Home / Populer / Mengais serpihan-serpihan perjalanan Jokowi Capres (1)

Mengais serpihan-serpihan perjalanan Jokowi Capres (1)

Bagikan Halaman ini

Share Button

7

 

 

Oleh Vincentcius Jeskial Boekan

KUPANG, MORAL-POLITIK.COM – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri alias Mega, baru saja, tepatnya Jumat (14/3/2014), menorehkan sejarah perpolitikan baru di Negeri Nusantara ini.

Mandat yang diberikan forum Rakernas PDIP di Bali tiga tahun silam kepada Mega untuk menetapkan calon presiden dari partai yang pada rezim Orde Baru itu bernama Partai Demokrasi Indonesia (PDI), telah dituntaskan dalam kematangan rohnya.

Serpihan-serpihan perjalanan hari lepas hari, paska dilantiknya Walikota Solo Joko Widodo alias Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta, ingin saya urai tuntas dalam beberapa episode kedepan. Menegangkan tapi butuh kesabaran untuk mengetahuinya lebih pasti.

Pada awalnya, semua kita tahu bahwa sosok sang gubernur Jokowi itu polos alias ‘culun’, energik, peduli dengan jeritan hati masyarakat, antikorupsi, dan terutama kejawen. Sosok ini telah merubah paradigma ataupun teori mencari pemimpin—sebelumnya, sosok pemimpin itu harus tinggi, tegak, kekar, ganteng, dan geantle; semisal SBY, Bung Karno, Suharto.

Melalui gebrakan blusukan dan nyerocosnya Jokowi, dia berhasil membuat Indonesia jatuh ‘kasmaran’. Hasil dari sekitar 20 survei menempatkan dirinya di posisi teratas, termasuk mengalahkan dua tokoh besar yang membidani dirinya menjadi gubernur, yaitu Prabowo dan Mega itu sendiri.

Posisi dilematis ini semakin menggurita, karena hampir 90 persen media online di Indonesia mendukung Jokowi dengan tanpa embel-embelnya. Tiada hari tanpa artikel tentang Jokowi. Malah, keseleo lidahnya Jokowi pun bisa disulap menjadi sebuah pernyataan yang manis menyejukkan kalbu.

Singkat kata, Jokowi adalah sosok yang dilahirkan oleh anak bangsa, bukan melahirkan dirinya sendiri, termasuk dilahirkan oleh induk semangnya yang bernama PDIP.

Pengalaman 10 tahun menjadi partai oposannya Demokrat dan sekutunya (Golkar, PAN, PKS, PPP, PKB), sedikit banyak telah membuat PDIP gerah politik. Ambisi manusiawinya untuk kembali berada di pucuk kepemimpinan nasional, terus-menerus meronta-ronta, bahkan menggurita kemana-mana.

Baca Juga :  PNS NTT belum gajian, dana di Bank NTT kosong?

Sedangkan fakta lapangan mengurai bahwa partai yang berkoar-koar sebagai partainya wong cilik ini, ternyata setelah memimpin di daerah-daerah, lupa diri, jika tak mau dibilang sebagai lupa daratan. Lansiran ICW, PDIP dinyatakan sebagai partai terkorup karena jumlah koruptornya terbanyak, di atas Golkar dan Demokrat.

Waktu terus bergulir. Muncul sebuah organisasi bernama Barisan Relawan Jokowi Presiden alias Bara JP.

Saya pikir lahirnya organisasi ini dibidani oleh PDIP. Ternyata setelah saya dihubungi oleh Ketua Bara JP Sihol Manulang, barulah tahu persis bahwa organisasi tersebut adalah kumpulan serpihan-serpihan mutiara retak, yang mendamba perubahan signifikan di Persada Nusantara ini.

Lalu apa kata saya kepada Sihol Manulang, yang saya sapa dia dengan Bung itu? (bersambung)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button