Home / Populer / Gede Pasek ungkap tabir tokoh haus kuasa bernama A

Gede Pasek ungkap tabir tokoh haus kuasa bernama A

Bagikan Halaman ini

Share Button

3

 

Moral-politik.com : Setiap orang punya masa lalu. Ketika telah duduk dalam jabatan apa saja, seringkali membuatnya lupa akan alkisahnya itu.

Begitupun dengan masa lalu  mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Maka begitu Anas secara resmi ditahan KPK, perlahan tapi pasti rahasia demi rahasia terkuak. Salah satu rahasia penting yang terungkap adalah mengenai kisah dua orang berinisial A yang datang ke kediaman Anas di Duren Sawit, Jakarta Selatan.

Alkisah itu dibeberkan oleh Politisi Partai Demokrat yang juga Sekjen Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) Gede Pasek Suardika melalui akun twitternya. Ia menamakan ‘Kisah 1001 A’.

“Sebuah kisah menarik yang dikultwit dengan energi tinggi karena sambil menikmati STMJ Glintung, roti bakar dan telor setengah matang,” tulis Gede Pasek di akun twitternya, Minggu(12/1/2014), lansir Tribunnews.com.

Kisah tersebut kata Pasek diperankan oleh tiga A. Tiga nama dengan nama awalan sama-sama A tapi posisi berbeda. Mereka bertemu atas jasa Mercy Butut.

Alam, begitulah sang pengemudi. Fungsionaris Demokrat yang juga teman A. Sang tokoh utama, dan satu lagi A yang kini jadi tersangka yaitu Anas.

“Memang disengaja 2 A dijelaskan, yang satu inisial saja. Biar lebih misteri dan horor. Alkisah di sebuah malam, Alam bersama A datang ke DS (Duren Sawit),” ujar Pasek.

Saat itu, Alam membawa A untuk sebuah maksud.  Ketika bertemu, A dengan dibumbui Alam berusaha menarik simpati Anas. Dari gaya memelas memohon sampai umbar janji. Anas pun mendengar dengan kalem.

“Kita sama-sama muda, kita harus saling jaga dan saling tolong menolong. Masa depan kita panjang,”

“Begitulah kurang lebih jalannya. Meski tidak begitu kenal, tapi Anas percaya dengan Alam. Singkat cerita, jam pun hampir pukul 2 dini hari. Anas pun setuju,” tulis Pasek.

Baca Juga :  Golkar rela Akbar Tandjung jadi cawapres Jokowi

Singkat cerita usai pertemuan di Duren Sawit, Anas pun punya kuasa arahkan fraksi, lalu diarahkannya A ke Ketua Fraksi Partai Demokrat Muhammad Jafar Hafsah. Semua diamankan.

A pun sukses gemilang dan langsung dari kampung namanya melambung. Alam pun ceria karena Anas setuju.

“Sesuai adat timur, ucapan terima kasih pun disampaikan. Semua gembira. Seiring berjalannya waktu, kewenangan sangat nikmat, pujian selangit,” kata Pasek.

Tampaknya sang Mbaurekso Mr A lanjut Pasek makin perkasa dan beringas. Pujian memang memabukkan. Apalagi namanya mulai masuk survei capres.

“Makin lupa,” kata Pasek.

Sampai akhirnya, dunia terbalik. Anas pun jadi korban ambisinya, dan Alam pun sedih, malu, marah, tapi apa daya sekarang sudah jadi ‘hero’.

Bahkan menurut Pasek gayanya terakhir sangat kontradiktif. Kalau dulu memelas-melas sambil menikmati suguhan kopi, kini menuding-nuding sambil ancam Anas.

“Alam pun makin sedih dan merasa bersalah. Tidak percaya makhluk kampung yang dia jual itu sudah tidak seperti yang dia kenal. Si Mercy butut pun sama.  Kalau saja bisa bicara, Mercy itu pasti akan menyesal. Dan Alam pun tidak akan jual itu mobil,” ujarnya.

“Monumen atau kenangan keangkaramurkaan seseorang yang cepat lupa diri, dan lupa dengan berbagai kata-katanya saat datang ke DS (Duren Sawit),”tambah Pasek.

“Selamat Mr A atas segala balas budinya. Hanya renungan, jabatan itu tidak kekal. Kekuasaan tidak abadi. Karmaphala akan berjalan,”tutup Pasek.

Waoooo, mudah ditebak. Apakah si A itu “Arnold  Schwarzenegger” ? (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button