Home / Sejarah / Alkisah asal-usul manusia Belu, Timor dan kepulauan sekitarnya (3)

Alkisah asal-usul manusia Belu, Timor dan kepulauan sekitarnya (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button

1

Moral-politik.com : Menilik kisah leluhur dari Manu Aman Lakaan di atas, kita mengerti bahwa generasi inilah, yang merupakan penghuni asli dan pertama di pulau Timor. Karena leluhur tercinta Laka Loro Kmesak tidak berasal dari salah satu tempat lain, tetapi turun ke puncak Gunung Lakaan, maka Beliau dijuluki Turu-Monu … menetes dari atas, jatuh dari atas. Semua generasi Turu-Monu inilah yang kelak dijuluki: Fohonain, Rainain, pemilik gunung, pemilik tanah, Ainain, Fatuknain, Pemilik Pohon Besar, Pemilik Batu Besar.

Dalam perkembangan selanjutnya, ketika seluruh tanah Timor mulai terlihat, karena air mulai mengering, sebagian anak-anak dan cucu-cucu dari Puncak Gunung Lakaan pun mulai menyebar, tidak hanya di sekitar kaki Gunung Lakaan, namun juga sampai ke Mandeu, Naitimu, Lidak, Jenilu, Lakekun, Litamali, Alas, Biboki, Insana, Wehali, Maukatar, Lubarlau, Ramelau, Sabu, Rote bahkan Flores.

Dan kelak, ketika keturunan Manuaman Lakaan yang di tempat-tempat lain, berkembang biak, mereka mendatangi lagi Gunung Lakaan dan mereka dianggap saudara-saudari yang sudah moris kdok, tubu-kdok, wa’i kdok, bea kdok. Fila nikar Fohorai, To’o nikar Fohorai.

Oleh karena mereka di tempat mereka sebelumnya, mereka pun sudah tinggal menetap dan berkuasa atas tanah dan gunung yang baru, mereka seolah-olah memiliki dua kewarganegaraan, warga di tempat baru, atau pun warga di Gunung Lakaan sendiri.

Maka ada istilah, Ba ne’e ba uma, mai ne’e mai uma. Artinya, ke sana pun rumah, ke sini pun rumah. Bukanlah negeri asing, dan bukanlah pendatang. Mereka inilah yang kelak dijuluki Raioan, Foho Oan. Artinya Anak-cucu dari Tanah Ini dan Anak-cucu dari Gunung ini … artinya mereka sudah pernah marantau toh kembali juga kepada haribaan Bumi Pertiwi Lakaan.

Baca Juga :  Pemkab Belu Mantapkan Relokasi 40 Pahlawan Seroja dari Timor Leste !

Selain itu, ada juga kelompok yang lebih jauh datangnya …. Dari Asia, dari Malaka, menyinggahi berbagai pulau, berbagai pelabuhan, namun terus mencari kalau Timorlah yang mereka cari. Pencarian akan Timor ini pun memungkinkan karena anak-cucu Manuaman Lakaan sudah tersebar luas ke mana-mana, dan mereka mengisahkan kepada orang luar bahwa Timor adalah tanah impian, negeri Putri Laka Loro Kmesak yang adalah Tuan Putri yang Sakti.

Sebagaimana sudah disinggung di atas, kalau Sang Putri yang merupakan Leluhur Orang Timor itu, entah dengan kesaktiannya, menjumpai Sang Pangeran dari Asia atau dari mana pun? Ini juga menjadi daya pikat orang-orang yang merasa kalau ternyata Sang Putri ada ikatan juga dengan mereka.

Kehadiran kelompok ini dijuluki: Dina Oan Bada Oan. Artinya Orang-orang yang tiba di Timor dari tempat jauh, mereka mungil, elok dan molek, dikasihi, dan dimanjakan. Rupanya Keturunan Asli Manuaman Lakaan berbadan tegap dan besar.

