Home / Gosip / Terseok-seoknya Nilai Moral

Terseok-seoknya Nilai Moral

Bagikan Halaman ini

Share Button

2

                                                           Oleh : Maksimus Ramses Lalongkoe
                                         (Alumni Pascasarjana Mercu Buana University Jakarta)

moral-politik.com. Kasus kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat di berbagai daerah belakangan ini, tak pernah berakhir dan bahkan secara terus menerus bertumbuh subur dan berkembang biak, bak virus yang sulit dibasmi. Kekerasan demi kekerasan semakin membenih, di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan. Rasa cemas dan takut semakin menghantui masyarakat yang ingin hidup damai dan tanpa adanya ancaman dan tekanan dalam beraktivitas. Namun harapan rasa aman dan damai ini pun semakin pudar dan bahkan semakin jauh dari kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Kondisi ini tentu tidak dapat dipungkiri. Berbagai kasus kekerasan di Indonesia akhir-akhir ini marak terjadi seperti, kekerasan terhadap aparat keamanan oleh sekelompok orang yang menggunakan senjata api, kekerasan sesama aparat keamanan, aparat keamanan dengan masyarakat, masyarakat dengan kelompok masyarakat lainnya, pelajar dengan sesama pelajar, mahasiswa dengan aparat, mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, dan masih banyak kekerasan lainnya yang sangat mengganggu dan sekaligus meresahkan kehidupan masyarakat umum.

Degradasi Nilai Moral

Menurut pandangan McLuhan, tumpulnya isi dan potensi afektif yang dibarengi peningkatan intelektual, ilmiah, rasional akan melahirkan erosi nilai moral norma luhur (Djahiri, 1996). Yang pada giliran berikutnya akan berujung pada berbagai persoalan pelanggaran nilai moral di masyarakat sebagai akibat bergesernya landasan dan tuntutan nilai moral (Moral Base and Claims) pada sumber materil ekonomik.

Kasus-kasus kekerasan ini merupakan fenomena sosial yang semestinya negara segara membuka mata sebelum kelompok-kelompok ini semakin meluas dan melebar ke wilayah-wilayah lain yang selama ini masih dinilai aman, damai dan tenteram. Pertanyaan menggelitik yang patut diperbincangkan adalah mengapa kasus-kasus kekerasan ini kian merebak dan terus menerus membenih di negeri ini? Apakah fenomena kekerasan ini akibat akumulasi kemiskinan yang yang terjadi di tengah masyarakat akibat negara tidak mampu memberikan ruang pekerjaan? Ataukah kekerasan-kekerasan yang kian marak dan meresahkan ini akibat terjadinya “degradasi nilai moral” sehingga kekerasan ini tidak hanya dilakukan oleh kelompok masyarakat berpendidikan rendah namun juga kerap dilakukan kalangan terdidik?

Baca Juga :  Ingin Perbesar "Harta Kekayaan"...? Inilah Solusinya

Jika dilihat dari pelaku yang melakukan tindak kekerasan dengan mengatasnamakan berbagai kelompok-kelompok ini justru kekerasan ini juga dilakukan kalangan terdidik, sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor dominan dari aksi premanisme ini akibat persoalan degradasi nilai moral dalam diri manusia.

Fenomena kekerasan yang kerap terjadi akhir-akhir ini menggambarkan bahwa terjadinya degradasi nilai-nilai kemanusiaan dan terkikisnya moralitas dalam diri masyarakat. Semakin pudarnya nilai-nilai kemanusiaan dalam diri manusia, membuat manusia mengambil jalan pintas dan mengabaikan semua aturan dan tatanan nilai kehidupan sosial kemasyarakatan. Nilai merupakan suatu sifat yang menyenangkan (Pleasant), memuaskan (Satisfying), menarik (Interesting), berguna (Useful), menguntungkan (Profitable).

Nilai adalah sesuatu yang berharga yang dianggap bernilai, adil, benar, dan indah serta menjadi pedomaan dan pegangan diri. Setiap masyarakat atau setiap budaya memiliki nilai-nilai tertentu mengenai sesuatu, bahkan budaya dan masyarakat merupakan nilai yang tidak terhingga bagi orang yang memilikinya. Bagi setiap manusia nilai merupakan landasan fundamental dalam semua perbuatan karena nilai itu mengandung kekuatan yang mendorong manusia berbuat dan bertindak.

