Home / Populer / Inilah Gaya Saksi Novela hadapi Hakim Arief di Sidang MK

Inilah Gaya Saksi Novela hadapi Hakim Arief di Sidang MK

Bagikan Halaman ini

Share Button

nowela2                                                                                                         Foto : Novela Nawipa (berdiri)

MORAL-POLITIK.com- Novela Nawipa sama sekali tidak memiliki rasa cangggung saat memberikan kesaksian di Mahkamah Konstitusi.

Saksi pasangan calon presiden, Prabowo-Hatta, itu diminta keterangannya dalam sidang lanjutan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) presiden dan wakil presiden 2014. Novela adalah saksi mandat tingkat TPS Kampung Rawa Putu dari kabupaten Paniai.

Berbeda dengan saksi-saksi sebelumnya, Novela memberikan jawaban yang luas dan tidak bertele-tele.

“Tidak ada (pemungutan suara). Bagaimana pemungutan suara mau ada kalau bilik suara dan sebagainya tidak ada? aktivitasnya (pemilu) tidak ada,” ujar Novela dengan logat Papua yang kental menjawab pertanyaan Ketua Mejelis Hakim, Hamdan Zoelva.

Ketika ditanya di tempat lain apakah ada aktivitas Pemilu yakni pemungutan suara pada 9 Juli 2014 lalu, Novela tidak mau memberikan jawaban.

“Tidak tahu, itu di tempat lain. Di tempat saya tidak ada. Saya bicara dari kampung saya Rawa Butu,” tegas Novela yang disambut tawa hadirin.

Melansir tribunnews.com, Novela menerangkan bahwa pada hari pemungutan suara, tidak ada TPS atau pun petugas di kampungnya. Novela mengaku tidak tahu menahu mengapa itu bisa terjadi.

Ketika anggota majelis Patrialis Akbar bertanya bagaimana suasana masyarakat di kampung pada hari pemungutan suara, Novela kembali membuat membuat jawaban tidak terduga.

“Ya ada masyarakat. Jangan tanya saya pak. Saya juga masyarakat Pak. Tanya penyelenggara Pemilu pak yang harus sosialisasi pak. Bukan kami,” jawab Novela.

Dijawab seperti itu, Patrialis mengaku senang. Menurutnya sangat jarang saksi yang hadir di MK dengan gaya penuturan seperti Novela.

Entah karena terlalu bersemangat menjawab pertanyaan hakim Arief Hidayat, Novela pun sempat ‘slip tongue’. Waktu itu Patrialis bertanya jarak rumah kampung ke distrik.

Baca Juga :  "Dunia Hitam" Mahasiswi Jogja

Novela langsung menjawab jaraknya tidak jauh dan hanya 300 kilometer. Menyadari kekeliruannya, Novela kemudian meminta maaf.

“Minta maaf, manusia bukan Tuhan. (Jaraknya) 300 meter. Namanya manusia Pak pasti punya salah,” kata dia.

Hakim Arief kembali bertanya apakah ada aktivitas lain yang dia lihat di sekitar kampungnya. Karena Novela tidak mau menjawab situasi di tempat lain, Arief mengaku bisa kacau karenanya.

“Bapak kacau saya lebih kacau pak,” kata Novela. Hadirin kembali tertawa. (erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button