Home / Populer / Jodhi Yudono: Mengapa Prabowo belum ucapkan selamat?

Jodhi Yudono: Mengapa Prabowo belum ucapkan selamat?

Bagikan Halaman ini

Share Button

vsFoto : Ilustrasi

 

 

Catatan Kaki Jodhi Yudono

MORAL-POLITIK.com- Sampai detik ini, Prabowo belum juga memberikan ucapan selamat kepada Joko Widodo, rivalnya dalam Pemilihan Presiden 2014 yang pada 22 Juli lalu oleh KPU dinyatakan memenangi Pilpres dengan perolehan 70.997.833 suara untuk pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, sementara pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebanyak 62.576.444 suara, kemudian dikuatkan oleh putusan Mahkamah Konstitusi pada 21 Agustus yang menolak semua gugatan kubu Prabowo.

Memang, ucapan selamat bukanlah kewajiban yang bisa mendatangkan dosa atau hukuman jika tak dinyatakan. Ucapan selamat hanyalah etik dalam pergaulan masyarakat beradab, yang apabila dinyatakan akan mendatangkan simpati, sementara jika tak dinyatakan oleh seseorang terhadap rivalnya yang telah mengalahkannya bisa mendatangkan pandangan kurang simpati.

Itulah sebabnya, sudah galib seorang tokoh politik mengucapkan selamat kepada rivalnya yang telah mengunggulinya di dalam sebuah pemilihan presiden maupun kepala daerah. Seperti yang dilakukan Fauzi Bowo kepada Joko Widodo saat Pilgub DKI 2012. Seusai Fauzi Bowo memberikan ucapan selamat, Joko Widodo pun menyampaikan permintaan maaf.

“Saya juga mohon maaf sebesar-besarnya kalau saya ngerepotin selama ini, kalau ada kata yang tidak berkenan. Beliau mengiyakan, dan menitip salam untuk keluarga,” ujar Jokowi kala itu. Hmmm… elok bukan?

Hal serupa juga dilakukan oleh Susilo Bambang Yudhoyono yang mengakui kekalahan partainya dan memberikan ucapan selamat kepada PDI Perjuangan yang memenangi Pemilu 2014. Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bakti mengapresiasi sikap Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono yang telah mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada partai pemenang. Menurut Ikrar, SBY telah memberikan contoh bagaimana membangun sebuah demokrasi yang baik.

Contoh lain juga dilakukan oleh John McCain terhadap Barack Obama yang telah mengalahkan dirinya dalam Pemilihan Prersiden Amerika tahun 2008. Simaklah di antara pidato McCain yang menggetarkan itu, “Saya meminta semua rakyat Amerika … Saya meminta semua rakyat Amerika yang mendukung saya untuk bergabung dengan saya dan  tidak hanya mengucapkan selamat kepadanya, tetapi menawarkan kontribusi kepada presiden kita berikutnya. Kita akan berupaya
sungguh-sungguh untuk bersama-sama menemukan kompromi yang diperlukan guna menjembatani perbedaan-perbedaan kita dan membantu memulihkan kemakmuran kita, mempertahankan keamanan kita di dunia yang berbahaya, dan meninggalkan warisan kepada anak-anak dan cucu-cucu kita sebuah negara yang lebih baik dan lebih kuat.”

Baca Juga :  Sultan HB X Pastikan Pilkada oleh DPRD Tetap Demokratis

“I urge all Americans … I urge all Americans who supported me to join me in not just congratulating him, but offering our next president our good will and earnest effort to find ways to come together to find the necessary compromises to bridge our differences and help restore our prosperity, defend our security in a dangerous world, and leave our children and grandchildren a stronger, better country than we inherited.”

Maka kita pun memuji mereka yang dengan rendah hati mengucapkan selamat. Di mata orang banyak, mereka yang mengucapkan selamat derajatnya tidak rendah, justru dinilai memiliki kemulyaan.
***

Ah ya, kita kembali kepada tokoh kita Prabowo Subianto yang hingga detik ini belum mengucapkan selamat kepada Joko Widodo. Tentu, yang tahu alasan pastinya cuma Prabowo dan Tuhan. Selebihnya, kita hanya menduga-duga sekalian mengingatkan betapa tak eloknya seorang pemimpin yang cuma berkaca kepada dirinya sendiri saja, tanpa menghiraukan kepatutan yang berlaku di masyarakat.

Atau mungkin, alasan Prabowo belum memberikan ucapan selamat senada dengan sikap Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon yang mengaku tidak akan mengucapkan selamat. Alasannya, kekalahan yang diderita oleh kubunya atau partai koalisi yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta karena dicurangi.

