Home / Gosip / Mencermati pencapresan Jokowi (2)

Mencermati pencapresan Jokowi (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

3Eugenius Kau Suni

 

 

Jokowi Masih Kurang
Hemat saya, kapabilitas Jokowi sebagai pemimpin nasional, masih kurang. Pengalaman menjadi Wali Kota Solo selama dua periode belum cukup untuk memimpin sebuah Negara Indonesia. Saat ini Jokowi memimpin DKI Jakarta, gerak langkah dan terobosannya mendapat banyak apresiasi. Sebab Jakarta dengan berbagai problematikanya yang kompleks, diurus dan ditangani dengan sungguh-sungguh oleh duet maut Jokowi-Ahok.

Tetapi penanganan ibukota ini belum tuntas dan selesai. Ini juga bernada Jokowi belum selesai dengan dirinya sendiri. Jokowi belum membuktikan ketangguhannya dalam memimpin dan menyelesaikan persoalan-persoalan Jakarta secara tuntas.

Tidak heran ketika nama Jokowi disebut-sebut dalam bursa pencapresan, banyak orang Jakarta berteriak dan meminta Jokowi menyelesaikan masalah Jakarta. Ini bukan karena Jokowi tidak tepat menjadi presiden, tetapi orang Jakarta masih memiliki harapan yang besar terhadap Jokowi untuk memajukan kesejahteraan dan kehidupan orang Jakarta. Jokowi dan Ahok satu-satunya paket yang paling bisa diharapkan saat ini untuk mewujudkan Jakarta baru yang lebih baik.

Saya tidak meragukan kapabilitas Jokowi bila ia diusung dan terpilih sebagai presiden. Tetapi memang masih ada yang kurang. Jokowi tidak bisa sendiri. Bahasa tubuh seorang Jokowi selama satu tahun lebih memimpin Jakarta telah menunjukan optimisme masyarakat. Kalau ini berlanjut menjadi presiden, Jokowi tentu akan memberikan harapan baru bagi rakyat Indonesia yang saat ini semakin tidak percaya terhadap pemimpinan Indonesia.

Jokowi mungkin bukan satu-satunya orang yang paling tepat untuk membawa negeri dan bangsa ini keluar dari masalahnya. Tetapi orang-orang seperti Jokowi saat ini dibutuhkan, terutama untuk memulihkan kepercayaan rakyat, agar mau diajak bekerja sama mewujudkan cita-cita pembangunan nasional.

Masalah Indonesia
Siapapun presiden Indonesia ke depan, akan menghadapi masalah besar Indonesia yang sangat berat. Jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM yang baik, menyebabkan Indonesia berjalan terseok-seok dalam belenggu kemiskinan.

Baca Juga :  Penyebab istri tak sering bersuara manja kala...

Hal lain adalah krisis energi dan terus menipisnya sumber daya alam menyebabkan Indonesia terus bergantung pada impor energi. Akibatnya pergerakan harga minyak dunia menyeret-nyeret harga BBM Indonesia yang terpaksa dinaikan, untuk mengurangi subsidi pemerintah yang kian memberatkan. Muaranya adalah kenaikan harga sembako yang ikut mempengaruhi berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dan yang tidak kalah peliknya adalah bagaimana mengatasi dan memberantas praktek korupsi yang sudah mendarah daging. Sistem pemerintahan begitu lemah sehingga pilar-pilar Negara demokrasi, antara lain eksekutif, legislatif, dan yudikatif, kian kelam, dipenuhi borok-borok dan skandal yang mengerikan.

Kompleksitas masalah Indonesia inilah yang menyebabkan seorang pemimpin nasional, antara lain presiden, semakin berat. Sehingga seorang presiden yang dibutuhkan Indonesia saat ini harus mampu mengarahkan seluruh energi dan sumber daya yang ada, untuk memimpin Indonesia ke arah yang lebih baik.

Fenomena Jokowi diharapkan menginspirasi kepemimpinan nasional, untuk berorientasi pro rakyat, dan membawa negeri dan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Namun apakah Jokowi dicapreskan atau tidak, semua itu tergantung PDI Perjuangan. Tergantung apa kata Ibu Megawati. Tetapi yang paling penting, saat ini, kita membutuhkan orang-orang seperti Jokowi. (habis)

Penulis, pemerhati politik, tinggal di Mega Kuningan, Jakarta Selatan

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button