakmurkan masyarakat.

Sebagai daerah penerima berkat Tuhan tersebut—sebagaimana juga menerima sertifikat oleh karena kerja keras dari Duta Komodo Jusuf Kalla, apa sesungguhnya yang mau NTT bikin, hal mana sesuai dengan sambutan Presiden SBY pada acara puncak Sail Komodo 2013 bahwa masyarakat Indonesia, terutama NTT harus berbangga dengan masuknya komodo sebagai tujuh keajaiban dunia baru.

“Kegiatan Sail Komodo 2013 dengan Nusa Tenggara Timur sebagai tuan rumah, merupakan momentum yang tepat untuk mempromosikan kekayaan laut atau bahari Indonesia kepada dunia,” kata Presiden SBY pada acara puncak dan peresmian Sail Komodo 2013 di Pantai Pede, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Sabtu (14/9/2013).

Pemerintah merencanakan, lanjut SBY, menyandingkan provinsi Nusa Tenggara Timur dan Bali sebagai pintu gerbang pariwisata di Indonesia wilayah timur. NTT dan Bali akan dijadikan koridor ekonomi pariwisata yang nantinya akan dijadikan gerbang  pariwisata. NTT pantas disandingkan dengan Bali, karena mempunyai pemandangan yang menarik serta terdapat Pulau Komodo, yang merupakan bagian dari sejarah peradaban purbakala, yang masih hidup di muka bumi.

“Saya harap Pulau Komodo menjadi icon baru di kawasan tengah Indonesia,” tutur SBY.

SBY mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menjaga, melestarikan, dan  mengembangkan situs pariwisata yang dimiliki supaya turis-turis asing dapat ikut menikmati  tempat tersebut.

Menyimak pernyataan SBY, sepatutnya NTT bersyukur. Tapi, bagaimana dengan pekerjaan yang jadi tugas NTT, jika—sekali lagi—serius untuk menangkap peluang New7Wonders tersebut?

Baca Juga :  Stand Sabung Ayam Pemkot Kupang Marak Pengunjung

(bersambung)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button