Home / Sejarah / Mengenang Malari 40 tahun lalu (1)

Mengenang Malari 40 tahun lalu (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

40

Jakarta, Moral-politik.com : Peristiwa Malari takkan pernah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Malah telah menjadi sejarah untuk dikenang.

Dari peristiwa itu, akhirnya lahirlah reformasi. Reformasi pada semua aspek, terutama reformasi dalam bidang jurnalistik.

Mochtar Lubis melewati pusat pertokoan Senen, Jakarta, yang telah hangus dilalap api.

Sehari sebelumnya, sekelompok massa merusak dan membakar kawasan tersebut.

Inilah ‘Malapetaka 15 Januari’ atau Malari, yang Rabu esok genap 40 tahun.

Pagi itu, lansir Liputan6.com, 16 Januari 1974, Pemimpin Redaksi Indonesia Raya tersebut akan terbang ke Paris, Prancis. Ia menuju bandar udara Kemayoran. Kendali atas koran diserahkan ke Wakil Pemimpin Redaksi Enggak Bahau’ddin.

Di hari-hari itu, tiras Indonesia Raya sekitar 30 ribu-40 ribu eksemplar. Kalah dari Merdeka (sekitar 80 ribu), Kompas dan Berita Yudha (masing-masing 75 ribu), dan Sinar Harapan (65 ribu). Tapi, Indonesia Raya dihormati karena liputan-liputan investigasi. Misalnya, menyangkut korupsi di Pertamina.

Saat Mochtar masih di Paris, 21 Januari 1974, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban Daerah (Kopkamtibda) Jakarta mencabut surat izin cetak (SIC) Indonesia Raya. Tak boleh terbit lagi. Koran ini dianggap telah mempublikasikan tulisan-tulisan yang dapat merusak kewibawaan pemerintah dan menghasut rakyat sehingga Malari meletus. (bersambung)

Baca Juga :  68 Tahun RI Merdeka, Kaum Perempuan Tetap Tertindas

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button