Home / Gosip / Yacob Rambe : Jokowi dan peluang dicapreskan (2)

Yacob Rambe : Jokowi dan peluang dicapreskan (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

11

Jakarta, Moral-politik.com : Kalau kemungkinan pertama dibuat oleh lawan politik, karena mereka sadar selama ini cara untuk menghambat lajunya elektabilitas Jokowi tidak bisa dilakukan dengan membuat perlawanan secara terbuka. Mereka sadar bahwa kekuatan Jokowi adalah, dia bersikap apa adanya serta sederhana. Jokowi mencoba memperbaiki keadaan dengan cara mengkomunikasikannya dengan masyarakat secara langsung melalui blusukan ke berbagai lokasi. Jokowi juga berani melawan arus jika merasa pendapatnya benar, sehingga dia akhirnya mendapat dukungan secara politik dari publik secara luas.

Kemungkinan kedua justru DVD itu dibuat oleh pendukung fanatik Jokowi sendiri, untuk mendorong Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri agar segera mencalonkan Jokowi sebagai capres sebelum pelaksanaan Pemilu Legislatif. Ketua Umum DPP PDIP Megawati menunjukkan sinyal telah merestui pencapresan Jokowi. Bahkan menurut kabar yang santer beredar, Mega telah setuju mendeklarasikan capres sebelum pileg.

Walaupun sinyal restu Mega untuk Jokowi memang pasang surut, namun ada beberapa hal yang memberi kesan kuat Mega mulai legowo. Semakin mendekati Pemilu, Mega juga semakin intens bertemu Jokowi. Kadang keduanya makan bersama, kadang mengajak Wagub DKI Basuki Thajaja Purnama (Ahok). Mega juga sering meluangkan waktu untuk blusukan bareng Jokowi. Oleh kalangan internal PDIP, Mega dinilai sedang mendidik langsung Jokowi.

Pertanyaan selanjutnya adalah jika Jokwi menjadi capres, siapa yang akan dicalonkan Megawati sebagai cawapres. Prediksi sebelumnya adalah Megawati capres, dan Jokowi cawapres. Namun karena elektabilitas Jokowi terlalu jauh dari elektabilitas Mega sendiri, maka publik lebih menginginkan Jokowi capres, sehingga kemungkinan Mega akan mencalonkan salah satu anaknya sebagai cawapres. Menjadi masalah nanti, jika perolehan suara PDIP dalam Pileg tidak mencukupi untuk mengusung pasangan capres/cawapres sendiri. Otomatis PDIP harus berkoalisi dengan partai politik lainnya, yang kemungkinan besar menghendaki cawapres berasal dari parpol tersebut. Kondisi ini diperkirakan menjadi salah satu pertimbangan Ketua Umum DPP PDIP, Megawati masih ragu untuk mendeklarasikan Jokowi sebagai capres sebelum pemilu legislatif April 2014 mendatang.

Baca Juga :  Begini Kisah Seorang Ayah yang Dibuang Anaknya pada Malam Takbiran

Siapapun yang terpilih sebagai presiden, menurut penulis, ada tugas dalam bidang politik yang sudah menantinya yaitu menumbuhkan demokrasi yang sehat, menumbuhkan trust dan efficacy serta terjalinnya komunikasi pemerintah dengan rakyat yang semakin baik.

Hal ini selaras dengan pendapat beberapa pakar bertaraf internasional seperti VO Key dalam Public Opinion and American Democracy mengatakan, demokrasi yang menimbulkan bencana merupakan tanggung jawab elit kekuasaan bukan tanggung jawab massa. Sementara itu, Stephen Craig dalam The Malevolent Leaders (1993) mengatakan, tanpa trust dan efficacy suatu pemerintahan akan sulit membangun komitmen-komitmen dengan para elit, sehingga akan menghambat upaya-upaya pembangunan nasional. Sedangkan, Robert Dahl dalam Democracy and It’s Crisis mengatakan, pembangkangan kooperativitas para elit
politik merupakan konsekuensi dari kurang responsifnya Presiden terhadap koreksi-koreksi mereka.

*) Yacob Rambe adalah peneliti senior di Forum Dialog (Fordial) dan Kajian Nusantara Bersatu, Jakarta

Sumber : detik.com

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button