Mereka yang terhitung dalam kelompok Dina Oan-Bada Oan, cantik, mungil, patut dikasihi, karena dalam misteri tertentu, leluhur mereka dan leluhur Manu Aman Lakaan Nain masih ada ikatan rahasia.

Kelompok Dina Oan – Bada Oan ini menurut para Mako’an Belu, terdiri atas lima gelombang kedatangan, masing-masing:
1. Ema Melus. Besar kemungkinan berasal dari Asia Tenggara, namun pernah lama di Melanesia (Pasifik).
2. Ema Lubu-Doha. Besar kemungkinan berasal dari dari Asia Tenggara namun pernah lama di Luwuk-Donggala (Sulawesi), melewati Larantuka dan Lamaholot.
3. Ema Luta Rato Jo Pata atau Luta Tefa, kemungkinan berasal dari India, namun pernah lama di Sumatra, melewati Sumbawa, Flores, Sumba.
4. Ema Kisar Sit, kemungkinan berasal dari Asia Tenggara, namun pernah lama menetap di Maluku.
5. Sina Mutin Malaka, kemungkinan berasal dari Cina Selatan dan Malaka.

Baca Juga :  Aburizal Bakrie Lempar Handuk?

Boleh dibilang kalau kebanyakan orang-orang Dina-Bada datang dari Asia-Pasifik, Asia Tenggara dan Selatan. Ini memang cukup beralasan, karena ras Timor memang lebih merupakan campuran antara ras Asia Tenggara, Asia Selatan dan Pasifik. Namun, untuk kebudayaan Timor, paduan antara Turu-Monu dan Kisar Sit, konon dinilai lebih dominan.

Ini bisa terlihat dari relasi Tihar (gendang di Belu) dan tifa (di Maluku). Kain tenun ikat Timor dan Maluku yang sangat bermiripan. Tentu akar budaya Maluku sendiri tidak bias dilepaskan dengan akarnya yang bias saja berasal dari kebudayaan sekitar Asia Tenggara (seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Malaysia) dan Asia Selatan (India).

Dalam rentang waktu yang lama, gelombang Dina Oan-Bada Oan susul-menyusul tiba di Timor. Dan begitu tiba, mereka selalu membawa peradaban baru sesuai kultur yang mereka kenal sebelumnya. Entah itu merabu, berburu, bertani, menenun, menyadap tuak, pandai besi, logam, beternak, sampai nelayan. Mereka pun memperkenalkan budaya gong (tala), tambur kecil (tihar), tambur besar (tuhun) dan seterusnya.

Selain terjadi interaksi sosial di antara mereka, yakni penduduk asli dan kelompok dina-bada, terjadi pula hubungan kawin-mawin yang mana kian lama, kian mengikatpadukan mereka semua, menjadi anak-anak yang bertumbuh bersama di bumi Timor, dan khususnya menjadi orang Belu.

Bahasa-bahasa yang ada di Timor, misalnya Tetun, Dawan, Sabu, Rote, Kemak dan Bunak, selain punya kesamaan atau kemiripan tertentu antarmereka (bahasa-bahasa itu), juga kalau disimak lebih jauh, tidak terlalu jauh juga relasinya dengan Bahasa-bahasa di Asia Selatan (India), dan lebih khusus lagi ada relasi lebih kuat dengan Bahasa-Bahasa Asia Tenggara seperti Bahasa Melayu, Bahasa-Bahasa Nusantara, Tagalok serta Bahasa-Bahasa Pasifik.

Menurut penelitian para ahli Bahasa, Bahasa Bunak lebih erat terkait dengan Kultur Pasifik. Bahasa Tetun lebih terkait dengan Unsur Melayu. Namun karena hidup bersama yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun, kelak, terasa bahwa antara bahasa-bahasa di Timor sendiri, telah terjadi pengaruh-mempengaruhi satu sama lain. (ale)

Baca Juga :  Ilmuwan Nuklir Iran Shahram Amiri 'Sudah Dieksekusi'

habis…

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button