Home / Gosip / Soal “The Warren Buffett Way” (4)

Soal “The Warren Buffett Way” (4)

Bagikan Halaman ini

Share Button

buffett(1)
Gabungan 3 Orang

Hampir semua penulis tentang Buffet menilai, Warren Edward Buffett (lahir di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, 30 Agustus 1930), adalah gabungan dari sedikitnya tiga pemikir/pebisnis.

Pertama, Benjamin Graham (yang dikenal sebagai analis saham pertama di dunia), penulis buku Security Analysis (terbit tahun 1930-an, diinspirasi krisis bursa 1929) dan The Intelligent Investor (1949). Graham adalah ilmuwan yang juga praktisi bisnis saham.

Benjamin Graham bukan konsultan, tetapi guru. Graham bukan hanya mampu berteori bahkan menulis buku dan menjadi analis pertama, tetapi juga mampu melakukan yang dikatakannya.

Kedua, adalah John Burr Williams, penulis buku The Theory of Investment Value (1938). Selama enam dekade, buku ini bertahan sebagai panduan utama para analis dan investor.

Buffett meringkas teori ini: nilai suatu bisnis ditentukan arus kas sepanjang hidup bisnis itu (dipotong diskon bunga). Nilai seekor ayam, diukur dari telur-telurnya, saham diukur dari dividen-dividen. Itu sebabnya Buffett berani membeli saham di atas harga pasar.

Ketiga, adalah Charles Munger, yang awalnya adalah investor mandiri, di mana Munger juga bisa mengungguli indeks Dow Jones Industrial Average. Sering sekali, keduanya justru membeli saham yang sama. Tahun 1978, mereka bergabung.

Beli dan bertahan, mengambil manfaat dari fluktuasi pasar, itulah yang dilakukan Buffett. Maka ia tetap mengoleksi 200 juta lembar saham Coca Cola, 151,61 juta lembar saham Amex, serta 1,73 miliar lembar saham koran legendaris The Washington Post (termasuk majalah Newsweek).

Biaya pembelian Washington Post adalah $ 11 juta, harga pasar tahun 2003 sudah $ 1,367 miliar, lebih dari 100 kali lipat.

Tetap 10 dan 90

Masalah kita sekarang, dalam kancah pertarungan konglomerat modern macam Bill Gates yang mengandalkan teknologi, dengan Buffett yang menganut kesederhanaan berpikir dan bertindak, dunia tetap dengan realita di mana 10 persen populasi menguasai 90 persen aset dunia. Ada keterlepasan (uncoupling) perkembangan kalangan atas dengan kalangan bawah.

Baca Juga :  Anggota DPRD Flores Timur “Hukum” Masyarakat

Nyatanya, jumlah orang miskin di Indonesia malah bertambah. Atau lagi-lagi seperti kata Pramudya Ananta Toer, kaum lemah akan menjadi energi atau korban kaum kuat untuk berkembang tanpa batas. (habis)

Oleh Sihol Manulang, Pemred baranews.co

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button