Home / Sejarah / 2 catatan kompilatif riwayat nama Manggarai (1)

2 catatan kompilatif riwayat nama Manggarai (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

20

 

 

Moral-politik.com : Mungkin banyak diantara kita yang belum mengetahui asal-usul nama Manggarai yang saat ini sudah dikenal luas hingga ke mancanegara, karena Pulau Komodo yang kini terpilih menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia baru (New Seven Wonders).

Berikut catatan kompilatif tentang riwayat nama Manggarai sebagaimana dikutip dari cvgraffiko.blogspot.com:

Pada tahun 1860 seorang pedagang yang bernama Freijss menjelaskan bahwa nama Manggarai berasal dari kata manga raja. Kata ini diterjemahkan oleh Freijss secara salah rajamenschen (manusia raja). Manusia raja ditafsirkannya sebagai hamba-hamba milik raja.

Tafsiran ini keliru atau bahkan salah. Kesalahan pertama, dalam bahasa Manggarai yang kita kenal sekarang kata manga mempunyai dua arti : ‘ada, mempunyai’ dan ‘lama’. Kedua, kata raja mempunyai dua arti : ‘sebab-musabab, masalah’ dan ‘biasa, nyata/kelihatan’. Jadi, kata manga dan raja tidak berkaitan dengan manusia raja (hamba-hamba milik raja). Manggarai yang berarti manusia raja tidak benar karena saat itu tidak semua orang Manggarai menjadi hamba.

Tahun 1967 Verheijen mengutip keterangan orang Bima, “Manggarai ialah gabungan dari kata mangga = sauh dan rai = melari, berpautan dengan suatu peristiwa dahulu.” Peristiwa apa itu? Konon pada tahun 1767-an Mangga Maci bersama dengan tiga saudaranya (Nanga Lere, Tulus Kuru, dan Jenaili-Woha) diutus Bima untuk menaklukkan Manggarai. Ketika mereka sedang membongkar sauh saat mau mendarat di Pelabuhan Kedindi (Reok), pasukan Cibal menyerang dan memotong sauh (mangga dalam bahasa Bima). Mangga Maci bersaudara pun berteriak, “Mangga-rai (sauh berlari)!”

Tahun 1999 Dami N. Toda  menolak adanya hubungan kedatangan Mangga Maci dengan nama Manggarai. Dami N. Toda memberikan penjelasan berhubungan dengan kemiripan kisah “sauh hanyut” di atas bahwa alur peristiwa sejarah yang tertulis di dalam naskah H. Achmad/Held sebagai berikut.

Baca Juga :  Melacak Kiprah Melania Trump di AS dari Foto-foto Bugil di tahun 1995

a. Pada bulan Maret 1845 armada ekspedisi Bima bertolak ke Pelabuhan Kedindi (Reok). Armada tersebut dipimpin raja bicara (pengadil) Bima (Muhammad Yakub) dan Bumi Luma Rasanae. Mereka melaksanakan tugas untuk memanggil Naib Reo dan Naib Pota beserta dengan “tatarapang” (keris tanda kekuasaan).

b. Setelah seminggu berlabuh, tiba-tiba pada tanggal 20 Maret 1845 jangkar-jangkar perahu hanyut ke laut karena terpukul angin barat daya yang sangat kencang. Peristiwa itu tentu menimbulkan kepanikan, tetapi orang-orang yang panik itu tidak  mengeluarkan kata-kata “Mangga-rai (sauh hanyut)”.

Lebih lanjut Dami N. Toda menjelaskan bahwa sudah lama sebelum kejadian itu Mangga Maci sudah meninggal. Selain itu, nama Manggarai yang terekam di Betawi (Jakarta) pun sudah lanjut berumur 200-an tahun sejak tahun 1660-an. Belum lagi ditarik hitungan lebih tua berdasarkan kehadiran nama Manggarai di dalam buku Undang-Undang Laut : Amanna Gappa Bugis-Makasar dan Catatan Harian Raja-raja Goa-Tallo.

Dua raja dari kerajaan kembar Goa-Tallo itu bernama I Manggorai Daeng Mametta Karaeng Bontolangkasa dan I Manga’rangi Daeng Manrabbia Karaeng Lakiung. Kedua raja tersebut memang masuk Bima melalui Sape dari arah Wareloka daratan Manggarai pada tahun 1626.

Dengan demikian, kita bisa beranggapan bahwa kemungkinan nama Manggarai berkaitan dengan kedua nama raja tersebut. Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi jika dikaitkan dengan dua hal berikut.

Pertama, di Manggarai memang terdapat beberapa sisa nama tempat yang berbau Sulawesi Selatan seperti Labuan Bajo, Gunung Tallo, pelabuhan tua Wareloka di barat daya Manggarai.

Kedua, sebagian orang Manggarai  dalam pemberian nama anak pada zaman sekarang ini cenderung “mengimpor” nama-nama yang terkenal dari luar Manggarai. (ale)

 

bersambung

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button