Home / Sejarah / Sejarah terbentuknya GKPB Jemaat Denpasar (2)

Sejarah terbentuknya GKPB Jemaat Denpasar (2)

Bagikan Halaman ini

Share Button

Rumah-keluarga-Visch-di-Penyobekan
Rumah keluarga Visch di Penyobekan sesudah
kedatangannya dari Belanda bulan Juni 1953

 

MORAL-POLITIK.com, Denpasar- Demikianlah Gusti Kompyang Tabing tinggal diperantauan (Mojowarno) hingga dewasa dan mendapatkan jodohnya di Mojowarno, R Pangestu Nikodemus seorang gadis Jawa yang cukup terpandang dan dihormati. Di Gereja Jemaat Mojowarno inilah mereka diteguhkan dan diberkati pernikahannya. Dizaman revolusi Gusti Kompyang juga ikut berperang sampai di Sumatra dan Kalimantan (sehingga Gusti Kompyang juga memiliki surat keputusan sebagai Veteran RI). Anak pertamanya Gusti Putu Suwetja Sumada lahir di Mojowarno, sedang anak keduanya Gusti Made Yudhaninghari lahir di Kalimantan ketika terjadi peperangan.

Waktu itu Gusti Kompyang bersama istri yang lagi hamil tua, lari membawa Gusti Putu Suwetja yang baru berumur tiga tahun ke tempat perlindungan karena di kejar-kejar tentara NICA. Ditempat perlindungan inilah anak keduanya lahir. Namun situasi perang waktu itu dan kekurangan persediaan air sehingga anak kedua ini terserang tetanus dan meninggal, dimakamkan disana. Gusti Kompyang dan keluarga akhirnya pulang kembali ke Bali tetapi tidak langsung ke Buduk dan sempat tinggal di Blayu sebelum kembali ke Buduk. Terakhir keluarga ini tinggal menetap di Denpasar.

Tahun 1954 keluarga ini tinggal di jalan Bali Sanglah sebelumnya tinggal di daerah Balun. Rupanya latar belakang dari kehidupan yang dialami dan dilakoni oleh Gusti Kompyang Tabing seperti ini telah membuatnya memiliki karakter pribadi yang cukup keras.Di akhir tahun 1958 Pdt. K Daniel dengan keluarga pindah ke Denpasar di banjar Penyobekan, setelah lahirnya putri kelima. Karena sebagai Sekretaris Sinode GKPB beliau harus bekerja penuh waktu (full time). Waktu itu Pdt. Wayan Tamayasa sebagai Ketua Sinode (1955-1961) Gereja Kristen Protestan Bali. Dalam Sidang (Sinode) ketigabelas tahun 1959 telah diputuskan bahwa Kantor Sinode yang tadinya menumpang di rumah Pdt. K Daniel (Sekretaris) di Untal-Untal, ditetapkan di kompleks Penyobekan dan dilengkapi dengan staf pegawai dan perlengkapan lainnya. Untuk Ketua dan Sekretaris Sinode disediakan perumahan dikompleks Penyobekan ini juga.

Baca Juga :  Djoko Santoso, sosok yang tenggelam dalam kekuasaan (2)

Pada tahun 1959 dikompleks Penyobekan, di tempat yang dahulunya sebagai ruang belajar Guru Injil ini disiapkan menjadi sebuah Gereja untuk Jemaat Denpasar dengan fisik bangunan yang sangat sederhana. Sehingga di kompleks Penyobekan ini terdapat selain gereja Penyobekan (Jemaat Denpasar) juga Kantor Sinode GKPB. Pada tahun 1960 bulan Februari Pdt. K Daniel beserta keluarga pulang kembali ke Untal-Untal karena telah dilakukan perubahan pengurus. Pdt. K Daniel ditugaskan melayani di Untal-Untal, Denpasar, dan Legian. Pada tahun 1961 dalam Sinode kelimabelas di SMPK Sesetan Pdt. K Daniel terpilih lagi menjadi Sekretaris Sinode sehingga tempat tinggalnya pindah lagi ke Denpasar.

