Manakala pedih jariku hilang, jarum pendek jam tanganku berkata telah pukul 05.00 Wita. Kendati mata masih terang, kantukku masih belum familiar, belum ada aba-aba tempat itu mau ditutup, tapi aku mesti kembali ke rumah sebelum ditelpon, di-sms atau apalah namanya.

Sembari hati tersenyum kuayuhkan langkah. Mataku menangkap dua pria muda duduk sekitar dua meter dari lorong jalan yang hendak kulalui, saling mengerdipkan mata. Aku membelalakkan mata untuk mengatakan kesendirianku bukan karena ingin mengincar sebagaimana yang mereka incar. Mereka pun malu, aku puas. Setidaknya tak sampai harus “menonjok” dengan belalakan mata berikutnya.

Siang telah datang. Dari arah Timor Leste sana, mentari telah terbit dari peraduannya. Sinarnya yang memerah itu sebuah kencan indah yang kubawa hingga menghempaskan tubuh di atas peraduan, dan aku pun tak tahu lagi apa yang bakal kuimpikan. *

Baca Juga :  Ronda: Diduga Kadispar Pangkas Biaya Perjalanan untuk Pilkada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here