Home / Sport / Pendeta Ini Kesal dengan Maraknya Perjudian di Kabupaten Belu

Pendeta Ini Kesal dengan Maraknya Perjudian di Kabupaten Belu

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

 

 

moral-politik.com. Sesulit dan seberat apa pun penyakit, akan mampu disembuhkan tim medis. Tapi, penyakit sosial perjudian tidak bisa disembuhkan begitu saja.

Demikian ungkap Pendeta Ita Djari ketika “dikencani” Felix, wartawan moral-politik.com di Atambua, Kabupaten Belu, di sela-sela mengikuti PelatihanPelatih Trafficking, yang diselenggarakan oleh FPPA bekerjasama dengan Institusi Perempuan Bandung di hotel Paradiso Atambua, Kamis (5/9/2013).

Menurut Pendeta Ita, sebenarnya bisa disembuhkan, tetapi selalu di-back up oleh oknum aparat penegak hukum. Inilah dilema yang membuat perjudian itu semakin tumbuh subur di Kabupaten Belu.

Saya kaget baru baru ini, kata dia, sewaktu saya pimpin ibadat di orang mati, ada jemaat dong yang main kuru-kuru dan bola guling di samping situ. Saya tanya ke jemaat yang lain, itu apa? Jemaat dong jawab itu judi Bu Pendeta. Saya lihat juga, lanjutnya, ada beberapa jemaat yang berprofesi sebagai aparat penegak hukum yang berseragam ikut bermain judi kuru-kuru dan bola guling itu.

“Saya semakin bingung dengan aparat dan jemaat saat itu,” gumamnya, polos.

Pendeta Ita Djari menambahkan, akibat perjudian, banyak rumah tangga jemaat atau masyarakat hancur dan pisah cerai. Akibat dari perjudian, lanjutnya, suami menyiksa istrinya dengan cara tidak memberikan gajinya kepada istrinya.

“Ini merupakan akibat dari perjudian. Akhirnya rumah tangga dan hubungan suami istri pisah cerai,” ujarnya.

Menurut Pendeta Ita, gereja hanya sebatas memberikan sanksi pastoral. Dalam arti gereja tidak memberikan pelayanan kepada jemaat yang bersangkutan, sebelum jemaat itu jera dari perjudian. Dan jemaat yang bersangkutan itu, harus belajar menahan diri agar tidak tergerus arus. (Felix)

Baca Juga :  Julianus Ikut USBN di Dalam Mobil

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button