Dapat disimpulkan bahwa nilai adalah sesuatu yang berguna, berharga yang dijadikan pedoman diri, atau acuan normatif tentang keyakinan individu baik secara psikologis maupun sosiologis sehingga menjadi pola sikap yang mempribadi.

Hal yang sama berlaku pada moralitas dalam diri manusia. Moralitas terjadi apabila setiap orang mengambil sikap yang baik karena dalam dirinya sadar akan kewajiban dan tanggung jawab. Jika menilik fenomena kekerasan yang eskalisinya terus meningkat di berbagai kalangan di Indonesia belakangan ini menggambarkan bahwa degradasi/kemerosotan nilai moral tengah melanda manusia-manusia yang kerap bertidak premenanisme. Nilai moral dalam diri manusia dapat dikatakan sedang terseok-seok karena sudah tidak mampu lagi membedakan mana tidakan produktif dan tindakan jahat.

Baca Juga :  Akhirnya video bugil TKW Banyuwangi jadi trending topik media Hongkong

Dalam perspektif lebih luas, kondisi ini juga semakin diperparah dengan semakin banyaknya pejabat-pejabat penyelenggara negara yang tersangkut kasus korupsi yang kian mencederai hati rakyat.

Bobroknya nilai moral para pejabat saat ini, turut serta memberikan andil terhadap fenomena kekerasan di tengah masyarakat, karena masyarakat merasa bosan, muak bahkan jijik melihat tingkah para koruptor. Kondisi ini yang membuat masyarakat mengambil jalan pintas dalam melakukan tindakan karena hak-hak mereka telah dirampas para koruptor.

Kehancuran nilai moral ini telah merusak dan marasuk beragam bentuknya dan nyaris dijumpai pada setiap lapisan masyarakat baik masyarakat kalangan tidak terdidik maupun masyarakat terdidik. Fenomena ini terjadi hampir rata di semua lapisan dan sendi-sendi kehidupan.

Keluarga Berperan Membentuk Nilai Moral

Kondisi-kondisi seperti ini tentu tidak dapat dibiarkan membenih dan berkembang biak seperti virus di tengah masyarakat. Upaya penegakan hukum bagi para pelaku tidak secara komprehensip mengubah sikap dan perilaku masyarakat yang sudah terbiasa dan terkooptasi dalam ruang kekerasan, tanpa adanya upaya-upaya pendidikan nilai moral sehingga mampu menekan dan bahkan memutuskan mata rantai pemasok individu-individu pelaku kekerasan.

Pendidikan nilai sudah sangat penting saat ini sebagai bantuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan kemampuan pertimbangan nilai atau keputusan moral yang dapat yang dapat melembagakan kerangka tindakan manusia.

Pendidikan nilai juga berperan aktif dalam diri manusia agar menyadari nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam bersikap. Selain lembaga-lembaga pendidikan yang membentuk nilai moral dalam diri manusia, keluarga memiliki posisi strategis dalam pembentuk sikap seseorang. Di dalam keluarga terjadi proses sosialisasi di mana proses pengintegrasian individu ke dalam kelompok yang memberi landasan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga juga terjadi proses pendewasaan diri yang mengetahui norma sosial, nilai-nilai, dan etika pergaulan.

Baca Juga :  Ahok menjawab isu barter Budi Gunawan dengan didukung PDI-P

Keluarga mempunyai peranan menyadarkan, menanamkan dan pengembangan nilai moral sosial dan budaya sehingga seseorang tahu memedakan hal yang baik dan hal yang buruk.

Erosi atau degradasi nilai moral sudah terjadi hampir di semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu peran keluarga sudah selayaknya mendapatkan tempat utama dalam mengembalikan kondisi seseorang yang sudah terjerumus dalam lingkaran kekerasan. Keluarga adalah medium pertama dan utama yang menjadi wadah tumbuhkembangnya kepribadian dan karakter setiap individu dalam menjaga nilai moral agar tidak mengalami degradasi akibat faktor lingkungan yang terus menggrogoti manusia saat ini. Semoga***

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button