Home / Populer / Pengamat : Harus ada pertemuan PDI-P dan Gerindra

Pengamat : Harus ada pertemuan PDI-P dan Gerindra

Bagikan Halaman ini

Share Button

5

 

 

MORAL-POLITIK.COM – Saling umbar antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Gerindra mulai bikin gerah masyarakat.

Diwakili oleh seorang tokoh, sangat diharapkan kedua partai ini dapat menempuh rekonsiliasi untuk menyelesaikan perjanjian Batu Tulis yang dipolemikkan itu. Kedua belah pihak sebaiknya tidak mengumbar permasalahan itu di media massa.

“Harus ada pertemuan sendiri untuk membahas masalah ini, harus segera dilakukan rekonsiliasi,” kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, saat dihubungi, Senin (17/3/2014) malam.

Hendri yakin bahwa perselisihan tersebut terjadi karena adanya kesalahan komunikasi politik antara kedua partai. Oleh karena itu, Hendri menilai masalah itu dapat segera diselesaikan bila dibicarakan secara baik-baik, khususnya oleh orang-orang yang dulu membuat perjanjian tersebut.

Menurut Hendri, Lansir kompas.com, konflik Batu Tulis ini bisa terjadi karena kemunculan sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang mengagetkan banyak pihak. Ia menilai internal PDI Perjuangan pun belum menyadari bahwa partai itu memiliki sosok potensial seperti Jokowi. Kini PDI Perjuangan menyadari betapa besarnya pengaruh Jokowi dan itu ditunjukkan dari keunggulan Jokowi pada survei-survei pemilihan presiden.

“Jadi, ini bukan masalah siapa yang harus mengalah atau enggak mengalah, tapi harus dibicarakan. Sekarang kan PDI-P merasa tidak merasa harus memenuhi perjanjian karena tidak menang di pemilu kemarin (2009). Jadi, sampaikan saja langsung ke Gerindra. Ini akan menghilangkan ego-ego yang mereka punya,” kata dia.

Dokumen yang diduga merupakan perjanjian Batu Tulis antara Gerindra dan PDI Perjuangan pada Mei 2009 itu beredar luas di jejaring sosial setelah Jokowi ditetapkan sebagai bakal calon presiden dari PDI Perjuangan. Kesepakatan itu berisi tujuh poin, salah satunya menyebutkan bahwa Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan mendukung pencalonan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilihan Umum 2014. PDI Perjuangan mengklaim bahwa perjanjian itu hanya berlaku jika pasangan Megawati-Prabowo menang dalam Pemilu 2009. Nyatanya, pasangan tersebut kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono. (erny)

Baca Juga :  Mahfud MD: Pelanggaran HAM, seluruh presiden harus bertanggung jawab

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button