Home / Sastra / Tuhan datang menyentuhku

Tuhan datang menyentuhku

Bagikan Halaman ini

Share Button

6ilustrasi katedral jakarta

Cerpen Grace Fidelia

JAKARTA, MORAL-POLITIK.COM – Lelahnya hari ini, aku malas untuk mengajar misdinar, tetapi mau tidak mau ini adalah tugasku. Wajah lelah, lesu, bimbang, penat menghampiriku. Ditambah lagi perutku berdansa sejak tadi.

Sesampai di rumah aku langsung bergegas mandi. Di kamar mandi aku menghibur diriku sendiri dengan bernyanyi, karena bernyanyi adalah hobiku. Yah walaupun suaraku tak cukup indah bila didengar. Tak diduga aku sudah bernyanyi satu album. Aku terpekik sendiri, menertawakan diriku sendiri betapa bodohnya aku di kamar mandi.

Kulihat jam dinding ternyata telah pukul setengah tujuh malam, cukup lama aku di kamar mandi. Aku berpikir ini pasti gara-gara bernyanyi  lagu rohani se-album tadi. Cepat-cepat ku bilas tubuh yang penuh dengan busa, kukeringkan tubuhku yang basah ini, dan dengan sergap aku ambil pakaian yang sudah disiapkan sejak tadi. Setelah itu aku langsung bergegas ke gereja
untuk mengajar misdinar.

Di perjalanan aku merasakan sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Ternyata
perutku mulai berdansa lagi. Aku lupa makan. Ah ini pasti gara-gara aku lama di kamar mandi. Setelah sampai di gereja kulihat kosong melompong, tak ada satu pun anak misdinar, yang ada malah sejumlah orang muda Katolik. Aku kesal makin tak karuan.

Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung keluar gerbang gereja dengan wajah muram. Aku cukup kecewa hari ini. Cepat-cepat aku menyalakan motorku. Aku mendengar salah seorang wanita memanggil ku.

“Fideeeeeeeeeeeeeelllllllllllll…” Dengan spontan ku tengokan kepala. Ternyata yang memanggil ku adalah Sarah. Iya Sarah cukup indah namanya. Sarah memang tergolong aktif di lingkungan gereja. Malah ia pernah menjabat sebagai ketua OMK .

Baca Juga :  Mas Anito Matos, Juri Timur Leste DA Asia 2 Pilihan Indonesia

Ia menghampiriku. Tanganku dipegang erat. Aku bingung apa yang harus kulakukan. Sarah menarikku dan mau tak mau aku ikuti keinginannya.

“Ka sarah ini kita mau kemana sih ?” kataku sedikit membentak. Tetapi langkahku makin cepat mengikut Sarah.

“Sudah ikut saja, tak usah bawel” Sarah menjawabku tenang  dan makin erat menggenggam jemari mungilku.

Aku menjadi bingung, kaget dan merasa aneh. Sarah memberikanku sacarik kertas kecil  yang berisi angka-angka ayat Alkitab. Aku lihat dengan jeli ayatnya. Aku malu terhadap diriku kalau aku jarang sekali untuk membaca Alkitab. Aku jarang meluangkan waktu untuk membacanya.

Sarah tanpa basa-basi menempelkan nomor urut 3 di sebelah kanan dadaku. Aku makin bingung dengan kelakuan Sarah ini. Ia hanya memberi intruksi apabila nomor urut 3 dipanggil aku harus maju ke atas mimbar dan membacakan isi Alkitab sesuai secarik kertas kecil itu.  Aku pandangi seorang perempuan yang ada di atas mimbar, aku melihat di sebelah kanan dadanya tertulis nomor urut 2. Dengan spontan aku melihat  yang ada sebelah kanan dadaku.  Jelas aku kaget, kalau selanjutnya tentu aku yang harus menggantikan posisinya di atas mimbar setelah ini.

