Home / Populer / 3 seniman turun ke jalan, prihatin nasib TKI Satinah

3 seniman turun ke jalan, prihatin nasib TKI Satinah

Bagikan Halaman ini

Share Button

8

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Seniman Surabaya turun ke jalan untuk menunjukkan solidaritas kemanusiaannya terhadap Satinah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terancam hukuman pancung di Arab Saudi.

Aksi yang dilakukan oleh tiga orang seniman Surabaya tersebut untuk meminta dukungan moral sehingga bisa menggelar aksinya di depan Gedung Negara Grahadi, Senin (31/3/2014).

Ketiga seniman itu membawa atribut berupa bendera merah putih berwarna kusam, dan nasi bungkus. Mereka juga membawa poster bertuliskan “Cukup Satinah Saja, Jangan Ada yang Lain. Pahlawan Tak Harus Jadi TKI”.

Sugeng Gondrong, salah satu seniman menjelaskan, bendera kusam menandakan bahwa simbol negara berduka karena tak bisa membela warga negaranya yang tersandung masalah di luar negeri. Sementara nasi sebungkus, mengibaratkan bahwa presiden, pemulung, menteri atau siapa saja untuk bertahan hidup, sama-sama memerlukan nasi.

“Nah, satu piring bisa didapatkan di Indonesia, tidak perlu harus sampai ke luar negeri,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, lansir Kompas.com, pada masyarakat bahwa menjadi TKI adalah pahlawan, namun pahlawan yang justru menjadi korban karena menjadi ladang para koruptor yang tidak memberikan perlindungan bagi pahlawan devisa.

“Buktinya saja pemerintah masih kesulitan untuk membebaskan TKI yang bermasalah di luar negeri,” katanya.

Dia menduga, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa Satinah saja. Menurutnya, masih banyak Satinah lain yang luput dari pemberitaan media.

“Jika warga Indonesia masih mengandalkan menjadi TKI untuk mencari penghidupan, maka dipastikan akan jadi Satinah-Satinah yang lain,” pungkasnya.

Satinah binti Jumadi Ahmadi, TKW asal dusun Mrunten, Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah terancam hukuman pancung karena membunuh majikannya. Satinah telah dipenjara sejak 2009 dan telah mengalami tiga kali penangguhan hukuman mati. Keluarga majikan meminta tebusan sebesar 7,5 juta riyal atau setara Rp 21 miliar. (erny)

Baca Juga :  Indonesia beli 11 jet tempur Sukhoi-35 dari Rusia

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button