Home / Sejarah / Mengenang Malari 40 tahun lalu (2)

Mengenang Malari 40 tahun lalu (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

41

 

 
Jakarta, Moral-politik.com : Beberapa bulan sebelum Malari, demo-demo mahasiswa telah marak. Mereka memprotes strategi pembangunan nasional, maraknya korupsi, dan keberadaan asisten presiden (Aspri) presiden yang dianggap menyimpang. Koran-koran memberitakan itu semua. Bahkan, dinilai memprovokasi.

Selanjutnya, juga dicabut SIC untuk Harian KAMI, Abadi, The Jakarta Times, Pemuda Indonesia, dan Wenang. Beberapa hari sebelumnya, Nusantara, Suluh Indonesia, dan Mahasiswa Indonesia juga diberangus. Setelah itu, Pedoman dan Ekspres juga menemui ajal di tangan penguasa.

Hal menarik, Ekspres dikenal dekat dengan kelompok Jenderal Ali Moertopo, salah seorang Aspri. Tapi, majalah itu pun tak lolos dari pembredelan. Padahal, kata sejumlah analis, pembredelan mengincar koran-koran yang dianggap berpihak ke Pangkopkamtib Jenderal Soemitro.

Anehnya, Mochtar baru ditahan pada 4 Februari 1975 selama dua setengah bulan di penjara Nirbaya, Jakarta. Juga tanpa proses pengadilan.

Pemimpin Redaksi Mahasiswa Indonesia, Rahman Tolleng, juga ditahan. Ia dibui selama 16 bulan. Lalu, dibebaskan, juga tanpa proses pengadilan.

Tolleng merupakan aktivis 66 di Bandung. Belakangan, ia masuk Golkar bersama beberapa rekannya di Bandung seperti Rachmat Witoelar dan Sarwono Kusumaatmadja.

Namun, menurut penelitian Francois Raillon, banyak orang Golkar yang mencurigai Tolleng sebagai ‘penyusup’ dari PSI, partai yang didirikan Sutan Sjahrir.

Terlebih, Mahasiswa Indonesia sangat keras mengkritik pemerintahan Orde Baru yang notabene didukung Golkar. (bersambung)

Baca Juga :  Kenalkan James, Bocah 3 Tahun yang Menjadi Wali Kota Termuda di Dunia

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button