17

 

 

 

Moral-politik.com : Sebagai pedangdut senior yang punya nama besar di negeri ini, Rhoma Irama menyadari bahwa kaukus perihal dirinya bakal dicalonkan sebagai Calon Presiden dari PKB lebih banyak  mendapat kritikan, bahkan tak kurang juga cemoohan pedas.

Baginya itu bukan hal paling aneh, karena masyarakat lebih tahu Rhoma Irama itu adalah seniman dan raja dangdut ketimbang sebagai seorang politisi.

Mendengar pendapat-pendapat itu, Rhoma menuturkan bahwa semua kalangan bisa menjadi presiden, tidak hanya dari kalangan politisi. Di samping itu, menurutnya, antara kesenian, politik, dan keyakinan dapat berjalan beriringan.

“Buat saya, seni, politik, dan agama itu three in one. Saya tidak perlu bertransformasi menjadi seorang politisi. Gagasan politik serta agama, saya salurkan lewat seni,” kata Rhoma di Sekretariat Riforri di Jalan Dewi Sartika Raya, Jakarta Timur, Sabtu (11/1/2014), lansir Kompas.com.

Rhoma mengatakan, selama ini politik selalu dijadikan sebagai sebuah alat kesenian untuk memperoleh kekuasaan. Orang beramai-ramai membentuk organisasi dan partai politik dengan tujuan untuk mengelola negara dengan baik.

Ketika disinggung massa pendukung, Rhoma mengaku telah berkoordinasi dengan PKB agar rencana pencapresannya berjalan lancar. Di samping itu. ia mengklaim telah memiliki massa pendukung setia. “Dari semangat umat, ini membuat saya yakin,” tegasnya.

Seperti diberitakan, Rhoma merupakan salah satu bakal capres PKB. Ada dua tokoh lain yang didukung internal PKB, yakni Jusuf Kalla dan Mahfud MD. Hanya, kepastian pencapresan tergantung dari hasil Pileg pada April 2014, lantaran ada syarat ambang batas pengusungan capres-cawapres.

Kitamenanti saja apakah klarifikasi Rhoma ini sanggup mengubah perspektif masyarakat bahwa menjadi presiden itu monopoli politisi belaka, atau jangan-jangan juga pedangdut? (erny)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

+ 8 = 13