Home / Populer / Penahanan Anas, PR baru bagi Ketum Demokrat

Penahanan Anas, PR baru bagi Ketum Demokrat

Bagikan Halaman ini

Share Button

21

 

 

Moral-politik.com : Ternyata penahanan Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukan berarti telah menyelesaikan persoalan dalam tubuh Partai Demokrat.

Lalu untuk apa hal itu dilakukan, selain demi supremasi hukum? Untuk alasan balas dendam karena telah dizolimi? Atau sebagai sebuah strategi untuk kembali menguasai PD supaya tak cacat sejarah?

Pertanyaan di atas mungkin tepat dijawab oleh pengamat politik dari Universitas Jember Joko Susilo. Ia menuturkan bahwa penahanan Anas semakin memperberat langkah Partai Demokrat menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014.

“Penahanan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum semakin memperburuk citra partai penguasa itu,” kata Joko di Kabupaten Jember, Jawa Timur, seperti dikutip Antara, Sabtu (11/1/2014), lansir Kompas.com.

Menurut Joko, penahanan Anas menambah daftar panjang politisi Partai Demokrat yang terindikasi melakukan korupsi. Tugas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Umum Demokrat dinilainya cukup berat untuk mengembalikan citra partai dan kepercayaan publik pada Pileg dan Pilpres 2014.
“Dari beberapa survei yang diumumkan beberapa waktu terakhir, elektabilitas Partai Demokrat jatuh ke papan bawah karena banyak politisinya yang terjerat kasus korupsi,” katanya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, elektabilitas Partai Demokrat berada di titik rendah, yakni di bawah 10 persen sehingga berdampak partai lain akan berpikir ulang untuk berkoalisi menghadapi Pilpres.

Joko menuturkan, para tokoh yang ikut dalam Konvensi Partai Demokrat sebagai bakal calon presiden nyatanya belum signifikan untuk meningkatkan elektabilitas partai tersebut. Dengan demikian, SBY bersama seluruh kader partai harus bekerja keras untuk mengembalikan citra partai.

“Cukup berat langkah Partai Demokrat untuk mengembalikan citranya dan saat ini masyarakat sudah apatis terhadap partai politik,” ujar dosen FISIP Universitas Jember itu.

Baca Juga :  Di Jepang Novanto Bantu Pemerintah Tanggapi Protes soal Kereta Cepat

Lepas dari pendapat Joko, pasti PD punya pertimbangan tertentu yang sudah dihitung cermat-cermat…. (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button