Home / Sastra / Tiga Musim Soal W.S Rendra

Tiga Musim Soal W.S Rendra

Bagikan Halaman ini

Share Button

4

(Oleh: Hiro Nitsae; catatan lepas atas Puisi W.S Rendra “Doa Untuk Anak Cucu”)

 

moral-politik.com. Doa untuk anak cucu adalah judul antologi puisi miliknya W. S Rendra. Bagi Rendra sendiri, puisi-puisinya ini ia namai sebagai “ruang ibadah.” Bahkan, Rendra dengan lantang mengatakan bahwa “puisiku adalah sujudku.” Momentum kali ini setelah membaca ontologinya, saya mencoba mengambil sebuah kesimpulan sederhana. Saya berusaha meraba-raba untuk menemukan pribadi Rendra dalam “doa untuk anak cucu” ini. Saya sendiri melihat Rendra dalam tiga musim. Tiga musim ini tetap merupakan kesatuan. Kesatuan yang berasal dari satu sumber, berproses dan kembali pada pembuat proses. Untuk itulah saya beri judul “Tiga Musim Soal W.S Rendra” dalam catatan ini.

Rendra yang bernama lengkap Willybrodus Surendra Bhawana Rendra Brotoatmojo, melalui antologinya ini mengisahkan tentang pertanyaan klasik: Siapa manusia. Pertanyaan “who am i?” kiranya mendapat penegasan dalam diri Rendra dalam kumpulan puisi ini. Rendra bergerak dengan memulai kisah tentang kekaguman akan karya Allah. Ia memulai dari kisah tentang dunia. Dunia dalam diri. Dunia yang menghadirkan pertanyaan: siapa saya di hadapan Allah? Allah baginya adalah segalanya. Manusia berada pada takaran setitik debu yang takkan lepas dari puja akan Allah. Sampai pada satu titik, manusia hanyalah sebuah kerinduan akan Allah.

Proses untuk merindu dan tinggal dalam Allah, dijalani manusia dalam agama. Agama baginya adalah kemah para pengembara. Segala sujud dan doa berada dalam bahasa yang berbeda dalam keyakinan masing-masing. Manusia berada pada titik memohon. Puisinya adalah kata. Puisinya adalah doa. Kata sebagai doa. Rendra menggunakan subjek “aku” sebagai usaha menjadikan hidup sebagai milik aku. Aku sebagai kata ganti orang pertama tunggal untuk menggambaran keseluruhan diri manusia. Mereka adalah Aku. Mereka terwakilkan dalam diri aku. Aku adalah mereka walau memiliki otonomitas diri sendiri. Ia mengisahkan tentang dunia dengan segala peristiwa yang ada. Aku yang adalah Rendra dan kalian yang adalah juga Aku yang lain memohon pada Allah untuk terhindar dari kejahatan duniawi.

Baca Juga :  Puisi: Apatis

Ada tiga musim yang hendak dikisahkan Rendra dalam puisinya ini. 3 momentum ini sebagai sebuah lingkaran kelahiran. Lahir untuk selalu lahir lagi. Hal ini dibuktikan Rendra dalam kelahiran manusia. Manusia berasal dari Allah, sebagai episode pertama, proses hidup manusia di dunia sebagai perjuangan pada episode kedua dan kembali pada Allah sebagai episode ke tiga. Tiga episode ini terangkum dalam satu kata. ALLAH. Allah sebagai sumber segalanya. Allah adalah alfa dan Omega. Pada salah satu puisinya dengan judul “syair mata bayi” ia mengisahkan episode kedua dari manusia. Manusia selalu berjuang. Manusia selalu berusaha untuk menanggapi tantangan dunia dengan memohon pada Allah. Manusia memohon kedamaian. Manusia memohon suasana bathin yang syahdu.

Ataraxia sebagai sebuah konsep filosofis yang dikumandangkan oleh salah seorang filsuf kiranya menjadi acuan Rendra (baca: hanya sebagai perbandingan/tidak menjadi satu-satunya patokan Rendra). Konsep ini menggambarkan tentang suasana bathin yang selalu menjadi kerinduan setiap manusia. Ataraxia (keheningan bathin) adalah upaya yang selalu dilakukan manusia untuk berjumpa dengan realita di balik kenyataan yang ada di dunia. Pada tahapan di dunia, manusia selalu berusaha mencari asa ini. Selalu saja mencari. Manusia dengan demikian adalah makhluk pencari. Walau di tengah tantangan dunia yang mencekam selalu terselip usaha untuk hening. Manusia selalu mencari keheningan dalam keramaian. Dan hening itu adalah hening bathin. Hening spiritual.

Kritikan Rendra selalu termuat dalam puisi-puisinya. Kritikannya selalu terarah pada kenyataan yang ada di dunia. Kerinduan manusia untuk hening dengan berjumpa pada sumber hidup mereka selalu saja bertolak-belakang dengan karakter sualistis dalam diri manusia.  Rendra dalam kritikannya selalu memuat tentang realita yang dibuat manusia.

