Home / Sejarah / Mengenang Malari 40 tahun lalu (3)

Mengenang Malari 40 tahun lalu (3)

Bagikan Halaman ini

Share Button

  44

 

Jakarta, Moral-politik.com : Tapi, Rosihan Anwar selamat. Padahal, pada masa sebelumnya, Pedoman dianggap berafiliasi dengan PSI. Rosihan juga mengaku sebagai pendukung ide-ide Sjahrir.

Beberapa bulan kemudian, pemerintah seperti melunak. Abadi diperbolehkan terbit lagi dengan nama Pelita.

Seperti hanya Abadi, Pelita diasumsikan menjadi penyuara aspirasi kaum muslim. Lalu, muncul The Indonesia Times sebagai pengganti The Jakarta Times.

Koran-koran lain seperti Pedoman, Mahasiswa Indonesia, atau Indonesia Raya mati selamanya.

Perihal Mochtar, ia pernah didekati salah seorang petinggi Departemen Penerangan. Mochtar dibisiki: Mochtar bisa menerbitkan koran lagi asal namanya bukan Indonesia Raya. Alternatif lain, menerbitkan kembali Indonesia Raya tapi Mochtar tak boleh terlibat. Menulis secara anonim boleh.

Novelis tersebut menolak tawaran itu. Alasannya, seperti dikutip dari biografi Mochtar yang disusun David T. Hill, “…dia dan Indonesia Raya tidak pernah bertindak melawan hukum dan berkompromi sama saja mengaku bersalah.” (habis)

Baca Juga :  Ini Surat Terakhir Mendikbud Anies ke Seluruh Guru yang Bikin Trenyuh...

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button