Home / Populer / Demokrat minta Jokowi jangan cari perhatian melalui isu sadap

Demokrat minta Jokowi jangan cari perhatian melalui isu sadap

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

 
KOMODO.MORAL-POLITIK.COM – Banyak respons bermunculan terkait dengan isu penyadapan di rumah jabatan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi.

Dari respons positif hingga ke negative adalah juga sama-sama ingin mencari perhatian warga Negara Indonesia di dunia, terutama yang punya hak pilih.

Paling vokal menyuarakan responsnya adalah kader-kader Partai Demokrat sebagai pesaing berat Jokowi di ajang Pilpres, kendati Jokowi sendiri belum jelas Nyapres dari PDIP atau didepak sama sekali.

Seperti dituturkan Wakil Sekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan, dirinya berharap Jokowi tidak mencari sensasi lewat isu penyadapan.

“Ketika kasus penyadapan oleh Australia mencuat, Jokowi adem-ayem Saat Edward Snowden (mantan kontraktor CIA) membeberkan kedutaan-kedutaan besar di Jakarta jadi pusat sadapan, Jokowi diam seribu bahasa,” kata Pohan di Jakarta, Jumat (21/2/2014).

Wakil Ketua Komisi I DPR itu, lansir Tribunnews.com, jadi mempertanyakan sikap Jokowi yang reaktif atas penemuan alat sadap rumah dinasnya. “Kalau sekarang dia teriak-teriak tentang rumahnya sendiri, ini ada apa. Minta dikasihanikah? Cari perhatiankah?” kata Pohan. “Doa saya sih, Jokowi lurus-lurus saja,” imbuhnya.

Pohan mengaku ia bisa memaklumi bila kini Jokowi bereaksi terhadap penyadapan di rumah dinasnya. “Kami maklum saja, Jokowi kan sedang ambisi capres, jadi perlu caper (cari perhatian),” tuturnya.

Secara terpisah, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Nasdem, Ferry Mursyidan Baldan tidak yakin jika alat sadap di rumah dinas Jokowi dipasang oleh internal PDIP. “Saya rasa tidak mungkin dilakukan PDIP. Itu saya rasa tidak mungkin,” kata Ferry di kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (21/2/2014).

Menurut Ferry, ada pihak yang khawatir terhadap Jokowi yang pamornya makin bersinar.

Di sisi lain, kata Ferry, isu penyadapan di rumah dinas Jokowi justru menguntungkan mantan Wali Kota Solo itu karena nama Jokowi terus jadi bahan pembicaraan. “Jokowi itu sesuatu. (Adanya isu penyadapan) akan menambah poin dia,” kata Ferry.

Baca Juga :  KAMMI : Selesaikan Century atau Samad penuhi janji mundur

Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo ikut angkat bicara mengenai penyadapan di rumah dinas Gubernur DKI Joko Widodo. Ia mengatakan semua pimpinan partai politik memang rawan disadap.

“Oleh siapa? Yang punya kemampuan dan kewenangan menyadap adalah KPK, BIN, dan kepolisian. Masalahnya, penggunaan kewenangan penyadapan ini tidak diatur ketat. Akibatnya, potensi penyalahgunaannya juga besar sekali,” kata Drajad melalui pesan singkat, Jumat (21/2/2014).

Drajad menilai tidak ada yang dapat menjamin KPK hanya melakukan penyadapan untuk pemberantasan korupsi. Menurut Drajad, pegawai dan pimpinan KPK adalah manusia Indonesia yang rawan menyalahgunakan kekuasaan.

“Jadi bisa saja lembaga-lembaga tersebut menyalahgunakan wewenang, menyadap tanpa alasan yang jelas,” tuturnya.

Drajad juga mengatakan, klaim Jokowi bahwa rumah dinasnya dipangsi alat sadap tidak disertai bukti yang kuat. “Baik bukti tentang adanya alat sadap di rumah dinas Jokowi ataupun tentang pihak yang memasang,” katanya.

Bisa saja, kata Drajad, orang alat-alat sadap itu dipasang sendiri untuk sensasi. “Dan sejuta kontra-klaim lain,” katanya.

Namun, bila Jokowi betul-betul disadap, menurut Drajad, hal itu menunjukkan bahwa orang-orang di sekitar Jokowi tidak melakukan kontra-intelijen yang cerdas dan efektif.

“Kontra-intelijen bisa membuat pihak penyadap tidak mampu berkelit. Kegagalan kontra-intelijen membuat skandal penyadapan tersebut sulit diketahui kebenarnya dan juga sulit mengetahui siapa yang memasang,” katanya.

Atas tuduhan kasus penyadapan rumah dinas Jokowi merupakan taktik mencari sensasi, Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menyatakan PDIP tak mempermasalahkannya.”Terserah saja pendapat berbagai kalangan. Kenyataannya rumah Pak Jokowi disadap, ditemukan alat sadap,” kata Tjahjo melalui pesan singkat, Jumat (21/2/2014).

“Saya hanya memberikan warning bahwa ini kejahatan yang tidak bisa dibiarkan. Walau pun Pak Jokowi santai-santai saja kediamannya disadap,” kata Anggota Komisi I DPR itu.

Baca Juga :  Soal Permintaan Maaf Risma kepada Warga, Ini Penjelasan Pemkot Surabaya

“Ibu Mega juga dikuntit orang sampai masuk rombongan mobil beliau, Partai Nasdem juga poskonya dirusak. Ini warning yang serius agar tidak ada yang merusak demokrasi,” kata Tjahjo.

Tjahjo mengaku pernah mengingatkan Jokowi agar kantor dan kediamannya dibersihkan dari alat sadap. Ternyata Jokowi mengakui dirinya telah disadap. Hal itu diketahui setelah tim Pemprov DKI Jakarta melakukan pemeriksaan rumah dinas gubernur.

Tjahjo menilai Jokowi telah sadar akan posisinya sehingga orang nomor satu di ibu kota itu meningkatkan kewaspadaan.

Informasi rumah dinas Jokowi dipasangi alat sadap disampaikan Tjahjo Kumolo di sela-sela peluncuran buku “Pertarungan Politik profil capres-cawapres RI Potensial 2014” di The Broadway Kemang, Jakarta Selatan, Kamis (20/2/2014).

Ketika dimintai konfirmasi, Jokowi mengakui penemuan alat sadap di rumahnya. Alat-alat sadap itu  ditanam di kamar tidur, ruang tamu, dan ruang makan.  (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button