Home / Sejarah / 2 catatan kompilatif riwayat nama Manggarai (2)

2 catatan kompilatif riwayat nama Manggarai (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

21

 

 

 

Moral-politik.com : Kemungkinan lain bisa dipertanyakan, apakah manusia manggarao dalam mitos Watu Manggar berkaitan dengan kedatangan raja Goa-Tallo tersebut? Dalam mitos Watu Wangka (batu perahu) dan Watu Manggar  (batu jangkar/sauh) di Manggarai Barat dikisahkan bahwa perahu leluhur yang datang dari luar Manggarai kandas di Sungai Wae Raho, tetapi manggar (jangkar) dari perahu tersebut terus dibawa ke hulu Sungai Wae Raho (di Kampung Kilor sekarang).

Jangkar itu ditambatkan pada batu berupa balok yang ditancapkan ke dalam tanah di atas bukit.  Konon pada zaman itu “manusia” tiba-tiba manggarao (seperti banyak orang berdiri) di sekitar batu yang belakangan ini disebut watu manggar. Asal-usul “manusia manggarao” itu dikisahkan sebagai bukan ata raja (manusia biasa), melainkan ata pali sina (manusia halus, dewa).

Mitos Watu Manggar mengenai manusia manggarao di Kilor itu diceritakan oleh Empo Mashur ke Todo. Konon Empo Mashur yang datang dari luar Nunca Lale berjalan melewati Kilor sebelum meneruskan perjalanannya menuju Todo.
Namun, hubungan kisah manusia manggarao dalam mitos Watu Manggar dengan nama Manggarai sulit diterangkan lebih lanjut karena belum ditemukannya bukti sejarah.

Nama Manggarai pun masih sulit untuk langsung dihubungkan dengan kedatangan Raja Goa-Tallo (Manggorai dan Manga’rangi) karena belum ada bukti-bukti yang kuat untuk itu.
Lepas dari masalah asal-usul nama Manggarai, kenyataan sejarah sekarang ini telah mengukir nilai historis yang baru di dalam nama Manggarai, yaitu nilai kemajuan atau perkembangan Manggarai menjadi tiga kabupaten yang terus mekar :
(1)   Kabupaten Manggarai, ibu kotanya Ruteng;
(2)   Kabupaten Manggarai Barat, ibu kotanya  Labuan Bajo;
(3)   Kabupaten Manggarai Timur, ibu kotanya Borong.

Kabupaten Manggarai Barat diresmikan pada tanggal 27 Januari 2003 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2003. Kabupaten Manggarai Timur diresmikan pada tanggal 17 Juli 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2007.

Baca Juga :  Wow! Pidato Trump mirip Bane, musuh Batman

Namun demikian, tetap harus disadari terus-menerus bahwa keterangan barat dan timur itu hanya bersifat  administratif pemerintahan. Tanah Manggarai sebagai tana mbaté disé amé (tanah warisan leluhur) tetap mempunyai satu spirit budaya, yaitu lonto léok bantang cama réjé léléng (musyawarah mufakat) untuk menata kemajuan.

Untuk mencapai kemajuan itu, tidak cukup hanya dengan modal kemampuan kerja sama. Kemampuan yang lebih penting dari kemampuan kerja sama ialah kemampuan saling menjadi sesama berdasarkan pikiran positif tentang sesama.

Kemampuan saling menjadi sesama berarti kemampuan untuk menyingkirkan pikiran negatif tentang cama iten (sesama kita orang Manggarai). (ale)

 

habis

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button