Home / Populer / Yusuf Henuk cairkan dana Yusuf A. Henuk

Yusuf Henuk cairkan dana Yusuf A. Henuk

Bagikan Halaman ini

Share Button

4

Moral-politik.com : Bantuan perumahan berupa dana stimulan untuk rehabilitasi rumah yang disiapkan Kementerian Perumahan Rakyat dalam tahun anggaran 2013 lalu bak rezeki nomplok bagi penerimanya.

Ironisnya, akibat lemahnya pendataan serta kurangnya sosialisasi, ada warga di Desa Lidor, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, mencairkan dana stimulan yang bukan haknya. Hal ini setidaknya dialami salah seorang penerima, Yusuf A. Henuk.

Yusuf A. Henuk melalui putranya, Melkianus Henuk kepada wartawan di kediamannya di Dusun Lidor, Desa Lidor, Senin (6/1) mengungkapkan, salah seorang warga di Dusun Alenaul, Desa Lidor, Yusuf Henuk mencairkan dana tersebut tanpa sepengetahuan Yusuf A. Henuk.

“Mungkin karena nama agak mirip yang bersangkutan (Yusuf Henukh, red) mencairkan dana itu,” ungkap Melkianus.

Menurut Melkianus, sesuai hasil pendataan yang dilakukan petugas, warga Lidor atas nama Yusuf A. Henuk yang semestinya mendapatkan dana sebesar Rp 7.500.000 tersebut bukan Yusuf Henuk.

“Dana stimulan itu dicairkan dalam dua tahapa, dana tahap pertama dicairkan sebesar Rp.3.750.000. Dana tahap pertama itu dicairkan oleh Yusuf henuk warga  Dusun Alenaul, Desa Lidor,” katanya.

Lebih lanjut Melkianus menjelaskan, pihaknya mengetahui bahwa ayahnya, Yusuf A. Henukh mendapatkan dana bantuan itu setelah mendapat informasi dari Kepala Desa Lidor, Yoppy O. hilly bahwa ayahnya mendapatkan bantuan tersebut.

“Kepala Desa yang membeitahukan kepada kami bahwa Bapa saya terima bantuan itu sehingga kami diminta supaya menyediakan foto copi KTP dan dikumpulkan di kepala desa,” ungkapnya.

Saat itu lanjutnya, pihaknya diminta agar mencairkan dana tersebut di BRI Unit Ba’a. mewakili ayahnya, Melkianus langsung mendatangi BRI untuk mencairkan dana itu, namun dirinya ditolak karena pencairan dana itu tidak dapat diwakilkan ke orang lain.

Baca Juga :  Luthfi Hasan Ishaaq kembali telan pil pahit

“Saya sempat berkonsultasi ke fasilitator bantuan atas nama Adi Benggu, namun dia hanya meminta agar saya datang keesokannya,” ungkapnya.
Keesokan harinya, dirinya kembali mendatangi BRI Unit Ba’a namun sesampainya di kantor BRI, baru diberitahukan ke dirinya bahwa dana tersebut telah dicairkan warga atas nama Yusuf Henuk.

Merasa tidak puas, dirinya langsung menemui Yusuf Henuk di kediamannya mencari tahu soal dana yang telah dicairkan itu.

“Saat saya tanya Yusuf Henuk dia mengatakan bahwa dana itu dicairkannya setelah mendapat pemberitahuan dari Adi Benggu. Menurut Yusuf Henuk, saat pencairan dia bayar Adi Benggu Rp150 ribu sebagai imbalan karena telah membantu proses pencairan dana tahap pertama Rp.3.750.000,” terangnya.

Usai menemui Yusuf Henuk lanjut Melkianus, dirinya menemui Penjabat Kepala Desa Lidor, Yoppy O Hilly saat itu diperoleh jawaban bahwa sesuai pendataan yang dilakukan di tingkat desa bahwa yang semestinya berhak mendapatkan dana itu adalah Yusuf A. Henuk bukan Yusuf Henuk.

“Waktu itu kepala desa katakan bahwa setahu saya yang dapat itu bantuan Yusuf A.  Henukh di dusun Lidor Lidor,” kata Melkianus  menirukan ucapan Yoppy.

Pernah diberitakan, Bantuan stimulan perumahan swadaya tahun anggaran 2013 yang berasal dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) bagi  sekitar 600 kepala keluarga kurang mampu di Kecamatan Rote Barat Laut Kabupaten Rote Ndao  sudah mulai direalisasikan.

Proses pembayaran kepada warga penerima dilakukan sejak awal Desember melalui Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang ada di Kabupaten Rote Ndao. Informasi yang berhasil dihimpun wartawan menyebutkan, proses realisasi kepada penerima diperkirakan mencapai 60 persen.

Sayangnya saat pencairan dilaksanakan, diduga ada oknum yang memangkas dana yang diperoleh tersebut . Hal ini dikeluhkan  beberapa warga asal Desa Oetutulu, Dan Desa Netenain serta Desa Modosinal, Ory Ndolu dan Agustinus Ngeo serta Alexander  kepada wartawan, Sabtu (21/12).

Baca Juga :  Dosen Hukum dan HAM Kontemporer Undana bantah tidak mengajar

Ory Ndolu, salah seorang warga asal Desa Netenain Kecamatan Rote Barat Laut (RBL), mempertanyakan fungsi dan tugas dari dua orang pendamping masing-masing Jer Benggu dan Calvin Ndun dan Mandala yang ditempatkan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rote Ndao untuk mendampingi para warga penerima dana bantuan stimulan perumahan swadaya tahun anggaran 2013.

“Kedua oknum tersebut bukan saja memantau dan mendampingi kami mengisi formulir dan menyerahkan copy KTP untuk menerima dana tersebut di BRI, tetapi mereka juga meminta sejumlah dana dari setiap kepala keluarga (KK) penerima dana bantuan stimulant. Masing-masing penerima diminta untuk menyerahkan uang sebesar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu sebagai imbalan karena mereka berdua sudah membantu mendampingi kami di Bank saat proses penngambilan uang,” katanya.

Menurtnya, kedua oknum asal Dinas PU Kabupaten Rote Ndao itu mewajibkan mereka untuk membayar biaya pendamping kepada keduanya.

“Saya sendiri menyerahkan uang sebesar Rp200 ribu kepada mereka sebagai jasa mereka mendampingi saat pencairan. Kami hanya masyarakat bodoh, sehingga kami ikut saja perintah mereka. Saat menyerahkan uang itu kepada mereka, salah seorang pegawai BRI melarang karena dana sebesar Rp.7.500.000 yang kami terima adalah dana bantuan stimulan perumahan swadaya dari Kementerian Perumahan Rakyat dan siapapun tidak diperbolehkan memotong dana tersebut, sebab dalam juknis tidak dibenarkan memotong dana bantuan milik para penerima” ungkap Hory. (lima)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button