Home / Gosip / Ardi Kurniawan : Soeharto, Rendra, dan Kritik Sosial

Ardi Kurniawan : Soeharto, Rendra, dan Kritik Sosial

Bagikan Halaman ini

Share Button

18

 

 

Moral-politik.com : Saat ini Soeharto mungkin sedang tidur dengan tenang di langit. Tidak lagi mencemaskan dan mengkhawatirkan kritik sosial yang kerap dilontarkan kepadanya dan Orde Baru. Kritik yang kerap disuarakan seniman semacam Rendra. Kritik yang dulu harus dibungkam dengan berbagai cara.

Selama 15 tahun setelah reformasi, sosok Soeharto bangkit kembali. Tidak, ia tidak turun dari langit dalam rupa cahaya layaknya juru selamat. Ia hadir dalam berbagai citra visual di sepanjang jalan. Ia hadir membawa pesan yang jelas. Sambil memamerkan senyumnya yang terkenal, sang jenderal diandaikan bertanya kepada kita dengan retoris. “Piye? Isih penak jamanku to?”

Entah siapa yang pertama kali menghadirkan sosok itu. Lepas dari aspek politik yang mungkin ada, gambar semacam itu makin masif hadir di tengah masyarakat saat ini. Perilaku tersebut bisa dibaca sebagai bentuk reaksi masyarakat terhadap krisis situasi saat ini. Kecenderungan manusia sebagai sosok yang romantik dan nostalgik, membuat situasi di masa lampau yang konon nyaman, aman, tenteram, dan harmonis, dirindukan.

Apabila sosok Soeharto, dengan tujuan mockery atau mengejek, divisualkan di masa ia bertakhta, bisa dipastikan pelakunya dikenai tuduhan subversif. Dalam bahasa yang kini klise, pelaku diamankan oleh aparat. Seno Gumira Ajidarma, wartawan yang pernah dibebastugaskan dari majalah Jakarta-Jakarta karena mengizinkan laporan kekejaman Orde Baru di Timor Timur dituliskan, meringkas sekaligus memetaforkan praktik pembungkaman kesenian yang dilakukan pemerintah dalam cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

Cerpen itu menceritakan perempuan muda bernama Zus yang dilarang menyanyi di kamar mandi. Siapa yang melarang? Para istri yang merasa terganggu karena suami mereka kerap meneriakkan nama Zus saat bercinta. Para istri yang suaminya menjadi dingin di ranjang setelah mendengar Zus bernyanyi. Suara Zus yang seksi saat bernyanyi di kamar mandi dianggap membangkitkan imajinasi liar para suami. Situasi ini dianggap para istri membahayakan keharmonisan rumah tangga dan keharmonisan kampung tersebut. Para istri tersebut kemudian meminta ketua rukun tetangga (RT) menghentikan Zus bernyanyi di kamar mandi.

Baca Juga :  Aming akhirnya bongkar sosok Evelyn yang sesungguhnya

Dalam pengantar kumpulan cerpen berjudul sama tersebut, Seno mengungkapkan proses kreatif penulisan cerpen itu memang berasal dari berita dihentikannya pertunjukan Teater Koma, Suksesi, pada 1990. Ia heran, berkesenian saja kok dimusuhi seperti itu. Meskipun di masa Orde Baru, pelarangan pertunjukan seni yang bertendensi kritik sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Pembacaan puisi Rendra kerap disusupi intel dan Remy Sylado yang kerap diinterogasi polisi seusai menampilkan teater menggambarkan situasi kesenian di masa Orde Baru.

Tapi itu dulu. Setelah reformasi bergulir dan bergonta-ganti presiden, sensor terhadap praktik kesenian mulai berkurang, bahkan dapat dikatakan tidak ada sama sekali. Kini, baik secara kolektif atau individu, kesenian yang menampilkan kritik terhadap pemerintah atau masyarakat, bebas disuarakan. Tidak ada yang akan meneror, menginterogasi, atau memata-matai pertunjukan kesenian dalam bentuk apa pun. Bahkan, di abad informasi saat ini, rakyat bisa dengan mudah, murah, dan beramai-ramai, mengkritik langsung presiden, wakil presiden, atau menteri, bila ia memiliki akun media sosial. Periksa saja mention ke akun resmi @SBYudhoyono lewat fitur pencarian di Twitter. Anda akan menemui miskinnya pujian terhadap sosok di balik akun tersebut dan lebih banyak menemukan keluhan dan kritikan.

Jika situasinya demikian, persoalannya sekarang apakah kritik tersebut efektif? Atau yang lebih penting, apakah kritik tersebut didengar? Apakah mampu mengubah situasi? Di masa semua orang ingin bicara dan didengar, namun enggan mendengar, apa yang bisa diharapkan dari sebuah kritik? Di zaman kesenian tidak terlalu diperhatikan, bahkan diacuhkan penguasa saat ini, apa yang bisa diharapkan dari kritik? Kritik dilakukan di film, sastra, cerpen, koran, teater, sampai media sosial. Tapi apa didengarkan? Jangan-jangan, justru mendiang Soeharto di langit sana yang terus mengawasi, mengontrol, dan memperhatikan kritik sosial yang ditujukan pada situasi saat ini. Mungkin juga Soeharto di sana bertanya pada Rendra, “Piye? Isih penak jamanku to?”

Baca Juga :  Presiden Jokowi saksikan kerjasama NTT & DKI di Bidang Peternakan

Sumber : Beritasatu.com

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button