Home / Populer / Mega tetapkan Capres usai Pileg, Demokrat/Golkar menang!

Mega tetapkan Capres usai Pileg, Demokrat/Golkar menang!

Bagikan Halaman ini

Share Button

4

Penulis :Vincentcius Jeskial Boekan

 

 

Moral-politik.com : Sudah saya katakan berkali-kali bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri takkan pernah mengikhlaskan partai miliknya itu mencalonkan orang lain selain dirinya dan keluarga terdekatnya sebagai Capres.

Berbagai upaya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia untuk meminta kesediaan Megawati agar mengijinkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) maju sebagai Capres dengan menggunakan kendaraan politik PDIP, selalu dijawab politis oleh Megawati, dan blak-blakan oleh para kadernya di Jakarta dan daerah-daerah.

Secara pribadi saya tak pernah menyalahkan Megawati, sebab dia sudah “berdarah-darah” mendirikan, memertahankan keeksistensian PDIP hingga setidak-tidaknya bisa tampil sebagai oposan pemerintahan, mulai dari zaman Soeharo hingga SBY, lalu dengan begitu mudahnya menyerahkan tongkat perjuangannya kepada Jokowi, atau siapa pun namanya, yang belum tentu senyawa dan seroh dengan filosofi perjuangannya mendirikan PDIP.

Maka ketika desakan kuat pada Rakernas beberapa bulan lalu—dan—sebelum itu para pendukung Jokowi yang ada di daerah-daerah telah “dimadulkan” oleh kepala daerah yang kebetulan tokoh PDIP, maka sempurnalah sudah hasil Rakernas, antara lain menolak Jokowi secara politis dengan alasan akan ditetapkan usai Pileg 2014.

Kini PDIP bukan mengeluarkan keputusan baru soal penolakan terhadap masyarakat pendukung Jokowi, tapi pengulangan dari hasil Rakernas 2013 di Jakarta.

“Kami akan memutuskan siapa yang diusung sebagai capres dan cawapres pada bulan April 2014 setelah pemilu anggota legislatif 9 April mendatang,” kata Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo melalui pesan singkatnya kepada Antara di Semarang, Minggu (5/1).

Menurut Tjahjo, hal itu perlu disampaikan mencermati berbagai spekulasi yang berkembang di media bahwa PDI Perjuangan akan mendeklarasikan capresnya pada bulan Januari 2014 bersamaan dengan HUT PDI Perjuangan. Bahkan, dikabarkan pula sudah mengarah pada satu figur.

Baca Juga :  Pernahkah Novanto Mengakui Rekaman yang Dilaporkan Menteri ESDM?

“Itu tidak benar,” kata Tjahjo yang juga calon tetap anggota DPR RI periode 2014-2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I (Kota/Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Kendal).

Tjahjo menegaskan kembali bahwa partainya, sebagaimana keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I, menyerahkan keputusan tersebut kepada Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Kapan momentum yang tepat dideklarasikan? Dan siapa yang diputuskan untuk maju pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden mendatang? Semuanya Ibu Megawati yang memutuskannya,” kata Tjahjo yang notabene anggota Komisi I DPR RI.

Jelas sudah apa posisi Jokowi kini, tidak lebih dari pendulang suara untuk PDIP bisa tembus PT 20%.

Pertanyaannya apakah rakyat yang begitu inginkan Jokowi jadi Capres dan masih digantung oleh Megawati akan memilih Caleg-caleg PDIP pada Pileg April mendatang?

Hampir dapat dipastikan jika Jokowi diambil oleh SBY dan ditetapkan sebagai Calon Wakil Presiden berpasangan dengan Ibu Ani, maka Pilpres 2014 hanya berlangsung satu putaran. Begitupun jika Ichal menggandeng Jokowi dari pintu Golkar.

Dengan keputusan Megawati, dan sebelumnya telah diikuti kader-kadernya di daerah untuk “melemahkan” langkah pendukung Jokowi, maka bisa diprediksikan, PDIP tak bisa tembus PT—capai 12% sudah terlalu istimewa—kendati KPK terus mengobrak-abrik kader Golkar, Demokrat dan PKS—sedikit “melindungi” kader PDIP.

Maka—menunda Capres PDIP hingga berakhir Pileg sama dengan menolak Jokowi, menolak kemenangan PDIP pada Pileg dan Capres-Cawapres, dan memberikan kemenangan kepada Demokrat atau Golkar yang berkemauan baik meminang Jokowi, entah sebagai Capres atau Cawapresnya.

Politik Indonesia mudah ditebak, dan itulah happy ending-nya.

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button