Home / Pena_VJB / Perspektif Jusuf Kalla Soal Presiden Non-Islam dan Non-Jawa

Perspektif Jusuf Kalla Soal Presiden Non-Islam dan Non-Jawa

Bagikan Halaman ini

Share Button

3

 

moral-politik.com. Jusuf Kalla bukanlah tokoh karbitan yang tiba-tiba saja terjun dalam kancah percaturan politik Indonesia. Dia juga bukan secara tiba-tiba tampil sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Semuanya dimulai dari bawah–merakit kiprahnya dengan semangat nasionalisme–berkata jujur tanpa perlu pikir untaian kata tepat nan indah.

Tidak mengherankan jika sosok dirinya tak pernah lekam dimakan waktu–tak cukup satu kali dipercaya menjadi Wakil Presiden Indonesia–harapan kepadanya untuk Indonesia Baru terus meroket.

Satu catatan indah yang perlu menjadi pembelajaran demokrasi Indonesia–menjadi filosofis dalam kerukunan hidup umat beragama yang perlu diketahui luas.

Sebagaimana pada sidang Sinode yang digelar awal Maret 2013 lalu, Jusuf Kalla yang merupakan Ketua Dewan Masjid Indonesia diundang dalam acara tersebut. Acara yang dihadiri oleh 700 Pendeta dari seluruh Indonesia ini meminta JK untuk memberikan nasehat dan pandangannya mengenai keharmonisan dan damai dalam perbedaan.

Dalam sesi tanya jawab, Pendeta Stefanus Marinjo bertanya pada JK: “Apakah Bapak Jusuf Kalla secara pribadi mau dipimpin oleh Presiden yang non-Islam?”

Bukan JK namanya kalau tidak dapat menjawab secara rasional dan tegas pertanyaan macam apa saja.

“Kalau bicara tentang Presiden non-Islam, bahwa kita semua harus taat pada UUD 45, disitu tidak mencantumkan syarat agama. Tapi yang terjadi adalah pilihan rakyat; tentu umumnya orang memilih sesuai dengan kesamaan agamanya. Tapi ini bukan hanya terjadi di Indonesia, di Amerika pun yang merupakan kiblat demokrasi, butuh waktu 171 tahun untuk orang Katolik bisa jadi Presiden di Amerika (Karena di Amerika mayoritas menganut Kristen Protestan). John F, Kennedy yang merupakan orang Katolik adalah orang pertama yang menjadi Presiden di Amerika. Dan kemudian di Amerika juga butuh waktu 220 tahun untuk orang kulit hitam, Barrack Obama untuk menjadi Presiden di Amerika,” kata dia.

Baca Juga :  Kilas Balik Letusan Gunung Rokatenda 29 April 2013 Diabadikan Satelit NASA

JK pun melanjutkan argumennya dengan mempertegas posisinya tentang keberagaman di Indonesia dan pilihan politik, bahwa kita tidak bisa bicara bahwa kita tidak demokratis, karena minoritas tidak bisa jadi Presiden, di Amerika pun butuh waktu 220 tahun untuk kulit hitam bisa jadi Presiden.

“Nah, kalau kembali ke konteks Indonesia, tidak usah bicara masalah agama dulu, orang luar Jawa saja susah jadi Presiden di Indonesia ini. Jadi bukan soal agama, ini karena berdasarkan suara terbanyak, demokrasi yang membawa seperti itu, bahwa pilihan orang jatuh pada hal yang identik pada dirinya sendiri,” urainya.

Tapi apapun itu, lanjut dia, dirinya berharap tidak perlu butuh waktu 70 tahun untuk orang luar Jawa bisa menjadi Presiden di Indonesia, karena kalau kita menghitung 2014 itu artinya 69 tahun kita merdeka. (sumber: jusufkalla.inf0)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button