Home / Populer / Calon Pimpinan KPK membuat makalah disaksikan Komisi III DPR

Calon Pimpinan KPK membuat makalah disaksikan Komisi III DPR

Bagikan Halaman ini

Share Button

4

Sumber foto dpr.go.id : Hehamahua, SH,MM; Handoyo Sudradjat,AK; Dr. Abraham Samad, SH,MH; Zulkarnain, SH,MH; Adnan Pandu Praja, SH, SpN,LLM; Irjen Pol (Purn) Drs.Aryanto Sutadi,Mh,MSc.

 

 

Moral-politik.com : Menelisik kembali alkisah Abraham Samad menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah untuk menyandingkan dengan pengakuan dua orang loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Melansir dpr.go.id, Komisi III DPR RI melaksanakan fit and proper test Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang mengagendakan pembuatan makalah dan pengambilan nomor urut peserta. Dipimpin Ketua Komisi III Benny K. Harman, Senin (24/10/2011), di Gedung Nusantara II DPR, Jakarta.

Peserta fit and proper test Calon Pimpinan KPK, yaitu Dr. Bambang Widjojanto, Dr. Yunus Husein, SH.LLM, Abdullah Hehamahua, SH.MM, Handoyo Sudradjat, AK, Dr. Abraham Samad, SH.MH, Zulkarnain,SH.MH, Adnan Pandu Praja, SH, SpN.LLM, Irjen Pol (Purn) Drs. Aryanto Sutadi, Mh,MSc.

Sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan, menurut Benny K. Harman, bahwa Calon Pimpinan KPK diharuskan membuat Makalah, dengan ketentuan dibuat paling banyak 5 halaman diketik satu setengah spasi.

“Calon memilih salah satu judul dalam amplop tertutup yang disediakan oleh Komisi III. Jangka waktu pembuatan makalah dilaksanakan paling lama 1 jam,” paparnya.

Pembuatan makalah yang dilakukan oleh Calon Pimpinan KPK dibuat dengan cara diketik dengan komputer atau dapat ditulis dengan tangan. Pembuatan makalah yang ditulis dengan tangan, harus diketik dengan komputer dengan tetap melampirkan hasil pembuatan makalah yang ditulis dengan tangan.

Jadwal pelaksanaan fit and proper test didasarkan pada daftar nomor urut peserta yang diperoleh oleh masing-masing Calon Pimpinan KPK yang tersedia pada amplop tertutup.

Kepada Calon Pimpinan KPK wajib menyerahkan kelengkapan persyaratan administrasi, yaitu daftar kekayaan dan fotocopy ijasah pendidikan formal.

Alokasi waktu uji kelayakan Calon Pimpinan KPK masing-masing dilaksanakan dalam 2 tahap. Tahap pertama dari pukul 10.00-12.00 untuk seleksi teknis administrasi dan klarifikasi laporan. Tahap kedua pukul 14.00 sampai dengan selesai untuk pendalaman materi dan subtansi termasuk 30 menit yang digunakan untuk menyampaikan visi dan misi.

Pelaksanaan fit and proper test mulai dilaksanakan pada tanggal 21 November 2001, dengan jadwal nomor urut peserta disusun setelah Calon memperoleh nomor urut peserta seleksi.

Pembuatan makalah dimulai pukul 11.45 dan akan berakhir pada pukul 12.45.
Tabir beberan dua loyalis Anas

Tabir dari ucapan terima kasih mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad, mulai terkuak pelan tapi menuju menyata.

Fakta itu dibeberkan oleh dua orang loyalis Anas yaitu, pertama, Politisi Partai Demokrat yang juga Sekjen Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Gede Pasek Suardika yang membeberkan kisah pertemuan dua orang berinisial A di kediaman Anas kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur. Dan kedua, mantan Ketua Departemen Sosial DPP Partai Demokrat Sri Mulyono saat berbincang dengan awak redaksi Tribunnews.com di Jakarta, Minggu(12/1/2014)

Baca Juga :  Jokowi bicara soal Kritikan SBY kepada Tim Transisi

Beberan Sri Mulyono

Loyalis mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengungkap mengenai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad. Tahun 2011, saat Komisi III DPR RI menseleksi calon pimpinan KPK, Abaraham pernah dua kali menemui, dan melobi sekaligus meminta dukungan Anas agar anggota Fraksi Partai Demokrat di Komisi III memilihnya.

