Home / Sport / Berkas mantan Kepsek SMKN 3 Kupang dilimpahkan

Berkas mantan Kepsek SMKN 3 Kupang dilimpahkan

Bagikan Halaman ini

Share Button

lusia

 

Moral-politik.com : Tim penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Kupang melakukan pelimpahan tahap dua terhadap berkas dan tersangka Lusia Mandala, mantan Kepala SMK Negeri 3 Kupang dan Andreas Olla ketua panitia pembangunan dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) SMKN 3 Kupang seniai Rp 3, 9 miliar Tahun Anggaran 2010-2011.

Pelimpahan berkas kedua tersangka kasus dugaan korupsi proyek pembangunan ruang kelas baru pada SMK Negeri 3 Kupang, senilai Rp 3,9 miliar ini, dilakukan setelah tim penyidik merampungkan berkas pemeriksaan kedua tersangka, dan menyatakan telah lengkap atau P-21.

Sebelumnya, tim penyidik juga lebih dahulu melakukan pelimpahan tahap dua terhadap berkas dan tersangka I Gusti Ngurah Wira Putra, selaku tim perencana pengawas proyek dimaksud. Dengan pelimpahan tahap dua ketiga tersangka, pihak Kejari Kupang dalam pekan ini bakal melimpahkan kasus ini ke tahap penuntutan di Pengadilan Tipikor Kupang.

Kasi Pidsus Kejari Kupang Tedjo Sunarno, kepada Moral-potik.com, Selasa (21/1/2014) di Pengadilan Tipikor Kupang mengaku, pasca pelimpahan tahap dua, pihaknya telah membentuk tim jaksa penuntut umum (JPU), dan diikuti persiapan surat dakwaan guna persidangan di Pengadilan.

“Kita rencana secepatnya untuk limpahkan kasus ini ke Pengadilan Tipikor,” katanya.

Untuk diketahui, tersangka Andreas Olla selaku ketua panitia pembangunan proyek, sebelumnya menyatakan audit BPKP Perwakilan NTT menemukan kerugian negara senilai Rp 260 Juta, terlampau besar, mengingat ada sejumlah kwitansi yang belum diserahkan kepada bendahara, dan tidak diaudit BPKP.

Andreas juga membenarkan semua mekanisme pencairan berdasarkan rencana penggunaan dana (RPD), dan menyatakan kwitansi yang dianggap fiktif, karena ada sejumlah dana yang dipakai untuk biaya makan minum dan akomodasi tamu-tamu dari Jakarta, dan itu tidak masuk dalam RPD. Namun begitu, oleh pihak Kejari Kupang, menyatakan Andreas ikut menandatangani kwitansi fiktif yang dijadikan bukti pertanggungjawaban terhadap dana yang dikeluarkan.

Baca Juga :  TTU: Petugas Polres Dinilai Tidak Serius

Sementara itu, Lusia Mandala, yang dalam proyek ini terlibat sebagai kepala sekolah dan sekretaris Proyek Implementasi Unit (PIU) mengaku keberatan dijadikan tersangka, karena Ketua PIU, I Nyoman Martayasa, tidak ikut ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus itu. Menurutnya, segala keputusan yang diambil, merupakan keputusan bersama dengan I Nyoman Martayasa selaku Ketua PIU dan Ketua Komite.

Lusia yang menghuni Lapas Wanita Kelas III Kupang, menyebutkan bahwa ada pembangunan fisik dan item-item pekerjaan yang dalam rencana penggunaan dana (RPD) tidak dilaksanakan, seperti ruang kelas untuk salon dan ruang makan.

Namun hal itu, kata dia, dimungkinkan pada saat Bimtek di Jakarta, namun berita acara ini tidak dituangkan dalam petunjuk teknis. Termasuk, pembuatan ruangan kepala sekolah dan wakil kepala sekolah juga tidak termasuk dalam RPD, tapi dimungkinkan pada saat Bimtek. Namun demikian, pihak Kejari Kupang, tetap menyatakan Lusia ikut membuat kwitansi fiktif yang dijadikan bukti pertanggungjawaban terhadap dana yang dikeluarkan. (richo)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button