Home / Populer / Banjir terus mencemaskan Jakarta, quo vadis pemimpin?

Banjir terus mencemaskan Jakarta, quo vadis pemimpin?

Bagikan Halaman ini

Share Button

6

 

 

Moral-politik.com : DKI Jakarta adalah sebuah kota kecil yang disamping sebagai sebuah wilayah provinsi, juga adalah Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai Ibukota NKRI, Jakarta menampung semua keluh kesah dan pujian atas kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kemasyarakatan di 33 provinsi.

Jakarta juga sebagai tempat penampungan mahasiswa dan siswa dari 33 provinsi, termasuk dari luar negeri. Penampungan wisatawan mancanegara, wisatawan Nusantara–baik itu Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Anggota DPRD di NKRI yang “berwisata” menggunakan uang negara (Surat Perintah Perjalanan Dinas).

Dan, satu yang tak kalah menyebalkan adalah sebagai tempat penampungan banjir dari dua provinsi : Jawa Barat dan Banten.

Melihat realitas di atas, secara berkelakar bisa dikatakan bahwa sosok yang jadi Gubernur DKI Jakarta adalah “Presiden Kecil” dengan tugas besar karena harus menampung semua beban permasalahan yang terjadi.

Kepemerintahan Pusat jika “frigit” terhadap pembagian kewenangan yang diatur oleh Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, maka bisa dianalogikan sebagai sebuah Kedutaan Besar yang posisinya “Floating Air” maka dia tak ubahnya laksana penonton yang baik. Bisa bertepuk tangan, bisa juga kecewa karena harapan tak tercapai.

Politik memang penuh lika-liku, dan sebuah seni dalam permainan–apalagi 2014 ini adalah Tahun Politik. Jadi, permasalahan banjir Jakarta terpulang kepada hati nurani mereka-mereka yang sesungguhnya bisa berkompoten menanganinya.

Ok, itu awal untuk masuk dalam urain Kompas.com tentang realitas kekinian, yaitu drainase dan situ yang ada di Jakarta tidak mampu  menampung curah hujan yang turun sejak Selasa (28/1/2014) petang hingga Rabu siang. Warga Ibu Kota yang pulang kerja pada Selasa malam dan berangkat kerja Rabu pagi tersiksa kemacetan parah.

Baca Juga :  Regen Mesah dan Artis Indonesia di Timor Leste

Warga Ibu Kota dan sekitarnya sengsara karena jaringan transportasi seakan lumpuh, ribuan rumah warga kembali terendam, dan aktivitas warga pun terganggu. Sementara hujan diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Januari.

Setidaknya ada 28 ruas jalan di Jakarta tergenang. Perjalanan kereta api dalam kota yang menghubungkan Manggarai-Tanah Abang-Jatinegara kembali terhenti di Stasiun Kampung Bandan. Jaringan rel yang berada di stasiun itu kembali tergenang air. Sementara 76 RW di 21 kelurahan tergenang. Peristiwa ini memaksa 9.985 warga meninggalkan tempat tinggalnya ke lokasi pengungsian.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan, untuk hari ini dan besok, di wilayah Jakarta dan kota di sekitarnya diguyur hujan lebat.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Heru Widodo mengatakan, kemarin mereka kembali memodifikasi cuaca agar intensitas dan curah hujan di Jakarta dan sekitarnya lebih kecil.

Meskipun hujan turun tidak merata di wilayah DKI Jakarta dan daerah sekitarnya, intensitasnya amat lebat. Akibatnya, sejumlah akses menuju Ibu Kota terhambat banjir.
Tol banjir

Kepala Satuan Lalu Lintas Polda Metro Jaya Wilayah Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar Supoyo mengatakan, genangan masuk ke ruas jalan Tol Dalam Kota yang memicu kemacetan di Tol Jakarta-Cikampek. Banyak kendaraan di dalam tol itu akhirnya keluar di pintu Cawang Interchange dan masuk ke Jalan DI Panjaitan. Akibatnya, Jalan DI Panjaitan yang sudah dipadati kendaraan bertambah padat.

Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, tak bisa dilewati kendaraan karena ada genangan mencapai 60 sentimeter. Akibatnya, arus kendaraan dari arah Depok, Bogor, serta pinggiran Jakarta Selatan hanya bisa menggunakan satu ruas saja. Kemacetan di ruas itu tak terurai hingga sore hari.