Menyimak kronologis di hlm. 63 buku ini, bahwa setelah program pendidikan SGl di “pesraman” Penyobekan periode 1953-1954 selesai. Maka tempat itu lalu digunakan untuk ruang belajar SMPK “Widhya Pura” kelas I selama satu tahun yakni pada tahun 1955. Kemudian tahun 1956 setelah itu ruang tersebut mulai digunakan untuk tempat ibadah dengan jumlah jemaat yang beberapa orang saja (jemaat inilah yang menjadi cikal bakal dari Jemaat Denpasar). Dengan mulai adanya persekutuan ibadah ini maka ditahun itu juga (1956) Pdt. Ketoet Soewetja minta kepada Pdt. Ketut Daniel agar membentuk Jemaat Denpasar.

Lalu mengapa pada tanggal 7 Juni 2008, Jemaat Kristus Kasih memperingati Hari Ulang Tahunnya ke 53 ? Peristiwa peringatan ini barulah yang pertama kali diadakan, sebelumnya belum pernah ada. Dari peristiwa tsb. dapat diartikan bahwa gereja lahir pada tanggal 7 Juni tahun 1955. Kesepakatan beberapa Majelis Jemaat ketika itu untuk menetapkan 7 Juni 1955 sebagai hari kelahiran gereja “Jemaat Denpasar” mempunyai dasar dan alasan juga.

I Gusti Putu Mas Arya Putra memiliki piagam penghargaan yang diberikan untuk ayahnya yang dikeluarkan GKPB Jema’at – Denpasar. Tertulis dalam Piagam Penghargaan itu, “diberikan kepada Kel. I Gst. Kompyang Sumada sebagai Werdatama Jemaat Denpasar, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke XXVI 1955-1981. Denpasar, 7 Juni 1981 Majelis Jema’at Denpasar ditanda tangani oleh Djito Susiloatmodjo – Sekretaris”.

Baca Juga :  'Kota Kuno Bawah Laut' Berusia 5 Juta Tahun Ini Ternyata...

Gusti Putu Mas meyakini bahwa tanggal 7 Juni itu adalah hari ulang tahun ayahnya yang lahir pada tahun 1921. Tanggal kelahiran ini diperoleh dari penjelasan ibunya R. Pangestu Nikodemus yang lahir tgl. 20 Februari 1919 dan meninggal dalam usia 70 tahun. Menurut “perkiraan” Gusti Putu Mas, bahwa hari Kamis tanggal 7 Juni 1955 itu dipilih oleh keluarga Gusti Kompyang untuk pertemuan pertama yang sekaligus pembentukan Pengurus di rumahnya jalan Bali – Sanglah tepat di momen ulang tahun ayahnya. Satu pertanyaan mengapa dalam piagam penghargaan itu ditulis “memperingati Hari Ulang Tahun ke XXVI 1955-1981”? Mana yang benar tentang tahun berdirinya Gereja Penyobekan. Apakah data surat Piagam Penghargaan yang menyebutkan tahun 1955 dengan tanggal 7 Juni seperti kejadian yang di”perkirakan” oleh Gusti Putu Mas. Ataukah data tertulis Pendeta Ketut Daniel (alm) sang pelaku sejarah, dalam buku Otobiografinya yang menyebut tahun 1956 dimulai kebaktian jemaat tanpa menyebut tanggal dan bulan dimana ruangan SGI di Penyobekan ini (“pesraman”) digunakan menjadi tempat untuk beribadah.

Belum ada Tim peneliti untuk sejarah lahirnya Gereja Penyobekan atau yang dikenal dengan nama “Jemaat Denpasar”. Oleh karenanya dalam buku “Dinamika GKPB Dalam Perjalanan Sejarah” yang diterbitkan awal Juni 2012, tentang Jemaat-Jemaat GKPB dan Tahun berdirinya (data 2010). “Jemaat Denpasar” * diberi tanda bintang yang menunjukkan belum diketahui kepastian tahun berdirinya.

Sebuah buku yang ditulis oleh Henk Visch dengan judul “Pelter – Brieven van Henk Visch en Cor Tonsbeek uit Bali, 1948 – 1971” mungkin dapat menolong menemukan kapan lahirnya Gereja Penyobekan dan perjalanan sejarah gereja “Jemaat Denpasar”. (habis)

(Sumber: GKPB Kristus Kasih Denpasar)

Komentar Anda?

Tags :

Bagikan Halaman ini

Share Button