Home / Sport / Perbaikan Gizi Balita Butuh Gerakan Cepat dan Serius

Perbaikan Gizi Balita Butuh Gerakan Cepat dan Serius

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

 

 

moral-politik.com. Kota Kupang – Perbaikan gizi balita di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) membutuhkan gerakan cepat dan serius. Pasalnya, kasus gizi balita di daerah ini masih sangat memrihatinkan.

Hal ini terungkap dalam dialog publik “1000 Hari Pertama Kehidupan” yang diselenggarakan pemerintah Provinsi NTT bersama lima lembaga internasional di Hotel On The Rock, Kupang, Selasa (24/9) kemarin.

Lima lembaga internasional itu adalah: Mahana Visi Indonesia mkitra World Vision (WVI), World Food Programme (WFP), Action Contre la Faim (ACF), The Australian Agency for International Develonpment (AUSAID), The United Nations Childrens’s Fund (UNICEF). Selain itu juga didukung oleh salah satu lembaga swadaya lokal yakni Advokasi Pemberdayaan Pengembangan Kampung (Bengkel APEK).

Dialog publik ini menghadirkan sejumlah peserta yakni dari pemerintah daerah provinsi NTT, Kabupaten/Kota se-NTT, Badan Dunia, LSM Internasional, LSM local, perguruan tinggi, tokoh masyarakat dan took agama serta para wartawan.

Richard Djami, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Provinsi NTT mewakili Gubernur  Frans Lebu Raya mengatakan, Balita NTT harus mendapat gizi seimbang sehingga dapat menghasilkan generasi berprestasi, baik prestasi akademik dan non akademik karena jika gizi otak dan otot tercukupi, produktivitas kerja pun akan optimal, maka sumber daya manusia (SDM) NTT akan maju.

Dalam dalog itu terungkap, masalah gizi buruk yang masih mendera balita di NTT karena masalah ekonomi rumah tangga yang masih memerihatinkan. Hampir semua peserta menyoroti kurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah gizi balita di daerah ini.

Masalah gizi buruk kronis “stunting” pada anak-anak balita sampai saat ini masih menjadi permasalahan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Hasil Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2010 menunjukkan bahwa provinsi NTT menempati urutan tertinggi dalam permasalahan gozi buruk kronis (stuting” di Indonesia. Balita yang mengalami gizi buruk di provinsi NTT sebesar 58,4 % lebih tinggi disbanding di tingkat nasional.

Baca Juga :  Kota Kupang Mulai Dilanda Krisis Air Bersih

“Kita butuh kerja keras dari semua pihak untuk memerangi masalah gizi buruk balita. Balita kita harus kita perhatikan sejak dini karena mereka akan meneruskan perjuangan bangsa ini,” pinta Djami.*** (AVI)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button