Home / Populer / Jaksa KPK putar rekaman, Sutan tak berkutik?

Jaksa KPK putar rekaman, Sutan tak berkutik?

Bagikan Halaman ini

Share Button

1ilustrasi

 

MORAL-POLITIK.COM – Cara kerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) penuh dengan kejutan-kejutan. Penyangkalan-penyangkalan selalu dijawab dengan alat-alat bukti.

Paling menarik adalah alat bukti rekaman hasil dari penyadapan, selalu bikin orang yang menyangkal keterlibatan dalam suatu kasus tak berkutik.

Paling menarik dalam persidangan kasus sogok yang melibatkan Rudi Rubiandini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Selasa petang, 25 Februari 2014. Salah satunya adalah adegan Sutan Bhatoegana yang berkukuh membantah menerima duit tunjangan hari raya (THR) dari Rudi Rubiandini, yang kala itu menjabat Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

Perdebatan sempat terjadi antara Rudi yang duduk di kursi pesakitan dengan Bhatoegana yang dihadirkan jaksa sebagai saksi. Bhatoegana tetap berkukuh membantah menerima duit THR meski disebut dititipkan lewat sejumlah stafnya yang dibungkus dengan tas ransel hitam.

Pun ketika saksi sebelumnya dihadirkan, lansir Tempo.co, yaitu mantan Kepala Biro Keuangan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Didi Dwi Sutrisnohadi, yang mengaku memberi ransel hitam berisi amplop dengan uang US$ 140 ribu yang ditujukan untuk pimpinan, anggota, dan Sekretariat Komisi VII kepada staf khusus Sutan, Irianto. Irianto bahkan meneken tanda terima uang itu.

Melihat kondisi itu, jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi akhirnya memutar rekaman pembicaraan Rudi dengan Sutan Bhatoegana.

S: Halo, Assalamulaikum.

R: Waalaikumsalam.

S: Pak Profesor jadi ke luar negeri? Jadi, ya, keluar negeri? Enggak jadi, kan?

R: Enggak, enggak jadi saya.

S: Janganlah, kita-kita Ramadan ini. Yang menghadapi Ramadan ini yang punya oil dan gas ramai. Bisa pening kita ini.

R: Ha-ha-ha-ha, beres-beres.

S: Tapi yang penting nanti habis Ramadan kita refund lagi main golf. Kalau bisa, nanti diatur lagi Pak Herman nanti, ya.

Baca Juga :  Mulyana: Koalisi Capres Pasca Pileg adalah “Mutilasi Demokrasi”

R: Beres.

S: Saya sudah dengar di mana-mana, itu Pak Rudi lagi keranjingan golf. Wah, bisa dimainkan nih barang.

R: Ha-ha-ha-ha-ha.

S: Apalagi kalau ilmunya pakai tangan satu Pak Rudi tuh mantap. Kita kaget-kaget loh itu. Tanya itu orang-orangnya Pak Rudi. Eh, itu kok Pak Rudi itu masuk terus itu. Gila juga ilmunya. Pak Rudi, seperti yang tadi malam biar clear, Pak Herman jam berapa bisa ketemu Bapak? Kan tadi sama saya. Cuma tadi enggak usahlah, kita sudah sepakat enggak ke sana, biar Pak Herman-lah.

R: Hari ini kan agak full ini. Saya bisanya… tapi saya SMS ke Pak Herman deh. Saya cek dulu jadwalnya.

S: Tapi kalau bisa sih as soon as possible supaya barang ini tidak jadi basi dan enggak bagus.

R: Kalau nanti malam?

S: Itu lebih bagus. Saya sudah jelaskan ke Pak Herman, nanti akan sampaikan ke Bapak.

R: Tapi sesudah buka, saya dapat buka di tempat lain.

S: Oke kalau gitu. Nanti Pak Herman SMS Bapak habis Isya, ya?

R: Ya, lewat sekitar jam 8-an.

S: Jam 8-an, ya. Iyalah, biar clear. Ini kan menyangkut produksi Bapak nanti. Lebih cepat lebih bagus. Sip, ya?

R: Makasih.

S: Makasih banyak Pak Rudi, ya. Salam, Assalamualaikum.

R: Waalaikumsalam. (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button