Aku tundukan kepala. Nomor urutku dipanggil dengan suara nyaring. Orang-orang memandangiku seolah-olah kalau aku ini pencuri. Aku lihat wajah dan sorotan sinis menerjangku.  Aku bingung apa yang harus aku lakukan, maju ke atas mimbar untuk membacanya atau segera melarikan diri.

Ini merupakan titik kegelisahanku, tak pernah aku merasakan takut sebelumnya. Dengan pelan kuucapkan dalam hati ”aku pasti bisa, aku pasti mampu”.

Dengan cuek aku naik ke atas mimbar tanpa menoleh menghiraukan siapa saja orang yang menatapku dengan sinis. Jari mungilku gemetar saat membuka Alkitab. Keringat bercucuran dari kening hingga pipi.  Aku tarik nafas dengan rileks, mencoba menenangkan hati dan pikiran dan siap untuk membacanya. Aku mulai membaca dengan lantang, tenang, dan meyakinkan. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.

Baca Juga :  Sastra: Salam 2 Priode! Jokowi adalah Anugrah untuk Indonesia [Satire]

Setelah selesai membaca, aku turun dengan lemah gemulai dan dengan sopan aku menunju tempat dudukku kembali. Aku bingung, melihat orang-orang mengelilingiku menatap dengan wajah kagum. Apa yang terjadi pikirku. Apa aku memalukan saat membaca. Aku tundukan kepalaku. Aku bergumul sendirian.

Sarah menghampiri ku dan menyodorkan tangannya “Kau hebat!!” Sarah makin aneh lagi tingkahnya. Aku dibuatnya bingung sejak tadi.

Kepalaku kini makin berat dan pegal, dan perutku masih saja belum nyaman. Rasanya aku ingin menegakan kepala ku. Saat pelan-pelan aku tegakkan kepala ini setelah sempat tertidur tadi, ternyata lomba baca kitab suci telah usai. Kini yang ada di pikiran adalah cepat-cepat meninggalkan gereja.

Aku melangkahkan kaki dengan cepat. Berharap tak ada seorangpun melihatku. Tetapi Sarah memegang pundaku.

“Mau kemana kamu?”  tanyanya dengan wajah ingin tahu.

Tak kuhiraukan pertanyaan Sarah, ku kembali melangkah. Di depan pintu gereja aku mendengar nomor urut 3 di sebut dengan nyaring pada pengeras suara. Sempat aku menoleh tapi tak aku hiraukan. Nomor urut 3 disebut kembali, makin nyaring membuat telingaku sakit. Aku mulai terganggu. Aku melihat di sebelah kanan dadaku. Ternyata itu nomor urut ku. Ah aku semacam lupa.

Aku membalikan badan untuk melihat apa yang terjadi. Kini wajah aneh tergambar di wajah orang banyak itu sorot matanya membuat ku bimbang tak karuan. Aku dipanggil untuk maju ke atas mimbar. Dengan lambat aku langkahkan kaki. Sorak dan tepuk tangan terdengar memenuhi seisi gereja. Seperti artis yang berjalan ditengah-tengah penggemarnya. Satu dua orang menyorongkan tangan menyalamiku.

“Selamat, adik pemenangnya” ucap salah satu seorang bapak dengan wajah kagum terhadapku.

Sumpah, aku kaget. Tak kusangka aku menjadi pemenangnya, menjadi juara pertama lomba baca Kitab Suci.  Antara percaya dan tidak percaya, aku kagum terhadap diriku sendiri. Aku memang jarang membuka Alkitab dan jarang pula membacanya.  Tetapi kali ini aku disentuh dengan cara berbeda. Aku akan membiasakan diri membaca dan merenungkannya. Ini cara Tuhan memulihkan hidupku. Aku akan terus melanjutkan karya ditengah-tengah anak-anak misdinar dan mengajak mereka untuk membaca Kitab Suci.

Baca Juga :  NAJWA SHIHAB: “Islam Tidak Mewajibkan Wanita Islam Berjilbab”

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button