Baca Juga :  TPI Kota Kupang kembali normal setelah didera isu Formalin (10)

Di Jakarta Barat dan Jakarta Utara, kondisinya tak jauh beda. Di ruas Jalan S Parman, tepatnya di depan Universitas Trisakti, arus lalu lintas terputus karena genangan amat dalam.

Di Jakarta Pusat, banjir menggenangi Jalan Gunung Sahari, Jalan Samanhudi, Jalan Kartini Raya, dan Pangeran Jayakarta. Genangan terjadi karena luapan Kali Ciliwung Kecil di sisi Jalan Gunung Sahari hingga sekitar 60 cm. Genangan tersebut membuat lalu lintas kacau. Banyak kendaraan mengabaikan rambu dan lampu lalu lintas, bahkan melawan arus.

Sementara di Jalan Ciledug Raya penghubung Tangerang dan Jakarta Selatan sempat terhambat lalu lintasnya di pertigaan Swadarma. Bahkan, hingga Rabu sore, genangan di kawasan itu mencapai 20-30 cm.

Cuaca ekstrem juga menghambat perbaikan jaringan kabel bertegangan tinggi kereta rel listrik yang putus. Akibatnya, kata Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Sugeng Priyono, terjadi penumpukan penumpang di beberapa stasiun seperti Palmerah dan Kebayoran.

Penyebab banjir

Kepala Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta Manggas Rudy Siahaan menuturkan, banjir kali ini terjadi karena curah hujan yang sangat tinggi. Sementara kemampuan jaringan drainase terbatas.

”Hitungan kami, paling tidak ada 65 juta meter kubik air yang turun ke Jakarta sejak Selasa malam hingga Rabu pagi. Saat itu rata-rata curah hujan di atas 100 milimeter,” kata Rudy.

Semua kali besar di Jakarta, kecuali Kali Ciliwung, meluap. Seharusnya lebar rata-rata kali itu paling tidak 20 meter. Kini faktanya banyak yang hanya 6 meter. Inilah yang menyebabkan daya tampung kali sangat terbatas sehingga tidak mampu menampung guyuran hujan lebat dalam durasi waktu lama.

Kondisi ini diperburuk dengan jaringan kali yang belum tertata baik. Contohnya pertemuan Kali Cipinang dengan Kali Malang di Cawang. Arus Kali Cipinang tidak dapat leluasa masuk ke Kanal Timur karena terhambat sumbatan saluran yang terlalu kecil.

Baca Juga :  Pemkot Kupang harus tegas terhadap Penunggak Pajak

Menanggapi bencana ini, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ingin mempercepat langkah penanganan. Langkah yang dimaksud adalah mengeruk semua saluran air, waduk, dan normalisasi sungai. Kemarin, Jokowi mengunjungi lokasi banjir di RW 004 Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur. Di RW 004 hanya satu RT, yakni RT 010, yang tergenang air akibat luapan Kali Sunter. Kawasannya mencakup Kampung Sawah dan Kompleks Cipinang Indah. Setidaknya 300 jiwa terpaksa mengungsi.

Ahli hidrologi Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Firdaus Ali, mengatakan, daya dukung lingkungan Jakarta memang lemah. Tanah mulai jenuh karena sudah diguyur hujan satu bulan terakhir sehingga daya serap air semakin kecil. ”Perlu terobosan baru. Jika perlu, memperbanyak resapan artifisial yang mulai dicoba di beberapa tempat di Jakarta,” kata Firdaus

Di Kabupaten Tangerang, Banten, banjir setinggi 1,5 meter memutuskan jalan di Desa Cisereh, Kecamatan Tigaraksa. Jalan Raya Jambu, merupakan akses utama dari dan menuju desa tersebut, terendam banjir sejak Selasa tengah malam.

Terakhir, semoga semilir angin segera datang melumat kecongkakan-kecongkakan struktural, politik agar tidak semakin banyak jatuh korban jiwa, tidak merambahnya wabah penyakit, anak-anak sebagai generasi penerus cita-cita bangsa dapat bersekolah dengan baik, dan para orangtua kembali mencari seonggok nasi bagi kelanjutan hidup diri dan keluarganya.

Coba kita renungkan….

 

Penulis : Vincentcius Jeskial Boekan

 

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button