Home / Populer / RJ: Menjadi Golput Hanya Untungkan Pemain Opini Publik!

RJ: Menjadi Golput Hanya Untungkan Pemain Opini Publik!

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

moral-politik.com. Surabaya-Solusi persoalan di Indonesia sekarang ini tak cukup lagi disikapi dengan menjadi Golput, karena hanya menguntungkan pihak yang bisa memanipulasi opini publik. Maka aktivis harus meniru seniman, berjalan di depan.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam dialog Relawan Jokowi (RJ) dengan aktivis dan budayawan Surabaya, Sabtu (21/9).

“Rakyat harus melawan imperialisme domestik,” kata Indra Bagus Sasmito, Sekretaris Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Surabaya.

Herry A Sugianto yang juga aktivis SRMI mengatakan, rakyat sudah lama dianiaya. Petani menjadi pengijon, karena tak ada pilihan lain. Koperasi Unit Desa (KUD) hanya slogan, tidak dirancang menghentikan praktik ijon.

Sirruhu Al Farouq, aktivis SRMI mempertanyakan kerusakan sistem yang membuat produk pertanian tidak punya daya saing. Harga beras di Indonesia lebih mahal dari sejumlah negara ASEAN. Industri hulu seperti pupuk, tidak mendukung.

Dialog diselenggarakan di sela-sela Festival Tunjungan, 19-22 September 2013. Festival diawali dengan pementasan teater monolog di Hotel Majapahit, Kamis (19/9) malam.

”Ini upaya agar rakyat berdaulat,” kata Indra Bagus, yang juga seorang ketua RW.

Ferry Alfiand Tjung Phin Ketua DPP Relawan Jokowi mengungkapkan, ongkos angkut barang dari Surabaya ke Jakarta, jauh lebih mahal dari ongkos Surabaya ke RRC. Ongkos barang Surabaya-Jakarta juga lebih mahal Warsawa (Polandia) ke Berlin (Jerman).

Upah buruh di RRC bisa rendah, karena perumahan, kesehatan dan pendidikan, infrastruktur menjadi tanggungan pemerintah.

“Maka harus ada perubahan. Partisipasi kita tak cukup lagi dengan golput,” katanya.

Ferry menjelaskan, ide dasar Relawan Jokowi adalah perubahan, bukan bermula dari fanatisme Jokowi.

“Kami adalah nasionalis yang berserakan. Tapi kalau disebut sebagai kalangan golput yang melembaga, tidak salah juga,” ungkapnya.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan lirik Saham Freeport, modalnya Rp 290 Triliun

Dialog menyimpulkan, kondisi yang kini sangat parah perlu perubahan. Para pemuka masyarakat tak bisa lagi menyerahkan nasib bangsa kepada politisi semata. Rakyat harus semakin berdaulat melalui pilihan politik yang cerdas. (RJ)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button