Aryus Martadinata(1)
moral-politik.com. Huruka Jora, terdakwa kasus korupsi proyek pemagaran padang pengembalaan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), dengan total dana Rp 1,3 miliar tahun 2010,  akhirnya kembali menghuni Lemabaga Pemasyarakat (Lapas) Klas I A Kupang sesuai dengan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) yang diterima Kejaksaan Negeri (Kejari) Waikabubak, sejak 29 Agustus 2013 lalu, dengan memerintahkan kepada Kejari Waikabubak untuk kembali menahan terpidana kasus itu sesuai dengan putusan tersebut yakni selama 4 tahun penjara.
Sebelumnya terpidana Huruka Jora lepas demi hukum karena  putusan kasasi MA RI belum diterima oleh Kejari Waikabubak. Namun sejak dikeluarkannya putusan kasasi MA RI tanggal 29 Agustus 2013 lalu, diperintahkan kepada Kejari Waikabubak untuk kembali menahan terpidana.
Kasi Intel Kejari Waikabubak, Aryus Martadinata kepada moral-politik.com, Jumat (6/9/2013) mengatakan, sebelumnya terpidana bebas demi hukum karena putusan kasasi dari MA RI belum juga diturunkan, namun pada tanggal 29 Juli 2013, MA RI telah mengeluarkan putusan itu, namun diterima Kejari Waikabubak pada tanggal 29 Agustus 2013 lalu dengan perintah agar Kejari Waikabubak kembali menahan terpidana kasus korupsi itu.
Aryus mengatakan, terpidana diamankan di kediamannya di SBD sekitar pukul 15.00 Wita. Sebelumnya pihak Kejari Waikabubak sempat mencari terpidana karena berdasarkan informasi, terpidana telah kabur dari kediamannya. Namun setelah berkoordinasi dengan tim yakni I Made Budiawan dan Nur Said terpidana berhasil diamankan oleh tim Kejari Waikabubak.
Dijelaskannya, berdasarkan perintah atau putusan kasasi MA RI, Kejari Waikabubak segera mengamankan dan mengirim terpidana ke Lapas Klas I A Kupang menggunakan pesawat Trans Nusa melalui Bandar Udara El Tari Kupang. Terpidana bersama tin Kejari Waikabubak tiba di Bandar Udara El Tari Kupang sekitar pukul 08.30 Wita.
“Terpidana langsung digiring menuju Lapas Klas I A Kupang untuk menjalani masa tahanannya sesuai dengan putusan kasasi MA RI yakni terpidana menjalani masa tahanannya selama 4 tahun penjara, “ katanya.
Sebelumnya, terpidana divonis 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kupang, Kamis, 8 Februari 2013 lalu. Vonis dijatuhkan setelah majelis hakim Pengadilan Tipikor Kupang menilai terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 27 juta.
“Terdakwa terbukti telah merugikan negara Rp 27 juta dari proyek itu,“ kata Hakim Ketua Agus Komarudin saat memimpin sidang.
Sidang yang beragendakan pembacaan putusan itu dipimpin Agus Komarudin didampingi dua hakim anggotanya, Fery Haryanta, dan Anshyori. Majelis hakim menilai, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah merugikan negara Rp 27 juta.
Selain vonis 4 tahun penjara, majelis hakim juga mewajibkan terdakwa membayar denda sebesar Rp 200 juta subsider 3 bulan penjara, dan dikenakan uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 27 juta subsider enam bulan penjara.
“Denda ini harus dibayar paling lambat satu minggu, setelah adanya putusan tetap,” katanya.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) M. Andzir menyatakan pikir-pikir terkait putusan majelis hakim terhadap terdakwa.
“Saya akan berkoordinasi dengan pimpinan untuk menentukan sikap selanjutnya,” katanya. (richo)