Demikian disampaikan mantan Ketua Departemen Sosial DPP Partai Demokrat Sri Mulyono saat berbincang dengan awak redaksi Tribunnews.com di Jakarta, Minggu(12/1/2014), lansir Tribunnews.com.

Sri yang kini aktif sebagai pengurus organisasi bentukan Anas, yakni Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), mengungkapkan, Samad selaku calon pimpinan KPK sempat mendatangi dan menemui Anas selaku Ketua Umum Partai Demokrat (PD) di kediaman keluarga di Duren Sawit Jakarta Timur.

Dalam dua pertemuan itu, Samad memohon kepada Anas agar suara anggota Fraksi Partai Demokrat di Komisi III DPR diaarahkan untuk dirinya sehingga bisa menjadi Ketua KPK.

“Kan sebelum Abraham Samad jadi ketua KPK, dia nyembah-nyembah ke Anas. Datang dua kali ke rumah Anas di Duren Sawit, minta dukungan dari Anas supaya terpilih jadi Ketua KPK. Anas saat itu kan Ketua Umum,” ujar Sri Mulyono.

Sri Mulyono menceritakan, kedatangan Samad dua kali ke Anas dilakukan saat dan setelah proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon pimpinan dilakukan di Komisi III DPR RI pada 21 November 2011.

“Abraham Samad datang dua kali ke Anas, ke Duren Sawit. Yang bawa Samad ke rumah Anas itu fungsionaris Partai Demokrat juga. Saya tahu orangnya,” ujar Sri Mulyono yang mengetahui dua pertemuan itu.

Dengan begitu, Sri Mulyono mengakui Abraham Samad adalah ‘bawaan’ PD.

“Jadi, Samad datang minta dukungan Pak Anas sebagai ketua umum supaya suaranya lari ke dia,” beber Sri.

Namun, dua tahun berselang, Anas Urbaningrum menjadi tahanan KPK atas kasus dugaan penerimaan gratifikasi terkait proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sarana Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang, Bogor dan proyek-proyek lainnya. Dan Abraham Samad lah orang yang menandatangani surat penahanan Anas tersebut.

Menurut Sri Mulyono, ucapan terima kasih dari Anas untuk Samad dalam pidato penahanannya pada Jumat, 10 Januari 2014 lalu, bermaksud menyindir Samad, yakni orang yang pernah memohon bantuan agar terpilih menjadi Ketua KPK.

Baca Juga :  Hanya Jakarta Provinsi Layak Anak di Indonesia?

“Anas memang jago kasih sinyal-sinyal, termasuk kepada Abraham Samad,”ujarnya.

Sri Mulyono menegaskan, pembeberan soal permintaan bantuan Samad ini bukan berarti Anas menginginkan balas budi dari Samad.

“Anas hanya ingin keadilan, karena dia hanya ingin kejelasan ‘proyek-poyek lainnya’ dalam surat itu apa?” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pengacara Anas protes karena dalam surat panggilan KPK kepada Anas untuk menjalani pemeriksaan, pada 7 Januari silam tercantum kata-kata, sebagai tersangka “kasus Hambalang dan  proyek-proyek lain.”

Keadilan diminta Anas karena ada beberapa kejanggalan mulai penetapan tersangka hingga dilakukan penahanan oleh pihak KPK, mulai bocornya Surat Perintah Penyidikan (Sprindik), adanya pidato politik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku presiden dan petinggi PD, hingga tidak konsistennya alasan yang diberikan Samad saat pihak KPK tidak juga menahan Anas.

“Saat panggilan pemeriksaan terakhir Anas, Abraham Samad bilang, ‘Saya ingatkan kepada Anas, saya ingatkan kepada Anas, saya ingatkan kepada Anas’. Itu omongan apa? Kok Ketua KPK seperti itu. Itu kan omongan kelas orang pasar. Harusnya ngomong standar saja, akan dilakukan pemanggilan kedua,” ujar Sri Mulyono.

Selain itu, Sri Mulyono pun menangkap Samad terkesan mendapat pesanan dari seseorang sehingga harus turun tangan langsung dengan menandatangani surat penahanan Anas.

