Cerpenis Vincentcius Jeskial Boekan
Oleh: Vincentcius Jeskial Boekan *)

MORAL-POLITIK.COM – Siang tadi hujan baru datang — pertama kali turun di Kota Panas, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Aroma tanah masih tercium, kendati malam telah berlalu lebih dari sejam lebih, tepatnya pukul 01.41 Wita.

Penat seharian berhadapan dengan komputer bikin badan ini asam, kepala puyeng, hati bergemuruh. Desakan kuat ingin sesuatu yang lain dari biasanya mendorongku mengambil kunci mobil untuk mengitari kota.

Menyisiri Jalan Nangka hingga ke depan Taman Makam Pahlawan, tak membuatku adem. Begitu tenangnya menjelang subuh, lampu-lampu rumah hanya bernyala di serambi depan, dedaunan pohon tidur pulas; tak datang angin meliuk-liukkannya bukanlah sesuatu yang ingin kukencani karena terlalu biasa.

Aku butuh sesuatu yang seksi, semisal sebuah tempat nyaman walau sekedar duduk bebas menghempaskan tubuh dengan kaki menjulur panjang. Butuh pula secangkir kopi panas-panas dan beberapa kue pisang digoreng manis, sehingga tetap kenyal kendati telah mengunyah beberapa kali, lidah dibakar dan pikiranku bisa dibawanya menerawang jauh-jauh.

Ada di manakah tempat itu?—sudah lebih dari dua ratusan meter tapi bayang-bayang impian itu tak unjuk diri.

Syukurlah di Pasir Panjang, bersebelahan dengan pantai, mataku menatap dua rumah makan yang lampunya bernyala terang, pintu terbuka lebar-lebar tapi tak ada pelanggan di sana; hanya masing-masing ada seorang sedang duduk tepat di tempat panggangan.

Kutepikan mobil, mematikan mesin, membuka pintu, membuang kaki kiri ke atas aspal jalan hitam pekat.

“Ada kopi panas-panas, Mas?” kataku kepada seorang penyaji, seorang lainnya menatapku aneh.

“Mau kopi Tugu Buaya, Om?” katanya, tampak memelas.

Aku menarik napas penolakan—sebab—pernah beberapa kali disuguhi sewaktu bertamu ke rumah teman, tapi tak membuat lidah ini riang, malah perutku tak enak hingga memaksaku berurusan dengan toilet.

“Maaf,” gumamku, “aku permisi”.

Sepanjang pantai hingga ke Kelurahan Oesapa, tak ada satu pun restoran siap melayani. Aku mengambil keputusan untuk menyisiri Taman Nostalgia—aku ingat lebih dari belasan kali pernah ngopi di sebuah kedai kecil—kopinya enak sekali—terakhir kuyakin punya adikku, Yolan.

Sayang di balik sayang…telah tutup, kereta tempat menyiapkan suguhan pun tak tampak lagi—lazimnya, kereta itu mereka angkut pulang, keesokan petang baru dibawa kembali ke Taman Nostalgia.

Aku teruskan penyisiran, penasaran tak berhasil meneguk secangkir kopi di Kota yang konon katanya mau dikembangkan kepariwisataan, mungkin pengaruh dari event Sail Komodo 2013.

Mataku sontak bernyala begitu tiba di depan Flobamora Mal. Satu-satunya KFC masih terang-benderang, tampak belasan tubuh sedang duduk. Aku pun membelokan mobil, memarkir,  mengayuhkan langkah menuju ke dalam ruangan sepanjang 25 meter itu.

Seorang wanita berkulit sawo matang memandang tingkahku memerhatikan menu yang tertera di dinding.

“Aku pesan segelas kopi panas-panas dan kentang goreng,” kataku kepada si sawo matang yang menyorotkan mata siap melayani itu.

Dengan sigapnya dia memersiapkan sehingga tak sampai lima menit  pesanan telah kuterima, lalu aku bergerak menuju ke sudut ruangan yang jendelanya terbuka.

Setelah duduk kulihat anak-anak muda berpasang-pasangan, ada juga dua kelompok pria yang duduk di tempat berlainan. Semuanya asik mengobrol sembari merokok. Manakala tiba pada hal lucu, pecahlah tawa hingga menggetarkan kaca-kaca dinding.

Ketegangan urat kepalaku sontak merenggang manakala seteguk kopi panas-panas seakan ingin menggosongkan lidahku. Kuteguk sekali lagi, dan mataku terang menyalak seperti masih jam 22.00 Wita.

Sebatang rokok kunyalakan dengan pemantik Rp 1000 yang kubeli di Kios Angalai, kutarik asapnya dalam-dalam, kusumbur keluar untuk membentuk formasi bola-bola asap menggumpal. Indah, dan aku pun bisa tersenyum kenes untuk pertama kalinya di Minggu pagi, 6 Oktober 2013.

Aku jadi suka dengan gaya kesendirianku. Merdeka penuh, dan tak terasa aku pun memutar kembali keadaanku tiga puluhan tahun silam, semasa masih merdeka full.

Satu persatu isi ruangan kubugilkan dengan mata telanjang. Apik, bersih dan tampak sangat mewah. Aku pun membayangkan kapan tibanya Kota Kupang, dan NTT se apik dan seindah KFC.

“Sepertinya esok kiamat datang menjumput NTT, jikalau kehidupannya bak dalam KFC,” khayalku, brengsek banget.

Lima wanita muda datang bergabung, kuperhatikan gaya mereka mengenakan rok mini dan dandanan wajah menor. Hatiku berkata, mereka baru usai dari DH lalu ingin merayakan kesuksesan pelayanan kepada pelanggannya.

Makin pagi makin berdatangan pelanggan. Aku suka suasana seperti itu, setidaknya untuk subuh itu. Sebab, berhasil membuat malam gosongku kembali berbinar cerah, semangat mudaku tak mau kalah dengan orang-orang muda kuasa bangkit dan membara.

Ingin rasanya kududuk diantara mereka, untuk nimbrung bercerita, atau paling tidak sekedar menjadi pendengar yang baik. Tapi mana mungkin itu bisa terjadi jika tak seorang pun kukenali, lalu mereka pun tak menunjukkan gelagat welcome terhadapku?

Aku terus mengencani kesendirianku, mengunyah-ngunyah kentang goreng garing, meneguk kopi yang terus panas karena kututup erat-erat, mengisap rokok hingga tak terasa membakar jemariku sendiri.

“Brengsek, lu!” gerutuku, dalam hati.

Manakala pedih jariku hilang, jarum pendek jam tanganku berkata telah pukul 05.00 Wita. Kendati mata masih terang, kantukku masih belum familiar, belum ada aba-aba tempat itu mau ditutup, tapi aku mesti kembali ke rumah sebelum ditelpon, di-sms atau apalah namanya.

Sembari hati tersenyum kuayuhkan langkah. Mataku menangkap dua pria muda duduk sekitar dua meter dari lorong jalan yang hendak kulalui, saling mengerdipkan mata. Aku membelalakkan mata untuk mengatakan kesendirianku bukan karena ingin mengincar sebagaimana yang mereka incar. Mereka pun malu, aku puas. Setidaknya tak sampai harus “menonjok” dengan belalakan mata berikutnya.

Siang telah datang. Dari arah Timor Leste sana, mentari telah terbit dari peraduannya. Sinarnya yang memerah itu sebuah kencan indah yang kubawa hingga menghempaskan tubuh di atas peraduan, dan aku pun tak tahu lagi apa yang bakal kuimpikan.

*) Cerpenis seorang Novelis, tinggal di Kota Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 + = 11