Home / Sejarah / Asal-muasal 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang

Asal-muasal 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang

Bagikan Halaman ini

Share Button
3
ilustrasi wanita Teheran yang tak peduli dengan
larangan pemerintah merayakan Valentine Day
Moral-politik.com : Apa artinya hidup jika tak ada kasih sayang antarmanusia, atau antar mereka yang hidup bersama dalam suatu tujuan tertentu?
Seperti diketahui, pada tanggal 14 Februari ini adalah Valentine Day atau Hari Kasih Sayang. Pertanyaannya apakah kasih saya itu boleh diwujudkan pada hari itu saja? Tentu saja tidak. Sebab momentum itu hanyalah sebagai sebuah perlambang bahwa manusia hidup harus berkasih sayang.
Valentine Day akan semakin bermakna dan bermartabat jika pada saat itu digunakan sebagai momen istimewa untuk mengungkapkan kasih sayang pada orang-orang tercinta secara istimewa.Meski kita mengingat Hari Valentine identik dengan bunga, cokelat, kado, serta makan malam romantis, ternyata sejarah Valentine sangat jauh dari hal tersebut.

Melansir Kompas.com, tidak ada catatan yang jelas mengenai sejarah Hari Valentine ini. Ada yang percaya bahwa hari tersebut merupakan peringatan meninggalnya Santo Valentine, seorang uskup yang hidup pada zaman kekaisaran Romawi. Ia dianggap berjasa bagi pasangan muda-mudi yang hidup di zaman itu.

Saat Romawi terlibat perang, Kaisar Romawi Claudius II memerintahkan semua pemuda untuk berperang. Agar mereka lebih fokus berperang, ia melarang pemuda untuk menikahi pasangannya. Namun St.Valentine tidak menghiraukan larangan itu, ia secara diam-diam menikahkan muda-mudi. Ketika mengetahui hal tersebut, kaisar memutuskan untuk menghukum mati St.Valentine.

Hari Valentine juga dipercaya sebenarnya adalah festival kesuburan di zaman Romawi yang disebut dengan Lupercalia. Ini adalah festival untuk merayakan kelahiran, nenek moyang, dan cinta.

Versi lain menyebutkan perayaan valentine paling tua adalah ketika Charles, Duke of Orleans, yang dipenjara di sebuah menara London pada tahun 1415 mengirimkan puisi cinta untuk istrinya. Puisi itu ia tuliskan sebagai ungkapan cinta dan kerinduannya.

Baca Juga :  Pilkada Kota Kupang, Siapa yang Melaju ke Babak Perebutan Kursi?

Tradisi mengirimkan puisi cinta kepada orang terkasih konon berasal dari cerita tersebut. Pada abad 17 dan 18, dimulai tradisi bertukar kado. Sementara itu memberikan kartu mulai populer di abad 19. Ini dianggap sebagai cara paling mudah untuk menunjukkan perasaan.

Mulai paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas, dengan pemberian hadiah berupa mawar dan cokelat.

Versi mana pun yang Anda percaya sebenarnya tidak penting. Yang sering kita lupakan adalah makna dari kasih sayang itu sendiri. Bukan cuma kasih sayang pada manusia lain tapi yang tak kalah penting pada diri sendiri.

Pada diri kita sendiri, mulailah memperlakukan diri seperti Anda ingin orang lain memperlakukan kita. Jika kita menganggap diri kita berharga, kita akan memancarkan aura yang positif sehingga tak sulit menarik cinta sejati mendekat pada Anda.

Happy Valentine Day…. (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button