“Saya kira itu dia seolah-olah sudah janji kepada seserorang. Lapor pak, yah sudah beres. Yang menarik, adalah penafsirannya Wiwin (mantan staf pribadi Samad), bahwa penahanan Anas ini adalah Abraham Samad memberi kado untuk SBY,”ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, Tribunnews.com belum berhasil mendapatkan konfirmasi dari Abraham Samad tentang pengakuan Sri Mulyono itu. Dua nomor telepon genggam Samad dalam kondisi tidak aktif saat dihubungi dan pesan yang dikirimkan belum dibalas.

Saat jumpa pers sebelum ditahan KPK, Jumat lalu, mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum sempat menyatakan rasa terima kasihnya kepada pihak-pihak, antara lain Ketua KPK Abraham Samad, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Beberan Gede Pasek Suardika

Politisi Partai Demokrat yang juga Sekjen Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Gede Pasek Suardika membeberkan kisah pertemuan dua orang berinisial A di kediaman Anas kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Gede Pasek menceritakan hal tersebut melalui akun twitternya dan menamakan ‘kisah 1001 A’.

Berikut ini kisah Gede Pasek Suardika di akun twitternya:

“Sebuah kisah menarik yang dikultwit dengan energi tinggi karena sambil menikmati STMJ Glintung, roti bakar dan telor setengah matang,”tulis Gede Pasek di akun twitternya, Minggu(12/1/2014).

Baca Juga :  Efendi Ghazali : Anas tunggu waktu tepat untuk serangan balik

Kisah tersebut kata Pasek diperankan oleh tiga A. Tiga nama dengan nama awalan sama-sama A tapi posisi berbeda. Mereka bertemu atas jasa Mercy Butut.

Alam, begitulah sang pengemudi. Fungsionaris Demokrat yang juga teman A. Sang tokoh utama, dan satu lagi A yang kini jadi tersangka yaitu Anas.

“Memang disengaja 2 A dijelaskan, yang satu inisial saja. Biar lebih misteri dan horor. Alkisah di sebuah malam, Alam bersama A datang ke DS (Duren Sawit),” ujar Pasek.

Saat itu, Alam membawa A untuk sebuah maksud.  Ketika bertemu, A dengan dibumbui Alam berusaha menarik simpati Anas. Dari gaya memelas memohon sampai umbar janji. Anas pun mendengar dengan kalem.

“Kita sama-sama muda, kita harus saling jaga dan saling tolong menolong. Masa depan kita panjang,”

“Begitulah kurang lebih jalannya. Meski tidak begitu kenal, tapi Anas percaya dengan Alam. Singkat cerita, jam pun hampir pukul 2 dini hari. Anas pun setuju,” tulis Pasek.

Singkat cerita usai pertemuan di Duren Sawit, Anas pun punya kuasa arahkan fraksi, lalu diarahkannya A ke Ketua Fraksi Partai Demokrat Muhammad Jafar Hafsah. Semua diamankan.

A pun sukses gemilang dan langsung dari kampung namanya melambung. Alam pun ceria karena Anas setuju.

“Sesuai adat timur, ucapan terima kasih pun disampaikan. Semua gembira. Seiring berjalannya waktu, kewenangan sangat nikmat, pujian selangit,” kata Pasek.

Tampaknya sang Mbaurekso Mr A lanjut Pasek makin perkasa dan beringas. Pujian memang memabukkan. Apalagi namanya mulai masuk survei capres.

“Makin lupa,” kata Pasek.

Sampai akhirnya, dunia terbalik. Anas pun jadi korban ambisinya. dan Alam pun sedih, malu, marah, tapi apa daya sekarang sudah jadi ‘hero’.

Bahkan menurut Pasek gayanya terakhir sangat kontradiktif. Kalau dulu memelas-melas sambil menikmati suguhan kopi, kini menuding-nuding sambil ancam Anas.

“Alam pun makin sedih dan merasa bersalah. Tidak percaya makhluk kampung yang dia jual itu sudah tidak seperti yang dia kenal. Si Mercy butut pun sama.  Kalau saja bisa bicara, Mercy itu pasti akan menyesal. Dan Alam pun tidak akan jual itu mobil,” ujarnya.

“Monumen atau kenangan keangkaramurkaan seseorang yang cepat lupa diri, dan lupa dengan berbagai kata-katanya saat datang ke DS (Duren Sawit),”tambah Pasek.

“Selamat Mr A atas segala balas budinya. Hanya renungan, jabatan itu tidak kekal. Kekuasaan tidak abadi,” tulisnya.

Kita semua menanti klarifikasi Abraham Samat, kendati meloby itu bukanlah sebuah dosa…. (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button