Home / Sains / Jakarta aneh! Magrib, tapi langit masih terang

Jakarta aneh! Magrib, tapi langit masih terang

Bagikan Halaman ini

Share Button

15

 

 

Moral-politik.com : Keanehan yang terjadi di DKI Jakarta pada pukul 18.30 WIB petang tadi, Kamis (9/1/2014) menimbulkan banyak tanya dan komentar bebas di dunia nyata, maya dan di media sosial.

Persoalannya waktu sudah menunjukkan pukul 18.30, memasuki maghrib, ternyata langit masih terang.

Komentar warga Jakarta dan sekitarnya yang keheranan tecermin di jejaring sosial Twitter.

“Tumben langit masih terang,” demikian kicauan akun milik Zella yang tinggal di Bogor, lansir Kompas.com.

“Udah jam setengah tujuh tapi langit masih terang loh,” kicau Fitri yang tinggal di Jakarta.

“Mataharinya lembur, jam segini langit masih terang,” demikian kicauan Raden yang juga tinggal di Jakarta.

Sementara ada pula yang mengaitkan langit terang dengan badai Matahari yang meletup pada Rabu (8/1/2014) dini hari dan membuat peluncuran kargo antariksa Cygnus ditunda.

“Ini efek badai Matahari-nya serem amat. Jam segini masih terang,” kicau pengguna Twitter lain, Ikhsan.

Mengapa langit Jakarta dan sekitarnya masih terang saat telah memasuki maghrib? Apakah memang ada hubungannya dengan badai Matahari?

Profesor astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, saat dihubungi Kompas.com, mengatakan bahwa hal itu terkait dengan posisi Matahari saat ini.

“Saat ini Matahari masih di belahan selatan. Jadi di Jawa siang lebih panjang daripada malam. Jadi maghrib lebih dari pukul 18.00 WIB,” paparnya.

Thomas mengungkapkan, Matahari berada di 23,5 derajat Lintang Selatan pada 22 Desember 2013 lalu dan saat ini tengah dalam perjalanan menuju khatulistiwa lewat gerak semu tahunannya.

Normalnya, saat 23 September dan 21 Maret, panjang siang dan malam sama. Namun, sekitar bulan Januari, siang lebih panjang daripada malam.

Baca Juga :  Katak bisa meramal Gempa Bumi dan aktifitas Seismik (1)

“Matahari tenggelam lebih lambat sementara waktu subuh pun lebih awal,” ungkapnya.

Faktor lain yang memengaruhi adalah wilayah Indonesia yang saat ini sedang disinggahi Osilasi Madden Julian yang aktif pada fase penekanan konveksi.

“Sehingga pembentukan awan berkurang. Matahari tampak terang,” kata Thomas.

Terkait dengan pengaruh badai Matahari, Thomas mengatakan, “Tidak ada kaitannya.”

Atau mungkin karena matahari tak dapat membaca waktu sehingga lupa jam pulang ke pembaringannya, ya? (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button