Baca Juga :  Puisi August Gardo Hutasoit : Kata Istriku

Kritikan yang merujuk pada realita yang ada di sekitar ruang tinggal manusia. Dan mungkin saja, pada saat menulis puisi ini pun, kritikan itu sementara dilontarkan dan bahkan dalam kondisi babak belurnya suasana yang dialaminya sendiri.
Kali ini, kritikan Rendra jatuh pada kisah tentang tindakan instrumental manusia yang berada pada dua sisi dalam hidup bahkan dalam diri manusia. Hal ini juga menandai karakteristik emosional manusia yang tidak dapat dikendalikan. Kita dicontohkan sebagai manusia tanpa rasio yang ketika berhadapan dengan sesama yang berlawanan ide dan tindakan, selalu dicari solusi dengan cara mengangkat belati. Alhasil darah adalah bagian integral dari tubuh manusia yang meraung pada bumi.

Darah tidak lagi memampukan tubuh bergerak. Pernyataan Rendra dibuatnya dalam bentuk pertanyaan: jika belati yang sudah menenteng darah  pada ujung-ujung kesombongan manusia, maka siapa lagi yang dapat membangkitkan tubuh yang terkapar? Siapa lagi yang dapat menyatukan kembali darah pada  tubuh manusia? Kesimpulan sederhana yang saya buat: kita bukan Tuhan. Kita bukan hakim yang dengan gampangnya memvonis sesama kita dengan darah sebagai tumbalnya. Di sini terlihat pula karakter kita sebagai manusia beriman datar versus logika bertaraf sempit.

Rendra tidak berhenti pada kritikan tanpa solusi. Ia kembali berkiblat pada pada petikan ayat-ayat dalam kitab-kitab orang-orang beriman. Ahimsa: tanpa kekerasan menjaga martabat manusia. Anekanta: memahami dan menghayati keanekaan dalam kehidupan bagaikan keanekaan dalam alam. Aparigraha: masing-masing pihak menanggalkan pakaian, menanggalkan lencana golongan lalu duduk bersama. Masing-masing pihak hanya memihak pada kebenaran. Dan baginya ini sebuah kemendesakan. Kebenaran tidak lagi menunggu waktu. Kebenaran dan usaha perdamaian tidak didapat pada masa mendatang. Tidak juga untuk ditunggu. Dari pihak kita adalah mengejarnya. Dan bagi Rendra, inilah saatnya.

Baca Juga :  Mas Anito Matos, Juri Timur Leste DA Asia 2 Pilihan Indonesia

Inilah saatnya mencerminkan ke-darurat-an/kemendesakannya situasi yang dialami dalam dunia. Kondisi dunia yang tidak kondusif harus segera diatasi. Dan inilah saatnya. Rendra “memaksa” kita dalam dimensi waktu “saat ini” untuk segera turun dari keegoisan kita melawan kenyataan yang bertolak belakang dari harapan bersama menuju bonum commune: kebaikan bersama. Pencarian kebenaran dan perdamaian tidak dapat ditunda sampai besok, lusa atau tula, tapi harus dimulai dari sekarang.

Lagi-lagi, Rendra berbicara tentang manusia. Ia, sebelum menutup kisahnya tentang “doa untuk anak cucu” pembicaraannya selalu terarah tentang manusia.  Manusia memang selalu menjadi pertanyaan. Mengapa harus begini? Mengapa harus begitu? Mengapa kita tidak begini? Mengapa kita tidak begitu? Pemahaman lanjutan yang kiranya diketahui, manusia (baca: kita) adalah makhluk sebatas tanya. Kita hanya berhenti pada “mengapa?” tanpa mampu untuk menjawab “karena”. Rendra dalam puisinya ini menegaskan manusia hanya ada pada tingkatan bertanya. Bertanya dan kemudian menemukan jawaban atas pertanyaan sebagai pertanyaan kedua dan selanjutnya. Tidak pernah tuntas.

Rendra menggunakan aku, kamu, mereka, sebagai kesimpulan atas diri manusia. Kita sebagai aku, kamu, mereka, adalah aktor dunia yang menciptakan kematian. Kematian sebagai ladang akhir atas pengingkaran yang dibuat oleh kita.

Kematian kemanusiaan, bahkan kematian peradaban. Manusia bertanya untuk menciptakan kematian lantaran tidak ingin memiliki pesaing secara aktif kompetitif. Namun pada akhirnya, musim-musim Rendra selalu ditutup dengan jawaban atas pertanyaan yang adalah manusia sendiri. Manusia sebagai pertanyaan menemukan jawaban dalam diri Allah. Rendra pada akhir puisi dalam ontologinya, menutup kisahnya tentang kerinduan manusia pada Allah yang terwakilkan dalam kata ganti pertama “aku.” Tuhan, aku cinta pada-Mu. Adalah salah kalimat Rendra yang menutup kisah dalam ontologi ini. Ia membuka kisah dalam puisinya dengan nama Allah lalu menutupnya dengan nama Allah (Tuhan) pula.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button