Home / Populer / Mereka-reka skenario Megawati kemarin dan esok

Mereka-reka skenario Megawati kemarin dan esok

Bagikan Halaman ini

Share Button

1ilustrasi

 

 

KUPANG, MORAL-POLITIK.COM – Malam telah pukul 23.00 Wita, namun sebagai orang kecil, saya belum mengerti skenario politik yang dimainkan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri.

Merujuk pada hasil Rakernas II di Bali, kewenangan pencapresan diserahkan kepada Megawati. Atau dengan perkataan lain, Rakernas memutuskan Megawati sebagai Capres 2014-2019.

Dalam perjalanan waktu, dari survei ke survei elektabilitas dan popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi, selalu unggul jauh dari Megawati—juga—capres partai lainnya.

Tekanan demi tekanan dialamatkan kepada Megawati untuk capreskan Jokowi, tapi dijawab Megawati dalam Rakernas di Jakarta dengan dua opsi. Pertama, Jokowi capres jika PDIP tidak mencapai 20% kursi DPR atau 25% perolehan suara sah; dan kedua, jika di atas 20% maka dirinya capres sedangkan Jokowi cawapres. Penetapannya usai pemilu legislatif 9 April mendatang.

Ternyata mengalami perubahan. Secara mengejutkan Megawati mengeluarkan Perintah Harian kepada Jokowi sebagai capres PDIP, dan memerintahkan semua pendukung Jokowi untuk memenangkan PDIP dalam Pileg 9 April 2014.

Surat Perintah Megawati tersebut telah dilaksanakan oleh Jokowi walaupun belum sepenuhnya, karena masih terikat jabatannya sebagai gubernur. Ini berarti kontribusi Jokowi untuk tembus 20% kursi di DPR belum maksimal.

Memang ada Barisan Relawan Jokowi Presiden dan sebagainya yang mendapat amanat dari Megawati, tapi mereka bekerja secara sukarela dengan pelbagai keterbatasannya. Dalam amatan, para relawan sulit berkoordinasi dengan Pimpinan PDIP di daerah; entah karena kesibukan mereka dalam tugas pokoknya, atau ada kesombongan hierarkhi yang melebihi dari kesombongan Megawati sebagai Ketua Umum plus pemilik PDIP.

Di balik itu, serangan terhadap Jokowi terus berdatangan dari segala penjuru mata angin. Megawati telah menyatakan membentengi Jokowi, namun jika itu berkaitan dengan dugaan-dugaan korupsi seperti kasus Bus Transjakarta, apakah Megawati sanggup mengintervensi, sedangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri tidak melakukan itu; malah SBY ikut diserang.

Baca Juga :  Jurusnya Jokowi Melawan Tekanan Politik

Euforia perpolitikan semakin hangat, jika tak mau dibilang memanas. Perubahan demi perubahan bakal terjadi di setiap detik.

Sesuatu bisa saja terjadi. Semisal jika PDIP tak capai 20% kursi DPR maka Megawati akan menarik kembali surat perintah, lalu melaksanakan amanat Rakernas II dan III.

Akan tetapi pertanyaannya : Bagaimana dengan posisi Jokowi?

Nantikan episode II di esok siang…

 

Penulis : Vincentcius Jeskial Boekan

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button