Home / Populer / 5 alasan keputusan MK beraroma ‘Judicial Corruption’ (1)

5 alasan keputusan MK beraroma ‘Judicial Corruption’ (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

2
Oleh Vincentcius Jeskial Boekan

 

 

Moral-politik.com : Mahasiswa semester I Fakultas Hukum di Universitas manapun pasti bisa menduga bahwa putusan Mahkamah Agung (MK) tentang Pemilu Serempak 2019 itu beraroma judicial corruption.

Indikator kearah sana bisa dicermati mulai dari : Pertama, pengakuan mantan Ketua MK Mahfud MD bahwa keputusan Pemilu Serempak sudah diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) pada 26 Maret 2013. Kala itu, dirinya masih menjabat Ketua MK. Kemudian tak sampai 1 pekan, 1 April 2013 Mahfud tak lagi menjabat posisi itu.

Kedua, Akil Mochtar setelah menggantikan posisi Mahfud MD sarat dengan praktik dugaan korupsi sehingga bukan tidak mungkin dirinya dipengaruhi untuk tidak segera menindak lanjuti keputusan RPH yang sudah diketok palu oleh Majfud MD pada tanggal 26 Maret 2013.

Ketiga, Ketua MK saat ini Hamdan Zoelva juga tahu hasil Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) pada 26 Maret 2013 yang dipimpin Mahfud MD, karena putusan itu diketok oleh Mahfud MD, Akil Mochtar, Achmad Sodiki, Hamdan Zoelva, Muhammad Alim, Ahmad Fadlil Sumadi, Maria Farida Indrati, Harjono, dan Anwar Usman. Dari kesembilan Hakim MK itu, yang sudah pension baru tiga orang : Mahfud MD dan Achmad Sodiki kini telah pension, serta Akil Mochtar yang belakangan menjadi Ketua MK ditangkap KPK atas dugaan kasus korupsi.

Keempat, mengapa begitu Hamdan Zoelva menjadi Ketua MK tidak lansung menindak lanjuti keputusan Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) pada 26 Maret 2013 tersebut, tapi baru pada Kamis (23/1/2014) ?

Kelima, Baru pernah terjadi dalam sejarah MK ada keputusan “Banci”—selama ini hanya dua alternatif : Menerima atau Menolak gugatan. Tapi pada keputusan kemarin itu, MK bikin sejarah baru : Mengabulkan gugatan dari Pakar Komunikasi Politik Universitas Indonesia (UI) Effendi Gazali.

Baca Juga :  Ahok Ngamuk: Abraham Samad Dipecat karena Bocorkan Sprindik!

Mungkin oleh karena kelima indikator di atas bikin para hakim konstitusi memilih buru-buru memasuki mobil dan enggan memberikan komentar atas keputusan mereka usai sidang.

“Ya yang diputuskan baru satu, yang lain belum,” kata hakim konstitusi Harjono di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat seraya buru-buru masuk mobil tanpa menjelaskan maksud ucapannya lebih lanjut.

“Iya, Mahfud yang memutuskan,” ujar Harjono.

“Mengapa bukan Mahfud yang membacakan?” kejar wartawan.

“Bukan hakim lagi kok,” jawab Harjono menutup pintu mobilnya. (bersambung)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button