Home / Pena_VJB / Cerpen: Gosongnya malamku di Kota Kupang

Cerpen: Gosongnya malamku di Kota Kupang

Cerpenis Vincentcius Jeskial Boekan

Bagikan Halaman ini

Share Button

Ketegangan urat kepalaku sontak merenggang manakala seteguk kopi panas-panas seakan ingin menggosongkan lidahku. Kuteguk sekali lagi, dan mataku terang menyalak seperti masih jam 22.00 Wita.

Sebatang rokok kunyalakan dengan pemantik Rp 1000 yang kubeli di Kios Angalai, kutarik asapnya dalam-dalam, kusumbur keluar untuk membentuk formasi bola-bola asap menggumpal. Indah, dan aku pun bisa tersenyum kenes untuk pertama kalinya di Minggu pagi, 6 Oktober 2013.

Aku jadi suka dengan gaya kesendirianku. Merdeka penuh, dan tak terasa aku pun memutar kembali keadaanku tiga puluhan tahun silam, semasa masih merdeka full.

Satu persatu isi ruangan kubugilkan dengan mata telanjang. Apik, bersih dan tampak sangat mewah. Aku pun membayangkan kapan tibanya Kota Kupang, dan NTT se apik dan seindah KFC.

“Sepertinya esok kiamat datang menjumput NTT, jikalau kehidupannya bak dalam KFC,” khayalku, brengsek banget.

Lima wanita muda datang bergabung, kuperhatikan gaya mereka mengenakan rok mini dan dandanan wajah menor. Hatiku berkata, mereka baru usai dari DH lalu ingin merayakan kesuksesan pelayanan kepada pelanggannya.

Makin pagi makin berdatangan pelanggan. Aku suka suasana seperti itu, setidaknya untuk subuh itu. Sebab, berhasil membuat malam gosongku kembali berbinar cerah, semangat mudaku tak mau kalah dengan orang-orang muda kuasa bangkit dan membara.

Ingin rasanya kududuk diantara mereka, untuk nimbrung bercerita, atau paling tidak sekedar menjadi pendengar yang baik. Tapi mana mungkin itu bisa terjadi jika tak seorang pun kukenali, lalu mereka pun tak menunjukkan gelagat welcome terhadapku?

Aku terus mengencani kesendirianku, mengunyah-ngunyah kentang goreng garing, meneguk kopi yang terus panas karena kututup erat-erat, mengisap rokok hingga tak terasa membakar jemariku sendiri.

Baca Juga :  Mengurai Ritus Adat Baru Ende: Pa’a Loka Kelimutu

“Brengsek, lu!” gerutuku, dalam hati.

< 1 2 3 4>

Komentar Anda?

Bagikan Halaman ini

Share Button