Home / Populer / Hamdi Muluk : Dukungan Jokowi beralih ke Prabowo

Hamdi Muluk : Dukungan Jokowi beralih ke Prabowo

Bagikan Halaman ini

Share Button

7

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Tiga hari lagi kampanye pemilu legislatif (Pileg) segera menggema di bumi Nusantara, Indonesia. Tapi baru dua partai yang secara jantan menyatakan calon presidennya. Selain Hanura yang telah mengusung capres dan cawapresnya; Wiranto-Hary, Gerindra mengusung Praboowo; kemungkinan besar Prabowo-Ahok.

Partai lainnya masih kabur-kabur. Semisal Golkar juga belum pasti mengusung Aburizal Bakrie alias ARB. Pasalnya sosok ARB ditengarai dililit sejumlah persoalan. Paling kental adalah kasus Lumpur Lapindo, selain itu banyak tokoh Golkar berurusan dengan KPK, seperti Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum Setya Novanto yang hingga kini masih digantung statusnya oleh Komisi Pemberantaan Korupsi (KPK) padahal sudah beberapa kali diperiksa, juga lolos dari gerebek KPK di Gedung DPR.

Khusus bagi Gubernur DKI Jakarta, berbagai permasalahan yang terjadi di Jakarta mulai dari macet, banjir, hingga pengadaan bus transjakarta berkarat dinilai bisa menghilangkan dukungan suara untuk Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi bila diusung menjadi calon presiden.

“Kalau permasalahan di Jakarta ini terus berlangsung, bisa tersedot suara Jokowi ke Prabowo,” kata pengamat politik, Hamdi Muluk, Rabu (12/3/2014). Bukan tanpa alasan Hamdi menyebut nama Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto itu.

Menurut Hamdi, berbagai survei selama ini pada umumnya menempatkan Jokowi pada peringkat pertama orang yang paling diinginkan responden menjadi calon presiden. Sementara Prabowo ada di peringkat dua.

Dilihat dari aspek psikologis, lanjut Hamdi, jika masyarakat merasa kecewa dengan orang nomor satu, maka mereka cenderung berpindah ke orang yang berada di urutan kedua. “Tidak mungkin akan bergeser jauh pilihannya. Kalau dari nomor satu, ya pasti pindah ke yang nomor dua,” ujar dia.

Baca Juga :  Kapitalisasi Grup Bakrie tahun ini merosot tajam, mengapa?

Risiko beralihnya dukungan untuk Jokowi ke Prabowo, menurut Hamdi, mulai terlihat dari hasil survei Indo Barometer yang bekerja sama dengan Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia.

Dalam rilis hasil survei tersebut, Hamdi mengatakan, Jokowi kali ini hanya mendapatkan suara 30,3 persen responden, dua kali lipat dibandingkan suara Prabowo. Padahal, kata dia, pada survei-survei sebelumnya, Jokowi rata-rata mendapat dukungan antara 40-50 persen responden, tiga kali pencapaian suara Prabowo.

Menurut Hamdi, risiko beralihnya suara Jokowi tersebut semakin besar karena Prabowo saat ini tak memegang jabatan publik apa pun. Kondisi ini membuat nama Prabowo tak dicemari isu miring terkait kinerja.

Meski isu terkait kinerja Prabowo pada masa lalu saat masih aktif di Kopassus masih kerap didengungkan, menurut Hamdi, dengungnya tak sekencang yang diarahkan ke kinerja Jokowi di Jakarta sekarang.

“Jadi, masyarakat, yang semula simpati dengan Jokowi, kecewa dengan pengadaan bus ini. Sementara Prabowo bisa dibilang stabil karena tidak ada isu yang menyerangnya. Dengan keadaan yang seperti ini, jelas suara Jokowi akan semakin terancam,” ujar Hamdi.

Oleh karena itu, Hamdi berpendapat bila memang PDI-P berniat mengusung Jokowi menjadi calon presiden, kasus-kasus semacam bus berkarat itu harus dituntaskan terlebih dahulu. Harapannya, dukungan untuk Jokowi kembali seperti pada survei-survei sebelumnya. (linda)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button