Home / Populer / Partai NasDem dukung Demokrat dan Golkar masuk Pemerintahan Jokowi-JK

Partai NasDem dukung Demokrat dan Golkar masuk Pemerintahan Jokowi-JK

Bagikan Halaman ini

Share Button

nasdamFoto : Patrice Rio Capella (kiri)

 

 

 

MORAL-POLITIK.com. Kabar merapatnya Partai Golkar dan Demokrat ke kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla terus bergulir. Meskipun kedua partai tersebut masih terikat dalam koalisi permanen pendukung Prabowo-Hatta.

Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella ikut menanggapi kabar tersebut. Menurut Patrice wajar adanya dinamika politik di dalam kedua partai tersebut.

“Bagaimanapun Golkar ini sepanjang sejarah mereka selalu menjadi partai berkuasa atau mendukung kekuasaan. Sejak pemilu 1971 sampai orde reformasi,” tutur Patrice ketika dikonfirmasi, Jumat (18/7/2014).

Patrice mengatakan hal aneh bila Golkar keluar dari kaidah yang dianutnya. Pasalnya, sejak awal Golkar dibentuk untuk mendukung pemerintahan berjalan dengan baik.

“Mereka tidak dibentuk untuk berhadap-hadapan dengan pemerintahan,” katanya.

Sementara Demokrat didirikan tahun 2004 langsung menjadi partai pemerintah. Di mana, Susilo Bambang Yudhoyono terpilih menjadi presiden pada Pemilu 2004.

“Pemilu 2009 juga berhasil menjadi presiden. Dua kali pemilu mereka ada dalam kekuasaan. Dua pengalaman partai ini tentu berbeda dengan partai lain,” ujar Patrice.

Patrice mengatakan dua partai tersebut memang didirikan untuk membentuk pemerintahan yang efektif. Apalagi kader Golkar dan Demokrat banyak berpengalaman menjalankan pemerintahan.

“Dilihat dari anatomi itu NasDem tidak masalah,” katanya.

Patrice mengingatkan Indonesia merupakan negara besar sehingga memiliki banyak persoalan. Dari fakta tersebut, diperlukan kekuatan politik lainnya untuk menyelesaikan persoalan bangsa.

“Demokrat dan Golkar punya pengalaman yang dibutuhkan kabinet yang akan datang. Banyak manfaat daripada mudharat,” ujarnya.

Lalu bagaimana sikap Demokrat dan Golkar yang sebelumnya membela Prabowo-Hatta bila kini merapat ke Jokowi-JK?

“Kenapa harus kita ada-adakan. Kalau semua dukung Jokowi tidak usah ada pemilu. Setelah pertandingan selesai apa kita harus berlawanan terus? Hari ini kita berhadapan dengan Demokrat dan Golkar apakah pemilu nanti juga belum tentu begitu. Bisa saja berbeda. 2019 beda lagi,” tutur Patrice. (erny)

Baca Juga :  PPMN Latih 32 Jurnalis Investigasi, Termasuk "Moral-politik.com"

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button