Home / Sport / Yulius Poen diduga tewas terkena racun

Yulius Poen diduga tewas terkena racun

Bagikan Halaman ini

Share Button

13ilustrasi

Moral-politik.com : Yulius Poen (60) warga Desa Haekto, Kecamatan Noemuti Timur, Kabupaten TTU, diduga tewas terkena racun. Indikasi  itu, sempat dibuka via bahasa tubuh korban saat ditanya keluarga. Tapi tak jelas sehingga keluarga memilih untuk tidak proses hukum. Yulius akhirnya meninggal saat tiba di RSUD Kefamenanu, pada Sabtu (04/01).

Sejumlah sumber saat dihampiri di ruang jenasah RSUD Kefamenanu, menuturkan korban Yulius, yang biasa dikenal ramah, santun dan familiar sebelumnya pada Jumat 3 Desember sempat menghadiri pertemuan di balai Desa Haekto, terkait rencana distribusi beras bantuan Padat Karya Pangan (PKP) bersama rekan aparatur desa dan warga lainnya.

Sekitar pukul 15.00 witta, Yulius saat kembali dari kantor desa menuju tempat tinggalnya di Banatu, sudah dalam keadaan pucat dan kondisinya tidak seperti lasimnya. Meski begitu, setelah menikmati santap siang dan istirahat sebentar sebagai aparatur desa, Yulius mendatangi rumah Dusun I, untuk menghadiri pertemuan bersama aparatur desa lainnya untuk membicarakan pembentukan Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Sayangnya ketika sekembali dari pertemuan sekitar pukul 18.00 witta, korban Yulius kembali ketempat tinggalnya sudah dalam kondisi sekarat karena tidak bisa berbicara lagi. Sang isteri Cornelia Sanit, (58) sontak kaget ketika melihat kondisi suaminya dalam keadaan sempoyongan dan tidak bisa membuka mulut lagi, sehingga bersama sejumlah buah hatinya berteriak histeris sehingga tetangga disekitarnya mulai berdatangan.

Alfridus Sanit, putera sulung korban kepada wartawan menuturkan sempat menyuguhkan makanan dan minuman tapi ayahnya tidak berdaya lagi sebab giginya sudah terkunci rapat. Sehingga langsung memboyong ayahnya menuju ke Puskesmas Haekto, sehingga bisa mendapat pertolongan medis, tapi upaya tersebut tidak berhasil, sehingga keesokan harinya korban dirujuk ke RSUD Kefamenanu. Sayangnya ketika baru tiba di ruang UGD dan belum sempat dirawat tim medis, ayahnya sudah menghembuskan nafasnya.

Baca Juga :  Mahasiswi Unika Meninggal Bersama Bayi Baru Dilahirkan

Alfridus menduga kuat kalau ayahnya meninggal terkena racun, sebab ada sejumlah kejanggalan semisal kondisi fisiknya biru dan mata kuning, apalagi ketika sempat ditanya ayahnya sempat memberi signal kalau terkena racun lewat lewat sebatang rokok, sayangnya tidak sempat menyebut jelas siapa orang penyuguh rokok kepada ayahnya.

Meski begitu Alfridus bersama keluarganya memilih untuk tidak memproses hukum dugaan kematian ayahnya yang diduga tidak wajar, terbukti saat tim medis meminta untuk visum et reperdum  sehingga bisa diketahui penyebab kematian itu, tapi keluarga menolak. Keluarga hanya bisa pasrah dan tidak ingin membawa keranah hukum.
“Kita duga itu memang kena racun tapi biar sudah kami tidak mau untuk proses hukum. Kita hanya pasrah untuk Tuhan,”ucapnya.

Sementara Camat Noemuti Timur, Rofinus Knaofmone, saat ditemui di ruang jenasah bersama keluarga korban, mengaku hal serupa. Knaofmone menduga Yullius yang juga ketua RT 01 Desa Haekto, meninggal terkena racun sebab ada indikasi gejala jika seseorang terkena racun.

Pernyataan Camat Knaofmone, bukan tidak bermaksud mendahului vonis tim medis, tapi dari sejumlah kejanggalan dan tanda-tanda yang muncul bisa diduga korban meninggal terkena racun. Sayangnya keluarga korban menolak untuk divisum, padahal menurut Dia, melalui visum bisa diketahui jelas penyebab kematian korban, sehingga bisa ditindaklanjuti proses hukumnya.

“Kita bukan tim medis tapi tentu kita bisa tahu tanda-tanda keracunan, apakah murni sakit atau terkena racun. Ya tapi sekarang tergantung keluarga korban mau buat laporan polisi atau tidak,itu tergantung keluarga,” katanya.

Camat Rofinus mengaku peristiwa keracunan keseringan terjadi, tapi biasanya cara penangkal racun sudah diketahui warga, sehingga ketika ada indikasi atau gejala terkena racun langsung dicarikan penangkalnya yang juga terbuat dari bahan tradisional.

Baca Juga :  DPRD Kabupaten Kupang kembalikan uang, kasus dinyatakan SP3

Melihat kebiasaan buruk yang kerap muncul itu, dirinya lebih memilih menyediakan makanan ringan ataupun minuman dari rumah sebagai cadangan, kebiasaan itu dilakukan untuk menghindari ancaman yang bisa saja terjadi jika turun ke pelosok desa. (lima)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button