Home / Populer / Catatan JK Lainnya Soal Kebangkitan Asia: Khayal atau Nyata? (2)

Catatan JK Lainnya Soal Kebangkitan Asia: Khayal atau Nyata? (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

 

 

moral-politik.com, Kota Kupang – Dalam catatan Jusuf Kalla (JK), pada era tahun 1980-an, kebanyakan orang yakin, pada akhir abad 21 Jepang akan mengambil alih peran AS sebagai pusat ekonomi terbesar dunia. Tapi apa yang terjadi? Jepang gagal. China-lah yang mengambil alih.

Sampai dua tahun terakhir, jelasnya, orang-orang terkesan dengan performa ekonomi dari negara-negara BRIC. BRIC diasosiasikan dengan masa depan yang besar. Banyak negara yang iri karena tak jadi bagian BRIC. Namun hari ini, Brazil, Russia, Indonesia dan China dalam masalah. Tak menjadi bagian BRIC akhirnya oke-oke saja.

“Pertanyaannya, apakah cerita tentang kebangkitan asia adalah sebuah kesalahan besar?” sentak JK.

Menurut JK, kesalahan dalam prediksi linear adalah kesalahan umum dalam peramalan (forecasting). Orang-orang cenderung percaya bahwa apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi juga di masa datang. Sayangnya, dunia ini sangat kompleks, tidak linear.

Relevansinya dengan pertanyaan utama dalam forum yang bergengsi itu, JK menyentak forum: Apakah kebangkitan Asia adalah fiksi atau realita?

Pertanyaan itu dijawab langsung oleh JK bahwa dirinya berharap dan yakin bahwa kebangkitan Asia adalah sebuah realitas, bukan fiksi.

Alasan mengapa dirinya mengatakan demikian, karena orang Asia membutuhkan Asia yang kuat. Ini bukan masalah berkompetisi dengan Barat, tapi tentang menciptakan dunia yang makmur. Dunia ini memerlukan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Eropa dan AS telah memainkan perannya pada masa lalu. Inilah waktunya Asia berkontribusi.

“Data statistik menunjukkan kalau dari 1980-2010, dunia telah sukses mengurangi kemiskinan. Terlepas dari pertumbuhan populasinya, kekacauan ekonomi mereka. Negara-negara dalam kawasan ini harus menciptakan respon yang tepat dan juga kebijakan yang terjadwal baik,” simpulnya.

Baca Juga :  "Ada apa dengan Video Wisata ke Maladewa?"

JK menawarkan ide bahwa mengelola defisit anggaran yang rendah, mengelola cadangan devisa, menghindari defisit perdangangan, dan megurangi fluktuasi mata uang adalah beberapa kebijakan jenerik yang dibutuhkan alam situasi ini. Juga, karena ini adalah era dari kolaborasi regional, negara-negara Asia perlu membangun sistem kekebalan regional, sebagai tambahan yang individual (tiap negara), melalui respon-respon kebijakan yang kolaboratif.

“Sejarah mengatakan bahwa tak ada krisis di Eropa sana. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah krisis pada beberapa negara di Eropa yang membawa anggota lainnya ke dalam krisis karena integrasi ekonomi dan politiknya. Sama halnya, tak pernah ada keajaiban Asia. Tapi yang terjadi adalah kebangkitan sebagian negara-negara Asia yang menciptakan manfaat-manfaat positif bagi kawasan ini,” urai JK.

Tawaran lain yang disodorkan JK adalah kolaborasi ekonomi di antara negara-negara harus menekankan keadilan dan keuntungan mutual. Pemerintah yang baik harus menjadi aspek yang penting. Kalau tidak, ini akan menciptakan ketidakstabilan ekonomi dalam sebuah negara. Ini dapat juga menstimulasi ketidakseimbangan dam ketidaktentuan ekonomi.

Dalam aspek moneter, kata JK, Chiang Mai Initiative adalah contoh yang baik dari kolaborasi regional untuk menjaga cadangan devisa. Ini harus di dorong terus ke depan untuk membuat inisiatif ini terukur dan bisa dijalankan.

Hal lain yang dikatakan JK, jumlah orang miskin menurun dari 2 menjadi 1,2 miliar di dunia. Asia menyumbang 95% dari total angka penurunan ini. Akan tetapi, terlepas dari pencapaian gemilang ini, tantangan-tantangan tentu masih ada. Asia tetaplah menjadi sumber kemiskinan. Menurut data Bank Dunia, 45% orang miskin di dunia ini tinggal di Asia Selatan. Ini berarti ekonomi Asia sangat perlu untuk terus bertumbuh.

Baca Juga :  Jokowi lantik Badrodin Haiti jadi Kapolri

JK mengatakan, menurunnya ekonomi akhir-akhir ini telah membuat banyak pemerintahan dan bisnis menjadi gugup. Mata uang terdepresiasi. Inflasi merangkak naik. Defisit perdagangan terus melebar. Itu semua adalah fenomena umum dalam sebuah ekonomi terbuka yang memungkinkan pertukaran barang, kapital, ide dan sumber daya manusia secara bebas.

Nyatanya, lanjutnya, pergerakan nilai mata uang adalah sebuah mekanisme yang memungkinkan negara-negara menciptakan daya kompetisi mereka. Ini berarti bermanfaat jika tidak berlebihan.

Mekanisme ini, pikir JK, tak terjadi pada zona Eropa. Mata uang tunggal tak memungkinkan negara-negara seperti Yunani, Portugal, Spanyol dan Italia untuk bangkit secara cepat. Mereka tak mampu mendapatkan kembali data kompetitif mereka. Tak ada negara hidup dalam kekosongan dan kesendirian dewasa ini. Interaksi adalah hal yang wajib. Sayangnya, dunia ini tak kebal krisis. Meningkatkan sistem daya kebal adalah sebuah resep untuk negara-negara Asia mengendalikan

“Kolaborasi dalam kebijakan perdagangan adalah area penting lainnya. Dalam situasi krisis, pemerintah cenderung membuat kebijakan-kebijakan populer demi alasan-alasan politik domestik,” perspektifnya. (vjb)

bersambung

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button