Home / Kaukus / Haji Yusmin dorong kerukunan, biayai Perayaan Natal

Haji Yusmin dorong kerukunan, biayai Perayaan Natal

Bagikan Halaman ini

Share Button

13

ilustrasi

 

 

Moral-politik.com : Perbedaan agama hendaknya tidak menyebabkan terpecahnya juga nasionalisme dan ideologi negara.

Justru dalam ideologi negara semua perbedaan dapat diramu sehingga paling tidak ada kebersatuan atau kebersamaan dalam menyikapi berbagai persoalan, baik internal suatu komunitas maupun eksternalnya.

Cerita berikut ini cukup memilukan, memang ini bukan baru pertama kali terjadi, di Nusa Tenggara Timur, hal semacam  itu sudah sering, malah boleh dikatakan mulai membudaya. Semuanya demi kerukunan antarumat beragama.

Melansir Kompas.com, bertekad mewujudkan kerukunan antar-umat beragama, Haji Yusmin menjadi penanggung jawab dan juga menanggung biaya perayaan Natal di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Memang tidak mewah, tetapi setidaknya perayaan itu memberi arti besar bagi masyarakat.

Ditemui di rumahnya di Jalan Dewi Sartika Barat 3, Semarang, ia mengaku bersyukur perayaan itu bisa berjalan dengan lancar dan meriah. Yusmin mengatakan, gagasannya itu hanya dirancang tiga hari dengan dua orang panitia.

“Awalnya itu karena saya melihat kok tidak ada perayaan Natal bersama di kelurahan ini, makanya saya ajak Pak Pius Heru Priyanto yang kebetulan beliaunya ini di bidang kerohanian umat nasrani di LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan). Saya sendiri ketuanya, panitianya ya akhirnya cuma berdua,” ujarnya, Rabu (15/1/2014).

Dari situlah kemudian muncul ide untuk mengadakan perayaan Natal. Adapun perayaan itu sudah diselenggarakan pada Minggu (12/1/2014) di Balai Kelurahan Sukorejo dengan tema “Spiritualitas yang Menyehatkan”.

“Alhamdulillah yang datang sekitar 75 persen dari undangan yang disebar sekitar 150. Padahal, hari itu hujan sejak pagi,” ujar Yusmin.

Yusmin mengatakan, tak ada banyak uang menjelang perayaan. Panitia kemudian hanya membuat empat proposal permohonan bantuan dana. Dengan waktu hanya tiga hari, ia pun yakin akan kesulitan mendapatkan dana melalui proposal itu. Akhirnya proposal pun tidak dijalankan.

Baca Juga :  Fadel Muhamad : Jokowi wajib lapor ke SBY soal pencapresan

“Waktu itu Pak Pius bilang ragu karena tidak ada uang. Bagaimana kegiatan itu bisa jalan. Tapi saya bilang kalau takut tidak bakal jadi,” katanya.

Ayah dua anak yang juga seorang tokoh masyarakat ini kemudian meminta bantuan rekannya yang juga seorang muslim. “Saya telepon, minta bantuan air mineral untuk perayaan Natal. Awalnya dia kaget dan bilang Pak Haji kok ngurusinnya Natalan, tapi kemudian memberi bantuan juga,” tutur suami dari Sri Sulastri ini.

Selain itu, Yusmin juga mengajak sejumlah warga lain menjadi relawan. “Saya bilang pada siapa pun, ayo bantu dan ini yang balas Gusti Allah, karena enggak ada honornya, ya akhirnya jalan,” tambahnya.

Sederhana
Yusmin mengatakan, perayaan itu memang sangatlah sederhana karena hanya dengan jamuan satu bungkus roti dan air mineral. Namun, menurutnya, perayaan yang terpenting bukan jamuannya, melainkan maknanya.

Gagasannya ini, ungkap Yusmin, dilakukan agar masyarakat di lingkungannya bisa turut menjaga kerukunan antar-umat beragama. Kaum mayoritas mengayomi yang minoritas, saling menghormati dan menghargai.

Yang lebih menggembirakan, menurutnya, bersamaan dengan perayaan Natal juga diselenggarakan pengajian akbar di beberapa wilayah yang masih satu kelurahan.

“Ada juga yang dekat dengan balai kelurahan untuk perayaan Natal, dan saat azan acara perayaan Natal dihentikan sebentar, kalau begini betapa indahnya. Saya hanya ingin kerukunan semacam ini terus ada di Kelurahan Sukorejo yang sangat heterogen,” kata Yusmin.

Gagasan ini merupakan yang pertama kali dilakukan dan rencananya akan menjadi agenda tahunan. Pihak kelurahan juga memberi dukungan dengan hadirnya lurah setempat pada perayaan tersebut.

Goa Maria
Yusmin menceritakan, dalam upayanya menjaga kerukunan semacam ini bukanlah tanpa konflik. Ia mengatakan pernah terjadi pro-kontra saat akan dilakukan pembangunan Goa Maria di wilayah tersebut beberapa tahun lalu. Ia turut memperjuangkan agar Goa Maria tetap dibangun meski banyak yang menentangnya.

Baca Juga :  Ini dia awal dari Christiano Ronaldo meniti karier (1)

Akhirnya tempat yang sering digunakan untuk acara kaum Katolik ini pun bisa berdiri dan tetap damai. “Apa pun saya berani asal benar, Tuhan yang tahu segalanya,” tandasnya.

Yusmin mengatakan, dirinya termasuk orang yang fanatik dalam beragama. Namun, fanatiknya hanya dalam hal-hal tertentu. “Urusan beribadah itu masing-masing, dan di tempat masing masing. Masa shalat di gereja atau kebaktian di masjid. Jadi saya termasuk fanatik, tapi dalam hal ibadah, kalau bermasyarakat semua saudara saya,” pungkas Yusmin.

Kiranya semangat semacam ini terus dilakukan antarumat beragama… (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button