“Saya rasa sih nggak ya (ucapkan selamat ke Jokowi). Enggak lah. Bagaimana mau mengucapkan? Kita sudah menjalankan pemilu dengan bersih, kami juga melihat kecurangan,” ujar Fadli Zon di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (21/8/2014).

Barangkali, karena meneladani pimpinannya itulah, sampai hari ini para pendukung Prabowo pun belum kendur dalam keyakinan bahwa Prabowo sudah didzolimi. Oleh karena itulah, para pendukungnya pun masih galak dalam mengeluarkan pernyataan melalui jejaring sosial, terutama dalam soal pembelaan terhadap pemimpinnya maupun ketika “menghajar Joko Widodo”.

Baca Juga :  31 Desember 2014 Malam di Jln. Raya El Tari, Kota Kupang

Lantaran soal ini pula, sampai-sampai Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) Jimly Asshiddiqie mengatakan, ucapan selamat dari Prabowo Subianto atas terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden RI akan dapat meredakan emosi rakyat dan membangun tradisi politik yang baik.

“Kalau misalnya sekali memberikan ucapan selamat itu dapat meredakan emosi rakyat. Ucapan selamat itu baik untuk membangun tradisi,” kata Jimly di ruang sidang DKPP di Jakarta, Jumat (22/8/2014).

Menurut dia, sebagai pemimpin, Prabowo Subianto menjadi guru bagi para pendukungnya. Sehingga dengan mengucapkan selamat dan bersikap legowo dapat memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat.

“Sadarilah pemimpin itu juga guru, digugu dan ditiru. Jadi dengan memberi maaf dan mengucapkan selamat itu punya makna serius untuk fungsi kepemimpinan dan pendidikan politik,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

***

Selamat. Ah…elok nian ucapan itu. Selamat adalah salah satu ungkapan terindah yang dipakai manusia Indonesia dalam berbahasa. Ia menjadi simbol kebaikan manusia atas manusia lainnya.

Ah, jika saja semua manusia Indonesia dan juga manusia di atas bumi senantiasa bertukar doa selamat tiap harinya, niscaya sejahteralah semesta yang kita huni. Sebab, di dalam doa selamat itu, terkandung pula pengakuan eksistensi serta penghargaan atas manusia satu terhadap manusia lainnya.

Coba kita bayangkan, andai semua manusia yang berbeda keyakinan, berbeda suku, berbeda golongan, saling bertukar doa selamat, wah…tentu bumi akan menjadi tempat yang indah, aman, damai dan sejahtera, kendati tanpa spanduk yang dipajang di sudut-sudut jalan dengan tulisan “Damai itu Indah”.

Selamat, menurut kamus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Amran Y.S. Chaniago, artinya terpelihara dari bahaya atau bencana, sejahtera tak kurang suatu apa pun; sehat walafiat. Selamat berarasal dari kata salam (bahasa Arab).

Baca Juga :  Pentas Seni Kawula Muda Kota Kupang hangatkan 'Valentine Day' 2015 (5)

Orang Jawa bilang, “Slamet!”. Orang Sumatera Utara itu bisa berucap, “Horas!” (Tapanuli), Menjuah-juah (Karo), atau Ya`ahowu (Nias). Orang Inggris bilang, “congratulation”.

Ah…, mengapa kita tidak menjalani hidup sebagai seorang kawan? Bukankah sebelumnya Prabowo dan Joko Widodo juga sudah saling mengenal dan saling berkawan? Kawan yang senantiasa membuat kita merasa bisa memetik manfaat sekaligus bermanfaat sebagai manusia. Memberi dan menerima. Seperti berbalas pantun itulah sebuah perkawanan. Seperti sebuah komposisi musik itulah persahabatan; di dalamnya ada nada, irama, dinamika dan juga warna. Seperti sebuah lukisan, di dalamnya ada garis, warna dan komposisi.

Jika dalam perjalanan ada silang sengketa, itu sudah wajar. Seperti umumnya sebuah perkawanan tentulah pernah merasai kesenangan hidup, tapi di lain waktu juga pernah juga sampai pada situasi genting, seperti yang dialami Prabowo dan Joko Widodo sepanjang Pilpres 2014 hingga detik ini.

Kawan, barangkali adalah kesimpulan dari proses pemahaman tentang ajaran etika filosofis Tat Twam Asi yang berarti “dia adalah engkau juga”. Menghargai orang lain adalah menghargai diri sendiri juga.

Mengapa tidak memberikan ucapan selamat Pak Prabowo? Jika tak ada yang dipertaruhkan sama sekali di dalamnya, termasuk harta, harga diri, dan juga kehormatan!

(erny)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button