Home / Opini / Nina Ardianti Tantang Berani Hidup Tanpa Facebook!

Nina Ardianti Tantang Berani Hidup Tanpa Facebook!

Nina Ardianti. (foto: dinoybooksreview.files.wordpress.com)

Bagikan Halaman ini

Share Button

MORAL POLITIK : Kehadiran media sosial benar-benar berkah bagi orang yang menginginkan pertemanan yang luas.

Kebetulan, saya pun adalah tipe orang yang senang berkenalan dan berhubungan dengan orang banyak. Saya memiliki hampir semua akun sosial media: Twitter, Tumblr, Goodreads, Foursquare, Instagram sampai Pinterest—semuanya, kecuali Facebook.

Dua tahun yang lalu, saya memutuskan hubungan dengan Facebook. Dengan gagah berani, saya meng-klik tombol deactivate account dan belum saya aktivasi lagi sampai sekarang.

Banyak alasan mengapa saya memilih untuk men-deaktivasi akun Facebook saya.

Pada dasarnya saya merasa sudah cukup membandingkan diri saya dengan orang lain. Saya merasa sudah cukup mendefinisikan diri saya berdasarkan berapa banyak orang yang meng-klik tanda ‘like’ atau berkomentar pada status saya. Dan saya merasa sudah cukup percaya bahwa rumput tetangga lebih hijau. Saya merasa sudah cukup mengetahui detail hidup orang lain hanya dalam beberapa kali klik dan membuat saya merasa bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau. Saya merasa cukup memuaskan ego saya.

Walaupun Facebook mengiklankan diri dengan tagline ‘staying connected’ atau tetap terhubung, menurut saya itu bukan tentang hubungan dengan makna yang mendalam. Itu lebih mengenai apa yang saya punya, apa yang teman-teman saya punya, apa yang sedang mereka lakukan, dan apa saja pencapaian dalam hidup mereka. Semakin  semangat meng-klik halaman, kadang membuat saya merasa semakin frustrasi.

Dua tahun meninggalkan Facebook membuat saya menyadari beberapa hal. Mungkin saya nggak akan mendapatkan ucapan selamat ulang tahun sebanyak dulu, tapi yang saya dapatkan biasanya benar-benar tulus, karena mereka mengingat dan peduli kepada saya. Lagipula biasanya orang mengucapkan selamat ulang tahun di Facebook karena diingatkan oleh Facebook—bukan karena memang mengetahuinya, bukan pula karena merasa perlu mengetahuinya. Mungkin saya nggak bisa mengetahui dengan cepat apa yang sedang happening di lingkaran pertemanan saya—tapi kemudian saya berpikir, apakah saya benar-benar perlu untuk mengetahuinya? Kebanyakan, sih, nggak.

Baca Juga :  Amanda Seyfried Mulai Risau dengan Perannya Sebagai Bintang Porno

Saya juga nggak perlu khawatir ada orang yang men-tag foto-foto yang nggak saya inginkan untuk menjadi bagian album foto saya. Kadang ada saatnya, masa lalu tetap berada di masa lalu. Kalau saya menginginkan foto-foto tersebut, saya masih bisa meminta teman saya mengirimkannya via email. Tanpa Facebook, saya juga merasa hidup saya bebas dari drama yang nggak perlu. Walaupun saya nggak terlibat di dalam percakapan atau komentar mengenai apa pun, tapi hanya dengan melihat suatu posting bisa memunculkan rasa negatif, menumbuhkan rasa penasaran, dan kemudian memicu gosip. Singkat kata: capek.

< 1 2>

Komentar Anda?

Tags : #

Bagikan Halaman ini

Share Button