Home / Pena_VJB / Tugas NTT Usai Pesta Sail Komodo 2013 (2)

Tugas NTT Usai Pesta Sail Komodo 2013 (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

6oleh: vincentcius jeskial boekan

 

 

moral-politik.com, Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT), suka atau tak suka, dunia telah bersepakat bahwa Komodo telah menjadi salah satu destinasi utama pariwisata dunia, dari enam destinasi utama pariwisata dunia lainnya.

Tentu itu adalah sebuah kenyataan bukan khayal belaka, bukan juga sekedar pernyataan politik untuk menghibur NTT supaya tidak terus menerus batinnya merasa terpuruk akibat tajamnya kesenjangan pembangunan di belahan Nusantara, jika dibandingkan dengan provinsi lainnya, khususnya di kawasan Barat Indonesia.

Sebab—andaikan—angka rupiah sebesar 3 Triliun yang digelontorkan Pemerintah untuk pembangunan infrastruktur penyukses Sail Komodo 2013, dan penyiapan pesta puncak sekitar Rp 60 Miliar yang dijadikan tolok ukur atau indikator dimulainya “keberpihakan” Pemerintah terhadap NTT, maka dapat dikatakan angka itu masih belumlah memadai.

Alasan saya mengatakan demikian oleh karena negara-negara lain yang ingin mendongkrak laju pertumbuhan ekonominya, menggelontorkan dana 10 hingga 20 kali lipat dari Indonesia. Karena apa? Ketika orang-orang cerdas bicara tentang pariwisata maka wawasan pikirnya fokus bahwa pariwisata adalah sebuah bisnis besar, atau dengan perkataan lain sebuah bisnis sangat menggiurkan dan menjanjikan “banget”.

Itu berarti apa? Membutuhkan modal awal yang jauh lebih besar—setidak-tidaknya menyamai negara lain. Jika hanya sebatas retorika belaka, maka setahun kemudian  impian tersebut akan sepurba Komodo yang telah melegenda dunia itu.

Tapi baiklah—itu sekedar awal—jika dalam dunia olahraga, anggaplah sebagai sebuah pemanasan sebelum masuk dalam medan laga percaturan bisnis pariwisata global.

Kendati demikian, sebelum—saya masuk kepada substansi persoalan khusus NTT, saya tetap konsekuen bahwa kepariwisataan adalah bisnis global, bukan bisnis “kita orang kampung”, semisal di kampung saya Waling, Manggarai Timur sana; terpenting bermodalkan secangkir kopi dan sebatang rokok Jitu, semua persoalan bisa dikompromikan hari itu juga, soal kenyataan fisiknya urusan next.

Baca Juga :  Danrem 161/Wirasakti Kupang Ingati Jauhi Narkoba

Artinya apalagi?—tren pariwisata dunia mesti diamati, cermati, pelajari, bahkan bila perlu tinggal di sana berminggu-minggu untuk sebuah riset atau observasi, sebelum mengkonsepkan perencanaan terbaru.

Mengapa diperlukan perencanaan model terbaru?—tanpa apriori—saya hanya mau bilang, kita mesti bernyali untuk menyingkirkan metode yang kerap kali “disakralkan” bahwa membangun bisnis pariwisata harus dimulai dari “proyek master plan”, lalu ramai-ramai berebut dapat order itu, sedangkan sekelompok kecil lainnya berebut dapat komisi sekian prosen, dan akhirnya output-nya copy paste master plan proyek provinsi lain, lalu merubahnya—sangking keburu penghujung tahun anggaran, nama provinsi yang dicuri master plan-nya lupa dihapus, dan akhirnya “kamu ketahuan”.

Lalu apa saja tren pariwisata dunia yang saya maksudkan itu? Bicara tentang tren pariwisata dunia, berarti bicara tentang kecenderungan yang sedang mengemuka di sejumlah benua atau negara, yang benar-benar sangat piawai membaca peluang bisnis dengan menyodorkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru yang sangat unik.

Semisal apa itu? Yahhh—semisal—wanita-wanita cantik yang terobsesi untuk memukau perhatian dunia tentang gaya rambutnya…

bersambung

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button